Haidar Alwi: 219,74 Juta Jiwa Terselamatkan, Keberhasilan Polri Berantas Narkoba Tak Bisa Diukur Rupiah

Haidar Alwi
banner 468x60

JAKARTA, Radarjakarta.id – Keberhasilan Polri dalam mengungkap jaringan narkoba sejak kepemimpinan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo bukan sekadar soal jumlah penangkapan, banyaknya tersangka, atau besarnya barang bukti yang disita.

Di balik setiap operasi yang berhasil, ada masa depan generasi muda yang terselamatkan, ada keluarga yang terhindar dari kehancuran, dan ada ketahanan sosial bangsa yang tetap terjaga dari ancaman senyap dengan daya rusak luar biasa. Karena itu, pemberantasan narkoba harus dipahami sebagai kerja strategis Polri dalam menjaga keberlanjutan Indonesia.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Ancaman narkoba saat ini jauh lebih kompleks dibanding masa lalu. Jaringan kejahatan bergerak lintas daerah, lintas provinsi, hingga lintas negara. Mereka memanfaatkan jalur laut, pelabuhan, jasa ekspedisi, transaksi digital, hingga laboratorium tersembunyi.

Dalam situasi seperti ini, keberhasilan pengungkapan kasus narkoba bukan hanya ukuran penegakan hukum, tetapi juga cerminan kemampuan negara membaca ancaman dan bertindak cepat sebelum kerusakan meluas ke tengah masyarakat.

Ir. R. Haidar Alwi, MT – Presiden Haidar Alwi Care Dan Haidar Alwi Institute, Serta Dewan Pembina Ikatan Alumni ITB, menegaskan bahwa capaian Polri dalam pemberantasan narkoba harus dimaknai lebih luas daripada sekadar keberhasilan operasional. Yang sesungguhnya dipertaruhkan adalah kualitas manusia Indonesia di masa depan.

“Pemberantasan narkoba adalah perlindungan terhadap masa depan. Negara yang mampu menggagalkan peredaran narkotika sebelum masuk ke masyarakat bukan hanya sedang menegakkan hukum, tetapi sedang memastikan bangsa ini tidak kehilangan generasi terbaiknya,” tegas Haidar Alwi.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa ukuran keberhasilan Polri tidak cukup dilihat dari banyaknya tersangka yang ditangkap. Ukuran sesungguhnya terletak pada seberapa besar kerusakan sosial yang berhasil dicegah. Dalam kerangka itu, data tahunan pengungkapan narkoba harus dibaca sebagai indikator bahwa negara sedang menahan ancaman besar sebelum berubah menjadi bencana nasional.

Skala Pengungkapan yang Menunjukkan Polri Sedang Menahan Bencana

Sejak dilantik pada 27 Januari 2021, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo memimpin institusi yang terus memperlihatkan penguatan dalam pemberantasan narkoba. Pada 2021, Polri mengungkap 19.229 kasus, mengamankan 24.878 tersangka, menyita sabu 7.696 kilogram, ganja 2.100 kilogram, heroin 7,3 kilogram, tembakau gorila 34,3 kilogram, dan 239.277 butir ekstasi. Nilai barang bukti saat itu diperkirakan mencapai Rp11,66 triliun, dengan klaim penyelamatan sekitar 39,24 juta jiwa dari ancaman narkoba.

Pada 2022, Polri menyelesaikan 33.169 perkara narkoba dengan nilai barang bukti sekitar Rp11,02 triliun. Dalam paparan resmi, barang bukti yang diungkap mencakup 78,2 ton ganja, 416.100 batang pohon ganja, 6,3 ton sabu, 55 kilogram kokain, 0,26 kilogram heroin, 27 kilogram tembakau gorila, dan 1 juta butir ekstasi. Dari pengungkapan tersebut, sekitar 104,4 juta jiwa disebut berhasil diselamatkan dari potensi penyalahgunaan narkoba.

Pada 2023, skala pengungkapan tetap besar. Polri menyebut berhasil mengungkap sekitar 39 ribu kasus narkoba, menyita barang bukti senilai Rp12,8 triliun, serta menyelamatkan 35,7 juta jiwa. Rincian yang diumumkan antara lain 7,5 ton ganja, 22.029 batang pohon ganja, 11,5 kilogram kokain, 1,5 juta butir ekstasi, 6,1 ton sabu, dan 105 kilogram tembakau gorila. Selain penindakan lapangan, Polri juga melakukan pelacakan aset hasil kejahatan narkoba dalam jumlah besar.

Pada 2024, Polri mencatat 42.824 kasus yang diungkap dan 36.174 perkara yang diselesaikan. Nilai barang bukti diperkirakan mencapai Rp8,6 triliun, dengan klaim penyelamatan 40,4 juta jiwa. Di tahun yang sama, Polri juga membongkar laboratorium narkoba terselubung di Jawa Barat, jaringan internasional Afghanistan-Aceh-Jakarta dengan 389 kilogram sabu, serta laboratorium narkoba di Bali yang menunjukkan bahwa ancaman narkoba telah bergerak dengan metode yang semakin canggih.

Pada 2025, skala pengungkapan mencapai level yang sangat besar. Polri mencatat 48.592 kasus, 64.055 orang diamankan, total barang bukti 590 ton, dengan nilai sekitar Rp41 triliun. Angka tersebut menunjukkan bahwa pemberantasan narkoba tidak berjalan stagnan, tetapi meningkat dalam daya jangkau dan kapasitas penindakan.

Sementara pada 2026 hingga April, pengungkapan masih terus berjalan melalui operasi-operasi wilayah, termasuk penyitaan 67 kilogram sabu di Merak, pengungkapan jaringan di Bali, serta penindakan di berbagai daerah lain.

“Ketika angka pengungkapan meningkat secara konsisten, itu menandakan negara tidak sedang diam. Sistem deteksi, pemetaan ancaman, dan tindakan lapangan bekerja semakin efektif. Dalam isu narkoba, keterlambatan satu langkah saja bisa berarti ribuan anak muda terseret ke jurang kerusakan,” jelas Haidar Alwi.

Pandangan tersebut memperlihatkan bahwa data tahunan bukan sekadar statistik institusional. Di balik angka-angka itu terdapat fakta bahwa polri terus menahan arus peredaran narkoba yang setiap saat berusaha menembus kehidupan masyarakat. Karena itu, pembahasan tidak cukup berhenti pada jumlah kasus, tetapi harus masuk pada nilai penyelamatan yang sesungguhnya.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari radarjakarta.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.