Washington DC, Radarjakarta.id – Presiden Donald Trump kembali menggetarkan dunia perdagangan global. Ancaman tarif terbaru AS terhadap Greenland dan sejumlah negara Eropa berpotensi menaikkan harga impor secara signifikan, melemahkan ekonomi kedua belah pihak.
Trump mengumumkan Sabtu lalu, bahwa mulai 1 Februari, AS akan mengenakan tarif 10% atas barang dari Denmark, Finlandia, Prancis, Jerman, Belanda, Norwegia, Swedia, dan Inggris. Jika kesepakatan tak tercapai hingga 1 Juni, tarif ini bisa melonjak menjadi 25%.
Langkah ekstrem ini langsung memicu pertemuan darurat para perwakilan negara Eropa pada Minggu.
Presiden Prancis Emmanuel Macron disebut meminta Uni Eropa mengaktifkan “instrumen anti-koersi” atau yang dijuluki “trade bazooka.”
Alat ini bisa membatasi akses Amerika ke pasar UE, menerapkan kontrol ekspor, dan berbagai langkah balasan lain. Namun, pakar mencatat bahwa instrumen ini awalnya dibuat untuk menghadapi rival seperti China, bukan sekutu seperti AS.
Kondisi ini menimbulkan ketidakpastian besar bagi bisnis. Beberapa analis memperkirakan tarif baru akan menurunkan produk domestik bruto (PDB) Eropa hingga seperempat persen tahun ini.
“Ketidakpastian adalah musuh pertumbuhan,” ujar Steven Durlauf, profesor kebijakan publik di University of Chicago.
Beberapa perusahaan AS bahkan sempat menunda perekrutan pada 2025 karena kebijakan tarif Trump yang berubah-ubah.
Trump tampaknya memberi celah: tarif ditujukan hanya pada delapan negara anggota, bukan seluruh UE.
Artinya, perdagangan dapat dialihkan melalui negara lain dalam blok bebas perdagangan Eropa untuk menghindari tarif. Meski begitu, ancaman ini menimbulkan risiko jangka panjang: keretakan hubungan dengan sekutu dagang utama, menurunkan kepercayaan investor, dan menghambat pembangunan pabrik baru.
Uni Eropa, di sisi lain, juga bergerak cepat. Selain “trade bazooka,” UE mempertimbangkan penerapan tarif balasan senilai €93 miliar yang sempat ditunda saat tercapai gencatan dagang dengan AS pada Juli tahun lalu.
Beberapa pemimpin Eropa, termasuk Kanselir Jerman Friedrich Merz, sebelumnya mendukung kesepakatan itu, namun aksi Trump terbaru membuat implementasi kesepakatan itu dipertanyakan.
Para pakar menekankan, strategi Trump untuk “mengakuisisi” Greenland justru bisa menjauhkan sekutu penting AS. Joseph Foudy dari NYU Stern menyebut,
“Ironisnya, kebijakan ini memperkuat musuh yang seharusnya kita waspadai. Perusahaan bisa menunda investasi karena ketidakpastian tarif.”
Di tengah ketegangan ini, mitra dagang AS lainnya bergerak memperkuat aliansi. Kanada menjalin kemitraan strategis dengan China, sementara UE menandatangani kesepakatan dengan Mercosur, menutup 25 tahun negosiasi dagang.
Ancaman Trump, jika terealisasi, bisa menjadi babak baru ketegangan dagang global, memperlemah posisi tawar AS, dan memicu gelombang ketidakpastian ekonomi dunia.***











