JAKARTA, Radarjakarta.id – Perjalanan pendidikan Kompol Dr. Ricky Neygersan Lado menjadi cerita tentang kegigihan menghadapi kegagalan. Putra seorang purnawirawan Tamtama Polri itu kini menyandang gelar Doktor Ilmu Administrasi dari Universitas Indonesia (UI) pada 2026, setelah melewati proses panjang untuk mencapai jenjang pendidikan tersebut.
Ricky Neygersan Lado, yang akrab disapa Lado, merupakan lulusan Akademi Kepolisian (Akpol) 2012. Pria kelahiran Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT), 11 September 1989, itu merupakan anak dari Aiptu (Purn) Oscar Lado dan mendiang Costantina J. Maak.
Ada cerita menarik di balik pencapaian akademiknya. Lado mengaku sejak kecil bercita-cita menjadi dokter dan ingin mengenyam pendidikan di Universitas Indonesia. Namun, jalan hidup membawanya ke profesi kepolisian, tanpa menghentikan langkahnya untuk meraih pendidikan tinggi di kampus impiannya.
Sebelum menjadi perwira Polri, Lado sempat mengalami kegagalan saat mengikuti seleksi Bintara. Alih-alih berhenti mencoba, dia kembali mengikuti seleksi Akademi Kepolisian pada 2009.
Perjuangan itu menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan hidupnya hingga akhirnya menempuh pendidikan sebagai calon perwira Polri.
Di bidang akademik, Lado menamatkan pendidikan dasar dan menengah di sejumlah sekolah di NTT, yakni TK Tunas Rimba Atambua, SDK Theresia Atambua, SMPK HTM Halilulik, dan SMAK Suria Atambua. Dia merupakan lulusan SMAK Suria pada 2008.
Setelah menyelesaikan pendidikan kepolisian, Lado melanjutkan studi di STIK-PTIK Jakarta dan merampungkan pendidikan S1 pada 2013. Berikutnya, dia mendapatkan beasiswa Mabes Polri untuk menempuh pendidikan magister di Universitas Indonesia pada 2018.
Perjalanan menuju gelar doktor ternyata juga membutuhkan kesabaran ekstra. Lado menyebut dirinya harus mengikuti seleksi masuk program doktoral UI hingga lima kali.
Upaya berulang tersebut akhirnya mengantarkannya meraih gelar Doktor Ilmu Administrasi pada 2026.
Bagi Lado, pendidikan merupakan proses yang tidak selalu mudah, tetapi memberikan hasil berharga bagi mereka yang bertahan dan terus berusaha.
“Akar pendidikan memang pahit tetapi buahnya manis,” ujar Lado dalam keterangannya, Senin (26/10/2026).
Dia juga menekankan bahwa pendidikan semestinya tidak berhenti pada pencapaian pribadi, melainkan menjadi sarana untuk membawa perubahan dan memberikan manfaat bagi orang lain.
“Pendidikan itu penting untuk mengubah dunia lebih baik lagi dan berdampak untuk sesama, karena semua yang terjadi di dunia ini karena anugrah Tuhah, termasuk dalam hidup saya hari ini,” tegasnya.











