Pilot Penabrak Gedung Beijing Diduga Depresi Usai Cerai, Ini Hasil Investigasi

banner 468x60

BEIJING, RadarJakarta.id – Misteri di balik insiden pesawat ringan yang menabrak CITIC Tower (China Zun), gedung tertinggi di Beijing, akhirnya mulai terungkap. Setelah hampir sepekan penyelidikan, Pemerintah Distrik Chaoyang, Beijing, menyatakan pilot berusia 66 tahun bermarga Liu diduga sengaja mengarahkan pesawat ke gedung akibat persoalan pribadi yang berkaitan dengan kondisi psikologisnya.

Temuan tersebut merupakan hasil rangkuman berbagai laporan dari Reuters, Associated Press (AP), The Wall Street Journal, ANTARA, Times of India, CNN, AFP, serta sejumlah media nasional Indonesia seperti detikcom dan Suara.com. Seluruh laporan mengarah pada kesimpulan yang sama, yakni tidak ditemukan indikasi aksi teror maupun motif politik. Otoritas menyebut insiden tersebut dipicu oleh “alasan pribadi” setelah penyidik menemukan catatan harian yang berisi keinginan pilot untuk mengakhiri hidup.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Menurut hasil investigasi, Liu diketahui telah lama mengalami insomnia dan gangguan kecemasan. Ia tinggal seorang diri di Beijing setelah bercerai. Dalam buku hariannya ditemukan sejumlah tulisan yang menggambarkan keputusasaan dan keinginan mengakhiri hidup. Pada hari kejadian, Liu menerbangkan pesawat ringan Aurora SA60L secara solo, namun kemudian menyimpang dari jalur penerbangan yang telah disetujui sebelum akhirnya kehilangan kontak dengan pengendali lalu lintas udara dan menghantam fasad kaca CITIC Tower.

Insiden yang terjadi pada 26 Juni 2026 itu menewaskan sang pilot dan menyebabkan sedikitnya 13 orang di dalam gedung mengalami luka-luka. Meski kerusakan pada gedung cukup signifikan, tidak ada korban jiwa di dalam bangunan. Penyelidikan juga mengungkap pesawat sempat melintasi wilayah udara yang sangat dibatasi di ibu kota China dan nyaris memasuki jalur pesawat komersial, sehingga memunculkan pertanyaan mengenai efektivitas sistem pengawasan ruang udara Beijing.

Peristiwa tersebut memicu evaluasi besar terhadap regulasi penerbangan umum di China, khususnya pemeriksaan kesehatan mental bagi pilot pemegang lisensi privat. Otoritas juga memperketat pengawasan penerbangan di kawasan ibu kota yang selama ini dikenal memiliki salah satu sistem pembatasan ruang udara paling ketat di dunia. Sementara itu, berbagai unggahan mengenai insiden ini sempat dibatasi di media sosial China sebelum pemerintah menyampaikan hasil penyelidikan resminya.

Kasus ini menjadi pengingat bahwa keselamatan penerbangan tidak hanya bergantung pada aspek teknis, tetapi juga kondisi psikologis personel penerbangan. Hingga kini, penyelidikan lanjutan masih dilakukan untuk mengevaluasi bagaimana pesawat dapat memasuki kawasan terbatas serta apakah diperlukan perubahan prosedur pengawasan terhadap pilot penerbangan sipil di China.***

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari radarjakarta.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.