Haidar Alwi: Hubungan Presiden Prabowo dan Kapolri Adalah Kekuatan Strategis Negara

R. Haidar Alwi, pendiri Haidar Alwi Care dan Haidar Alwi Institute,
banner 468x60

JAKARTA, Radarjakarta.id – Presiden Prabowo Subianto memanggil Jenderal Pol. Listyo Sigit Prabowo ke kediaman Presiden di Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, pada Jumat (24/4/2026). Pertemuan yang berlangsung sekitar satu jam secara empat mata itu membahas keamanan nasional, kondisi umum situasi nasional di berbagai sektor strategis, serta laporan mengenai program-program strategis Polri.

Dalam kesempatan tersebut, Kapolri menyampaikan perkembangan transformasi digital layanan publik, peningkatan profesionalisme anggota sejak proses rekrutmen hingga kedinasan, penguatan keamanan dan ketertiban masyarakat secara berkelanjutan, serta sinergi Polri dengan berbagai lembaga dalam mendukung sektor pertanian, pangan, makanan bergizi, penanganan bencana, dan peningkatan pelayanan kepada masyarakat.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Pertemuan ini menegaskan bahwa stabilitas nasional dan reformasi institusi keamanan berada dalam perhatian langsung Presiden, sekaligus menunjukkan bahwa negara memilih bekerja melalui koordinasi nyata, bukan sekadar retorika.

Di tengah ruang publik yang sering terjebak pada prasangka, hubungan Presiden dan Kapolri kerap dibaca sebatas simbol politik. Pandangan seperti itu terlalu sempit untuk memahami cara negara bergerak. Dalam pemerintahan modern, koordinasi antara kepala negara dan pimpinan institusi keamanan adalah jalur strategis yang menentukan kecepatan respons, ketepatan kebijakan, dan kemampuan negara menjaga rakyat di tengah tantangan yang terus berubah.

Menurut Ir. R. Haidar Alwi, MT – Presiden Haidar Alwi Care Dan Haidar Alwi Institute, Serta Dewan Pembina Ikatan Alumni ITB, masyarakat perlu menilai hubungan tersebut dari hasil yang lahir sesudahnya: apakah rakyat semakin aman, pelayanan semakin baik, dan kepercayaan publik semakin kuat.

“Hubungan antar pemimpin negara tidak boleh diukur dari seberapa sering mereka bertemu, tetapi dari seberapa besar ketenangan yang dirasakan rakyat setelah pertemuan itu. Jika koordinasi melahirkan perlindungan, keputusan yang cepat, dan pelayanan yang membaik, maka di situlah kekuasaan menemukan kehormatannya. Negara besar bukan negara yang paling ramai bicara, melainkan negara yang paling mampu bekerja,” tegas Haidar Alwi.

Dari perspektif itulah, hubungan Presiden Prabowo dan Kapolri Listyo Sigit harus dipahami sebagai kekuatan strategis negara, yakni sinergi kepemimpinan yang menjaga fondasi stabilitas agar pembangunan nasional berjalan kokoh dan berkelanjutan.

Presiden Prabowo dan Kapolri Listyo Sigit Menjaga Fondasi Stabilitas Nasional

Tidak ada pembangunan tanpa keamanan. Tidak ada investasi tanpa kepastian hukum. Tidak ada distribusi pangan yang lancar tanpa ketertiban. Tidak ada rasa percaya masyarakat tanpa hadirnya negara. Karena itu, hubungan Presiden dan Kapolri bukan unsur pelengkap pemerintahan, melainkan salah satu poros utama yang menentukan apakah Indonesia bergerak maju dengan tertib atau tertahan oleh kekacauan.

Presiden Prabowo membutuhkan institusi keamanan yang modern, disiplin, dan adaptif agar agenda nasional berjalan efektif. Kapolri Listyo Sigit membutuhkan arah kebijakan nasional yang jelas agar transformasi Polri selaras dengan kebutuhan zaman.

Ketika visi kepemimpinan dan kesiapan institusi bertemu, lahirlah apa yang dapat disebut sebagai sinergi strategis kenegaraan, yaitu keadaan ketika koordinasi antar pemimpin menghasilkan manfaat langsung bagi rakyat.

Laporan Kapolri mengenai transformasi digital layanan publik menunjukkan bahwa Polri sedang menyesuaikan diri dengan tuntutan masyarakat modern. Layanan kepolisian yang semakin cepat, transparan, dan efisien menjadi kebutuhan mendesak di era digital. Masyarakat tidak boleh terus dibebani prosedur berbelit dan ketidakpastian pelayanan. Negara yang menghargai rakyat akan memperbaiki sistemnya.

Peningkatan profesionalisme anggota sejak rekrutmen hingga kedinasan juga merupakan langkah fundamental. Reformasi yang serius selalu dimulai dari hulu. Rekrutmen yang bersih, pendidikan yang kuat, pembinaan yang konsisten, dan disiplin yang tegas akan menentukan wajah institusi pada masa depan. Aparat yang berkualitas adalah modal bangsa, bukan sekadar kebutuhan organisasi.

Penguatan keamanan dan ketertiban masyarakat secara berkelanjutan memperlihatkan bahwa Polri tidak boleh hanya datang setelah masalah meledak. Negara harus mampu membaca risiko lebih awal, mencegah gangguan sebelum membesar, dan menjaga ruang hidup masyarakat tetap tenang. Dalam ancaman siber, hoaks, penipuan digital, serta potensi gejolak sosial, kecepatan membaca ancaman sama pentingnya dengan kemampuan bertindak.

“Stabilitas bukan hadiah yang datang sendiri. Stabilitas lahir dari visi yang jelas, institusi yang disiplin, dan keberanian mengambil keputusan sebelum keadaan memburuk. Pemimpin yang menjaga stabilitas sesungguhnya sedang menjaga harapan jutaan rakyat yang ingin bekerja, berusaha, dan hidup tenang,” jelas Haidar Alwi.

Jika stabilitas adalah fondasi, maka demokrasi membutuhkan unsur lain yang tak kalah penting, yaitu kritik. Namun kritik hanya bernilai bila diarahkan untuk memperbaiki negara, bukan sekadar memelihara kebencian.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari radarjakarta.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.