Frans Seda Resmi Jadi Pahlawan Nasional, Aktivis Muda Katolik: Teladan Iman, Nasionalisme, dan Pengabdian bagi Bangsa

Franciscus Xaverius Seda atau yang lebih dikenal dengan Frans Seda. (Foto: Ist)
banner 468x60

JAKARTA, Radarjakarta.id – Aktivis Muda Katolik sekaligus Founder Gerakan Pemuda Peduli Masyarakat Indonesia (GPPMI), Robertus Juan Pratama, menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada Presiden Prabowo Subianto atas penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional kepada Franciscus Xaverius Seda atau yang lebih dikenal dengan Frans Seda.

Frans Seda merupakan tokoh nasional kelahiran Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang memiliki rekam jejak panjang dalam perjuangan kemerdekaan, pemerintahan, pembangunan ekonomi, pendidikan, serta pelayanan bagi Gereja Katolik dan masyarakat Indonesia.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Robertus Juan menilai penganugerahan tersebut merupakan bentuk penghormatan negara terhadap perjalanan pengabdian seorang putra daerah NTT yang telah memberikan kontribusi besar bagi bangsa Indonesia. Menurutnya, Frans Seda merupakan figur yang membuktikan bahwa latar belakang daerah dan identitas keagamaan bukanlah batas untuk mengabdi kepada kepentingan nasional.

“Saya menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Presiden Prabowo Subianto atas perhatian dan penghargaan negara kepada alm. Frans Seda melalui penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional. Ini merupakan kebanggaan besar bagi masyarakat Nusa Tenggara Timur, keluarga besar Gereja Katolik, serta seluruh rakyat Indonesia. Penghargaan ini bukan semata-mata pengakuan atas perjalanan hidup seorang tokoh, melainkan penghormatan terhadap nilai perjuangan, integritas, dan pengabdian yang telah diwariskannya kepada bangsa,” ujar Juan.

Frans Seda lahir pada 4 Oktober 1926 di Flores, Nusa Tenggara Timur. Ia merupakan seorang tokoh nasional beragama Katolik yang perjalanan hidupnya diwarnai oleh pengabdian dalam berbagai bidang, mulai dari perjuangan kemerdekaan, politik, pemerintahan, ekonomi, diplomasi, pendidikan, hingga kehidupan sosial dan Gereja.

Ia menempuh pendidikan di Kolese Xaverius Muntilan, kemudian melanjutkan pendidikan di Hollandsche Burgerschool (HBS) Surabaya, sebelum meraih gelar Sarjana Ekonomi dari Katholieke Economische Hogeschool, Tilburg, Belanda, pada 1956.

Perjalanan Frans Seda menunjukkan bahwa nasionalisme tidak hanya diwujudkan melalui perjuangan bersenjata, tetapi juga melalui kecakapan intelektual, keberanian mengambil tanggung jawab, serta kesediaan memberikan pemikiran dan tenaga bagi kemajuan negara.

Pada masa perjuangan kemerdekaan, ia tercatat bergabung dengan Laskar KRIS (Kebangkitan Rakyat Indonesia Sulawesi) dan Batalyon Paraja atau TNI Masyarakat pada periode 1945–1950. Pengalaman tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan seorang pemuda Flores yang memilih terlibat langsung dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Dalam perjalanan pemerintahan, Frans Seda dipercaya mengemban sejumlah jabatan strategis pada masa Presiden Soekarno maupun Presiden Soeharto.

Ia pernah menjabat sebagai Menteri Perkebunan, Menteri Pertanian, Menteri Keuangan, serta Menteri Perhubungan. Ketika dipercaya menjadi Menteri Keuangan pada 1966–1968, Indonesia tengah menghadapi persoalan ekonomi yang berat, termasuk inflasi yang sangat tinggi dan ketidakstabilan keuangan negara. Dalam situasi tersebut, Frans Seda turut berperan dalam upaya penataan kembali perekonomian nasional, penguatan disiplin anggaran, serta pemulihan kepercayaan internasional terhadap Indonesia.

Pengabdiannya juga terlihat ketika menjabat sebagai Menteri Perhubungan pada 1968–1973. Ia mendorong pengembangan konektivitas nasional melalui penerbangan dan pelayaran perintis, khususnya untuk membuka keterhubungan wilayah-wilayah di Indonesia bagian timur yang pada masa itu masih menghadapi keterbatasan akses transportasi.

Bagi Robertus, perhatian Frans Seda terhadap kawasan timur Indonesia merupakan salah satu warisan penting yang relevan untuk terus dilanjutkan, terutama dalam memperjuangkan pemerataan pembangunan, peningkatan konektivitas, dan kesempatan ekonomi bagi masyarakat NTT.

“Sebagai putra daerah Flores, Frans Seda memberikan pesan sejarah bahwa orang dari wilayah timur Indonesia juga memiliki kesempatan dan tanggung jawab yang sama untuk mengambil bagian dalam menentukan arah perjalanan bangsa. Ia tidak melupakan asal-usulnya ketika dipercaya menduduki jabatan nasional. Justru dari posisi strategis yang dimilikinya, ia berupaya memperjuangkan agar Indonesia bagian timur memperoleh perhatian pembangunan yang lebih besar. Inilah bentuk nasionalisme yang harus kita teladani: maju secara pribadi, tetapi tidak pernah meninggalkan kepentingan masyarakat dan daerah asal,” ungkap Robertus.

Tidak hanya bagi NTT dan Indonesia, Frans Seda juga meninggalkan warisan penting bagi Gereja Katolik. Salah satu kontribusi konkretnya adalah keterlibatannya sebagai salah satu pendiri Yayasan Atma Jaya pada 1 Juni 1960, yang kemudian melahirkan Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya di Jakarta.

Kehadiran lembaga pendidikan tersebut menjadi bagian dari upaya kaum awam Katolik untuk mengambil tanggung jawab dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, mengembangkan ilmu pengetahuan, serta mempersiapkan generasi muda agar mampu berkontribusi dalam kehidupan masyarakat.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari radarjakarta.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.