Australia Desak Laos Beri Hukuman Berat Kasus Metanol

banner 468x60

INTERNASIONAL, Radarjakarta.id  – Pemerintah Australia melontarkan protes keras kepada Laos setelah muncul informasi bahwa para pihak yang diduga bertanggung jawab dalam tragedi keracunan metanol yang menewaskan enam wisatawan asing, termasuk dua warga Australia, hanya akan menghadapi dakwaan dengan ancaman hukuman maksimal satu tahun penjara dan denda sekitar A$1.600.

Menteri Luar Negeri Australia, Penny Wong, menyatakan pemerintahnya “sangat frustrasi dan sangat kecewa” terhadap penanganan hukum oleh otoritas Laos. Canberra bahkan memanggil Duta Besar Laos untuk Australia guna menyampaikan protes resmi atas perkembangan kasus tersebut.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

“Kami telah berulang kali menegaskan bahwa dakwaan harus mencerminkan beratnya tragedi ini,” tegas Wong dalam pernyataan resminya.

Tragedi yang Menggemparkan Dunia

Kasus ini bermula pada November 2024 ketika enam wisatawan asing meninggal dunia setelah mengonsumsi minuman gratis di Nana Backpacker Hostel, kawasan wisata populer Vang Vieng, Laos.

Korban terdiri atas:

– Dua warga Australia, Bianca Jones (19) dan Holly Morton-Bowles (19).

– Seorang warga Inggris.

– Seorang warga Amerika Serikat.

– Dua warga Denmark.

Hasil penyelidikan menunjukkan minuman tersebut diduga mengandung metanol, zat kimia beracun yang biasa digunakan sebagai pelarut industri dan dapat menyebabkan kebutaan, kerusakan organ, hingga kematian apabila dikonsumsi.

Australia Nilai Hukuman Tak Seimbang

Media Australia melaporkan Kementerian Luar Negeri Laos telah mengirim surat kepada keluarga korban yang mengindikasikan dakwaan paling berat terhadap para tersangka hanya berupa pelanggaran dengan ancaman hukuman maksimal satu tahun penjara serta denda.

Informasi tersebut memicu kemarahan keluarga korban.

Ayah Bianca Jones, Mark Jones, menyebut hukuman tersebut sebagai bentuk ketidakadilan.

“Mengatakan kami marah saja masih sangat kurang. Nyawa putri saya dan lima korban lainnya seolah hanya dihargai kurang dari satu tahun penjara,” ujarnya kepada ABC Australia.

Sementara ayah Holly Morton-Bowles, Shaun Bowles, mengaku sulit memahami bagaimana tragedi sebesar itu hanya berujung pada ancaman hukuman yang sangat ringan.

Australia Kirim Utusan Khusus

Sebagai respons, Pemerintah Australia menunjuk Pablo Kang sebagai utusan khusus untuk berkoordinasi langsung dengan pemerintah Laos dan mengeksplorasi seluruh jalur hukum yang tersedia.

Penny Wong juga memastikan isu tersebut akan dibahas secara langsung dengan Menteri Luar Negeri Laos dalam pertemuan ASEAN mendatang di Manila.

Langkah tersebut menunjukkan Australia tidak ingin kasus ini berakhir tanpa pertanggungjawaban yang dianggap setimpal.

Kritik Terhadap Sistem Hukum Laos

Sebelumnya, sepuluh orang yang terkait dengan hostel tersebut telah dijatuhi hukuman percobaan dan denda karena menghilangkan barang bukti.

Putusan itu juga menuai kritik tajam dari keluarga korban maupun organisasi perlindungan wisatawan internasional yang menilai proses hukum berjalan terlalu ringan dibanding besarnya dampak tragedi.

Pengamat hukum internasional menilai kasus ini berpotensi memengaruhi citra Laos sebagai destinasi wisata bagi backpacker apabila penyelesaiannya dianggap tidak memberikan rasa keadilan.

Pelajaran bagi Wisatawan

Kasus Vang Vieng kembali menjadi pengingat bahaya konsumsi minuman beralkohol ilegal di sejumlah destinasi wisata Asia Tenggara. Organisasi kesehatan dunia (WHO) mencatat keracunan metanol berulang kali terjadi akibat praktik pencampuran alkohol dengan bahan kimia beracun untuk menekan biaya produksi.

Pemerintah Australia, Inggris, Amerika Serikat, dan Denmark sebelumnya juga telah memperbarui peringatan perjalanan bagi warganya agar lebih berhati-hati terhadap konsumsi minuman beralkohol yang tidak jelas asal-usulnya.***

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari radarjakarta.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.