Damaskus Belum Benar-Benar Tenang

banner 468x60

DAMASKUS, Radarjakarta.id – Pagi itu, harapan dan kecemasan berjalan berdampingan di jalan-jalan Damaskus. Di satu sisi, ibu kota Suriah menyambut tamu penting, Presiden Prancis Emmanuel Macron, dalam kunjungan yang dianggap sebagai penanda terbukanya kembali pintu diplomasi Eropa. Di sisi lain, dua ledakan mengguncang pusat kota, mengingatkan dunia bahwa luka perang belum sepenuhnya sembuh.

Sedikitnya 18 orang terluka ketika dua alat peledak meledak di kawasan pusat Damaskus. Otoritas Suriah menyatakan bom tersebut sebelumnya telah ditemukan aparat keamanan dan sedang dalam proses penjinakan. Namun, ledakan tetap terjadi. Kobaran api membakar sebuah kendaraan, sementara sirene ambulans memecah kesibukan kota yang perlahan mencoba bangkit dari bayang-bayang konflik berkepanjangan.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Bagi warga Suriah, ledakan itu bukan sekadar insiden keamanan. Dentuman tersebut kembali membangkitkan kenangan panjang tentang perang saudara yang telah mengubah wajah negeri selama lebih dari satu dekade. Di tengah upaya membangun kembali rumah, sekolah, rumah sakit, dan kehidupan sosial, ancaman kekerasan masih menjadi bagian dari keseharian yang sulit dihapus.

Di saat bersamaan, Emmanuel Macron tetap melanjutkan agenda pertemuannya dengan Presiden Suriah Ahmed al-Sharaa. Kunjungan itu memiliki makna simbolis yang besar. Untuk pertama kalinya sejak pemerintahan baru terbentuk pasca-runtuhnya rezim Bashar al-Assad pada Desember 2024, seorang pemimpin Uni Eropa datang langsung ke Damaskus. Langkah tersebut dipandang sebagai sinyal bahwa Suriah mulai kembali mendapat perhatian dalam percaturan diplomasi internasional.

Macron menegaskan bahwa aksi teror tidak boleh mengalahkan harapan rakyat Suriah untuk hidup di negara yang berdaulat, aman, bersatu, dan menghormati keberagaman. Pernyataan itu mencerminkan keyakinan bahwa perdamaian bukan hanya soal menghentikan perang, melainkan juga membangun kembali kepercayaan, keamanan, dan masa depan yang lebih baik bagi jutaan warga Suriah.

Namun, jalan menuju pemulihan masih penuh tantangan. Pemerintahan baru tidak hanya menghadapi persoalan ekonomi dan rekonstruksi, tetapi juga ancaman kelompok bersenjata yang masih aktif melakukan serangan. Ledakan di Damaskus menjadi pengingat bahwa stabilitas politik harus dibarengi dengan keamanan yang nyata di lapangan.

Di kota yang pernah menjadi simbol peradaban Timur Tengah itu, kehidupan terus berjalan. Pasar tetap dibuka, kendaraan kembali memenuhi jalan, dan warga kembali menata rutinitas mereka. Di balik kepulan asap yang perlahan menghilang, Damaskus menyimpan satu harapan yang sama: bahwa suatu hari nanti, dunia akan mengenangnya bukan lagi karena ledakan, melainkan karena keberhasilannya bangkit dari konflik menuju perdamaian.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari radarjakarta.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.