JAKARTA, Radarjakarta.id — Film Operasi Pesta Copet tidak hanya menawarkan komedi kriminal berlatar festival musik. Karya debut penyutradaraan film panjang Edy Khemod itu juga merekam atmosfer skena musik Indonesia pada era 2020-an melalui keramaian Pestapora, gaya penonton, merchandise band, hingga dinamika kehidupan di tengah festival.
Film produksi Imajinari bersama Angin Segar dan Boss Creator tersebut resmi tayang di bioskop Indonesia sejak 27 Agustus 2026. Iqbaal Ramadhan tampil sebagai Ijal, seorang pemuda yang kehilangan pekerjaan dan menghadapi persoalan ekonomi keluarga. Bersama Adut (Kristo Immanuel), Melodi (Kawai Labiba), dan Tia (Zulfa Maharani), Ijal kemudian terlibat dalam rencana pencopetan di tengah kerumunan festival musik.
Namun, aksi kriminal dalam film tersebut tidak semata-mata ditempatkan sebagai hiburan. Cerita juga mengangkat tekanan ekonomi dan pilihan sulit yang dihadapi para karakter. Latar persoalan itu menjadi bagian dari konflik fiksi, bukan pembenaran terhadap tindakan pencopetan di kehidupan nyata.
Yang membuat Operasi Pesta Copet menarik adalah keputusan produksi untuk mengambil sejumlah gambar langsung di tengah penyelenggaraan Pestapora 2025. Sekitar 30 ribu penonton berada di lokasi ketika proses pengambilan gambar berlangsung. Kru harus bekerja bersama ekosistem festival, termasuk penonton, petugas keamanan, kru konser, dan musisi yang tampil.
Untuk kebutuhan adegan tertentu, produksi juga melibatkan sekitar 500 pemeran tambahan dan membangun sejumlah panggung khusus. Kondisi tersebut membuat proses syuting memiliki tantangan tersendiri karena suasana festival yang berlangsung secara nyata tidak dapat begitu saja diulang seperti pengambilan gambar di set biasa.
Pengalaman Edy Khemod sebagai drummer Seringai turut memengaruhi pendekatan film. Ide cerita disebut berangkat dari keresahan terhadap fenomena pencopetan yang pernah ditemui di konser musik. Dari pengalaman tersebut, gagasan berkembang menjadi cerita tentang sekelompok orang yang menjadikan keramaian festival sebagai latar operasi mereka.
Di sisi lain, sejumlah ulasan menilai kekuatan film justru terletak pada kemampuannya menangkap atmosfer festival dan kehidupan skena musik. Detail merchandise sejumlah band serta penggunaan suasana Pestapora membuat film ini tidak hanya berfungsi sebagai cerita komedi kriminal, tetapi juga berpotensi menjadi dokumentasi visual mengenai gaya hidup penonton musik Indonesia pada pertengahan dekade 2020-an.
Meski demikian, respons kritikus tidak sepenuhnya seragam. Beberapa ulasan mengapresiasi atmosfer festival, komedi, dan hubungan antarkarakter, sementara ulasan lain menilai unsur aksi pencopetan atau ketegangan ala film heist belum selalu menjadi kekuatan utama. Perbedaan penilaian tersebut menunjukkan bahwa film ini dapat dibaca dari lebih dari satu sisi.
Pada akhirnya, Operasi Pesta Copet menghadirkan dua lapisan cerita sekaligus: kisah fiksi mengenai empat sahabat yang menghadapi tekanan hidup dan terlibat dalam tindakan kriminal, serta potret visual mengenai kultur festival musik Indonesia. Di balik keramaian, musik, pakaian, dan ribuan penonton, film ini meninggalkan rekaman tentang bagaimana sebuah festival musik pernah menjadi bagian dari kehidupan generasi pada zamannya.***











