TANGERANG, Radarjakarta.id – Tangis keluarga pecah di Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Minggu (25/5/2026), saat sembilan relawan kemanusiaan Indonesia akhirnya kembali ke Tanah Air setelah sempat ditahan dan disebut mengalami kekerasan oleh tentara Israel dalam misi Global Sumud Flotilla 2.0 menuju Gaza. Momentum kepulangan mereka langsung menjadi sorotan besar di media sosial (medsos).
Ratusan simpatisan, aktivis kemanusiaan, hingga keluarga korban memadati area kedatangan sejak siang. Poster bertuliskan “Selamat Datang Pejuang Kemanusiaan” dan “Abi Pahlawanku” terlihat memenuhi terminal, menciptakan suasana emosional yang viral di media sosial.
Menteri Luar Negeri RI Sugiono turun langsung menyambut kepulangan para relawan bersama Duta Besar Palestina untuk Indonesia. Pemerintah Indonesia juga melontarkan kecaman keras terhadap tindakan Israel yang dianggap melanggar hukum internasional karena mencegat kapal sipil pembawa bantuan kemanusiaan menuju Gaza.
Kesaksian para relawan membuat publik makin geger. Salah satu relawan mengungkap kapal mereka dihadang speedboat bersenjata, lalu diintersep dan dirusak sebelum para awak ditahan. Beberapa WNI mengaku mengalami tindakan kekerasan selama penahanan, mulai dari dipukul, ditendang hingga disetrum.
Di medsos, potongan video kepulangan para relawan langsung dibanjiri jutaan tayangan dan komentar dukungan. Narasi “Pejuang Palestina Pulang” hingga “Relawan Indonesia Disiksa Israel” mendominasi lini masa dan memicu gelombang solidaritas baru untuk Gaza.
Sembilan relawan Indonesia itu sebelumnya tergabung dalam misi internasional Global Sumud Flotilla yang membawa bantuan kemanusiaan ke Gaza melalui jalur laut. Mereka dicegat militer Israel pada 19 Mei 2026 sebelum akhirnya dibebaskan dan dipulangkan melalui Turki menuju Jakarta.
Kepulangan mereka kini bukan sekadar cerita penyelamatan WNI, tetapi telah berubah menjadi simbol solidaritas Indonesia terhadap Palestina yang mengguncang jagat media sosial nasional.|Bemby**











