APKEPI: Surplus Pangan Belum Menjamin Stabilitas Harga dan Keamanan Pangan Nasional

Diskusi Publik Nasional HUT ke-9 INAnews. (Foto: Ist)
banner 468x60

JAKARTA, Radarjakarta.id – Asosiasi Profesi Keamanan Pangan Indonesia (APKEPI) menyoroti sejumlah tantangan dalam penguatan ketahanan pangan nasional 2026–2027.

Meski sejumlah komoditas strategis diproyeksikan mengalami surplus, persoalan distribusi, disparitas harga, keamanan pangan, dan tata kelola rantai pasok masih membutuhkan perhatian serius.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Hal tersebut menjadi pokok bahasan dalam Diskusi Publik Nasional HUT ke-9 INAnews, Kamis (29/10/2026), di Hotel 88 Fatmawati, Jakarta Selatan.

Diskusi yang mengangkat tema “Menjaga Stabilitas dan Tata Kelola Rantai Pasok Pangan Nasional” ini didukung oleh APKEPI, Bank Banten, dan Deli Stationery.

Acara ini dihadiri sekitar 100 peserta mulai dari Kementerian Koordinator Pangan, lembaga negara, praktisi, peneliti, media, dan nahasiswa.

Hadir sebagai pembicara, Adhita Sri Prabakusuma sebagai Periset APKEPI, Drs. Sapari selaku Praktisi Obat dan Makanan dengan moderator Iradat Ismail dari Kornas Jaringan Advokasi Publik Indonesia (JAPI).

Pemimpin Redaksi INAnews, Muhamad Helmi Romdhoni dalam sambutannya mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung acara yang menjadi agenda rutin ini.

“Diskusi Publik Nasional ini merupakan yang ke-7 kami selenggarakan dengan mengangkat isu nasional, dan INAnews selalu memberikan ruang untuk mencari solusi dari permasalahan bangsa ini,” ujar Helmi.

Dalam kesempatan tersebut, Adhita Sri Prabakasuma, peneliti APKEPI, memaparkan materi bertajuk “Penguatan Ketahanan Sistem Pangan Nasional 2026–2027”.

Menurut APKEPI, ketahanan pangan tidak cukup diukur dari besarnya produksi nasional. Ketersediaan pangan harus disertai keterjangkauan harga, pemerataan distribusi, jaminan mutu dan keamanan pangan, serta keberlanjutan pasokan dari produsen hingga konsumen.

Surplus Beras dan Tantangan Stabilitas Harga

Dalam presentasinya, APKEPI memproyeksikan ketersediaan beras nasional pada 2026 mencapai 47,26 juta ton, dengan kebutuhan sebesar 31,21 juta ton. Stok akhir beras diperkirakan mencapai 16,06 juta ton, sementara surplus produksi beras tercatat sebesar 3,56 juta ton.

Namun, surplus nasional belum sepenuhnya menjamin stabilitas harga di seluruh wilayah. Materi APKEPI mencatat sebanyak 152 kabupaten/kota mengalami kenaikan Indeks Perkembangan Harga (IPH) beras hingga minggu ketiga September 2026.

Adhita menilai, keseimbangan antara produksi, distribusi, biaya logistik, dan daya beli masyarakat menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas pangan.

“Ketahanan pangan nasional tidak cukup hanya dilihat dari besarnya produksi atau surplus komoditas. Distribusi yang merata, harga terjangkau, serta mutu dan keamanan pangan harus menjadi perhatian bersama,” ujar Adhita.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari radarjakarta.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.