DEPOK, RadarJakarta.id – Universitas Indonesia (UI) kembali menunjukkan komitmennya dalam mendorong kolaborasi global menghadapi perubahan iklim melalui penyelenggaraan International Youth Climate Forum (IYCF) 2026. Forum internasional ini mempertemukan pemuda, akademisi, dan praktisi dari berbagai negara untuk memperkuat peran generasi muda dalam menghadapi krisis iklim dan mewujudkan pembangunan berkelanjutan.
Tercatat lebih dari 170 peserta internasional mengikuti kegiatan ini. Mereka berasal dari berbagai negara, di antaranya Pakistan, Gambia, India, Myanmar, Iran, Sierra Leone, Nigeria, Sri Lanka, Sudan, Bangladesh, Afghanistan, Aljazair, dan Tanzania.
Diselenggarakan oleh CARAKA Youth Initiatives (CYI) Universitas Indonesia, IYCF 2026 mengusung tema “Empowering Generations, Preserving the Future”. Program ini mendapat dukungan World Class University (WCU) Grant yang dikelola Direktorat Pengabdian Masyarakat dan Inovasi Sosial (DPIS) UI sebagai bagian dari upaya memperkuat internasionalisasi dan hilirisasi Tri Dharma Perguruan Tinggi melalui inovasi sosial berbasis bukti.
Berbeda dengan forum akademik pada umumnya, IYCF 2026 tidak hanya menghadirkan ruang diskusi dan pertukaran gagasan, tetapi juga menghubungkan pengetahuan dengan praktik lapangan melalui berbagai kegiatan berbasis aksi nyata di masyarakat.
Pada pembukaan forum yang berlangsung Kamis (11/6/2026), peserta mendapatkan berbagai perspektif global mengenai isu perubahan iklim. Salah satunya disampaikan oleh Prof. Zerina Lokmic-Tomkins dari Monash University yang menyoroti pentingnya kolaborasi lintas disiplin dan peran strategis generasi muda dalam menghadapi tantangan lingkungan global.
Sementara itu, Guru Besar Teknik Lingkungan Universitas Indonesia, Prof. Dr. Firdaus Ali, yang juga merupakan Staf Khusus Gubernur DKI Jakarta, menekankan pentingnya sinergi antara kebijakan publik, inovasi lingkungan, dan partisipasi masyarakat dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan.
Ketua CARAKA Youth Initiatives Universitas Indonesia, Assoc. Prof. Dr. Hendra Kaprisma, S.Hum., mengatakan IYCF 2026 dirancang sebagai wadah pembelajaran yang menempatkan pemuda sebagai agen perubahan di tingkat global.
“Perubahan iklim merupakan tantangan multidimensional yang membutuhkan kolaborasi lintas negara, lintas budaya, dan lintas disiplin ilmu. Melalui International Youth Climate Forum, kami ingin menghadirkan pengalaman belajar yang melampaui ruang kelas sehingga peserta mampu menghubungkan teori dengan praktik dan menghasilkan dampak nyata bagi masyarakat maupun lingkungan,” ujarnya.
Penyelenggaraan IYCF 2026 juga melibatkan kolaborasi multidisiplin dari berbagai fakultas di Universitas Indonesia. Selain dipimpin oleh Assoc. Prof. Dr. Hendra Kaprisma dari Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI, kegiatan ini didukung oleh Apt. Tri Wahyuni, Ph.D. dari Fakultas Farmasi UI, Diah Kartini Lasman, M.Hum. dari Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI, serta Ns. Indah Permata Sari, M.Kep. dari Fakultas Ilmu Keperawatan UI bersama mahasiswa sarjana dan pascasarjana.
Melalui integrasi perspektif humaniora, kesehatan, dan sains, IYCF 2026 diharapkan mampu memperkuat jejaring internasional, melahirkan inovasi sosial, serta meningkatkan kesadaran kolektif tentang pentingnya gaya hidup berkelanjutan dan ketahanan masyarakat dalam menghadapi dampak perubahan iklim.
Lebih dari sekadar forum ilmiah, IYCF 2026 menjadi wujud komitmen Universitas Indonesia dalam mempersiapkan generasi muda yang memiliki kesadaran ekologis, kepemimpinan global, dan kemampuan menerjemahkan pengetahuan menjadi aksi nyata demi masa depan yang lebih berkelanjutan.











