Frans Seda Resmi Jadi Pahlawan Nasional, Aktivis Muda Katolik: Teladan Iman, Nasionalisme, dan Pengabdian bagi Bangsa

Franciscus Xaverius Seda atau yang lebih dikenal dengan Frans Seda. (Foto: Ist)
banner 468x60

Bagi Juan, keterlibatan Frans Seda dalam pembangunan pendidikan Katolik memperlihatkan bahwa pelayanan Gereja tidak hanya berlangsung melalui kegiatan liturgis dan kehidupan internal umat, tetapi juga melalui karya nyata di tengah masyarakat. Pendidikan, pengembangan sumber daya manusia, pelayanan sosial, serta partisipasi dalam kehidupan berbangsa merupakan bentuk konkret pengamalan iman Katolik. Frans Seda juga dikenal aktif dalam kehidupan Gereja dan pernah mengambil peran dalam kepanitiaan kunjungan Paus Yohanes Paulus II ke Indonesia pada 1989.

“Frans Seda telah menunjukkan bahwa menjadi seorang Katolik yang baik juga berarti menjadi warga negara yang bertanggung jawab. Ia tidak membangun tembok antara iman dan nasionalisme. Nilai-nilai iman justru menjadi landasan untuk bekerja, melayani, membangun pendidikan, memperjuangkan kesejahteraan masyarakat, dan mengambil bagian dalam kehidupan berbangsa. Warisan Atma Jaya merupakan salah satu bukti bahwa pemikiran dan pengabdiannya tidak berhenti pada masa hidupnya, tetapi terus memberikan manfaat bagi generasi berikutnya,” tambahnya.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Setelah menyelesaikan tugas-tugas pemerintahan, Frans Seda tetap dipercaya mengemban tanggung jawab dalam kehidupan kenegaraan dan diplomasi. Ia pernah menjadi Duta Besar Republik Indonesia untuk Belgia, Luksemburg, dan Masyarakat Ekonomi Eropa di Brussel pada 1973–1976.

Memasuki era Reformasi, ia juga dipercaya menjadi penasihat Presiden BJ Habibie di bidang ekonomi pada 1998 dan penasihat Wakil Presiden Megawati Soekarnoputri pada 1999. Pengalaman lintas pemerintahan tersebut memperlihatkan kapasitas, konsistensi, dan kepercayaan yang diberikan kepadanya dalam perjalanan panjang sejarah Indonesia.

Pria lulusan Sarjana Hukum Universitas Trisakti ini, menilai salah satu keteladanan terbesar Frans Seda adalah kemampuannya menjaga integritas dan semangat pengabdian di tengah perubahan zaman dan dinamika politik nasional. Ia hadir dalam berbagai periode sejarah Indonesia, tetapi tetap menempatkan kepentingan bangsa sebagai orientasi utama.

Keteladanan tersebut penting di tengah tantangan kehidupan berbangsa saat ini, ketika generasi muda membutuhkan figur yang tidak hanya memiliki kecerdasan dan kemampuan berkompetisi, tetapi juga karakter, komitmen, dan keberanian untuk bekerja bagi kepentingan publik.

Lebih lanjut, Robertus mengajak generasi muda Indonesia, khususnya kaum muda Katolik dan pemuda NTT, untuk tidak hanya menjadikan Frans Seda sebagai kebanggaan sejarah, tetapi juga menjadikan nilai-nilai perjuangannya sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari.

Menurutnya, gelar Pahlawan Nasional harus menjadi momentum untuk menghidupkan kembali semangat kepahlawanan melalui tindakan nyata, bukan berhenti pada seremoni, ucapan selamat, maupun kebanggaan terhadap tokoh dari daerah sendiri.

“Generasi muda jangan hanya bangga karena Frans Seda berasal dari Flores dan beragama Katolik. Kita harus berani belajar dari cara beliau menjalani kehidupan. Belajar dengan sungguh-sungguh, membangun kapasitas diri, menjaga integritas, berani mengambil tanggung jawab, memiliki kepedulian terhadap masyarakat kecil, serta tidak kehilangan semangat nasionalisme. Jika dahulu Frans Seda berjuang melalui jalur kemerdekaan, pemerintahan, ekonomi, pendidikan, dan pelayanan Gereja, maka hari ini kita harus melanjutkan perjuangan melalui ilmu pengetahuan, inovasi, kewirausahaan, gerakan sosial, kepemimpinan yang berintegritas, dan pengabdian kepada masyarakat,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa tantangan generasi muda saat ini berbeda dengan tantangan yang dihadapi Frans Seda pada masa perjuangan dan awal pembangunan Indonesia. Namun, nilai-nilai yang diwariskannya tetap relevan. Indonesia membutuhkan generasi muda yang tidak mudah menyerah, tidak terjebak dalam kepentingan pribadi, mampu menghadapi perkembangan teknologi dan perubahan global, serta memiliki keberpihakan terhadap persoalan nyata masyarakat, termasuk kemiskinan, ketimpangan pendidikan, keterbatasan akses kesehatan, dan belum meratanya pembangunan di wilayah timur Indonesia.

“Jangan sampai generasi muda hanya mengenal Frans Seda ketika namanya dianugerahi gelar Pahlawan Nasional. Kita perlu menghadirkan kembali pemikiran, perjalanan hidup, dan karya-karyanya melalui pendidikan, literasi sejarah, diskusi publik, serta ruang-ruang pembinaan kepemudaan. Kebanggaan terhadap seorang pahlawan harus diterjemahkan menjadi kemauan untuk meneruskan nilai perjuangannya,” ujar Robertus Juan.

Juan berharap penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional kepada Frans Seda menjadi momentum untuk memperkuat semangat persatuan, nasionalisme, toleransi, dan pengabdian lintas generasi. Ia mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk menjadikan Frans Seda sebagai teladan bahwa iman dapat berjalan seiring dengan nasionalisme, identitas daerah dapat memperkaya identitas kebangsaan, dan pengabdian yang dilakukan secara konsisten dapat meninggalkan warisan yang melampaui usia manusia.

“Frans Seda boleh telah tiada, tetapi nilai perjuangan dan pengabdiannya harus tetap hidup. Sebab seorang pahlawan tidak hanya dikenang karena jabatan yang pernah diemban atau penghargaan yang diterima, melainkan karena manfaat yang terus dirasakan oleh generasi setelahnya,” tutupnya.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari radarjakarta.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.