Haidar Alwi: Akhir Petrodolar dan Tantangan Baru bagi Purbaya di Era Prabowo

Haidar Alwi
banner 468x60

JAKARTA, Radarjakarta.id – Selama setengah abad, dunia hidup di bawah bayang sistem petrodolar, sebuah kesepakatan tak tertulis antara minyak dan uang yang menjadikan dolar Amerika sebagai darah ekonomi global.

Namun, sejak dua tahun terakhir, sistem itu mulai kehilangan denyutnya. Arab Saudi membuka transaksi minyak dalam yuan, rupee, dan emas, sementara bank sentral dunia menimbun logam mulia sebagai sandaran baru nilai tukar.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

R. Haidar Alwi, pendiri Haidar Alwi Care dan Haidar Alwi Institute, sekaligus Dewan Pembina Ikatan Alumni ITB, menilai bahwa yang sedang terjadi bukan sekadar pergeseran ekonomi, tetapi perubahan kesadaran peradaban.

“Petrodolar bukan hanya sistem transaksi energi, tapi juga simbol ketergantungan global pada ilusi nilai. Kini, ilusi itu retak, dan dunia sedang mencari makna baru dari apa yang disebut ‘kekayaan’,” ujar Haidar Alwi dalam analisa reflektifnya tentang arah ekonomi dunia tahun 2025.

Dunia Lepas dari Bayang Dolar

Kisah ini bermula pada tahun 1971 ketika Presiden Richard Nixon memutus hubungan dolar dengan emas, mengakhiri sistem Bretton Woods. Tiga tahun kemudian, Menteri Luar Negeri AS Henry Kissinger menjalin kesepakatan dengan Arab Saudi: seluruh minyak dunia dijual dalam dolar Amerika. Sebagai imbalan, Washington memberi jaminan keamanan dan akses militer. Sejak itulah lahir sistem yang dikenal sebagai petrodollar order.

Selama 50 tahun, sistem ini membuat dolar menguasai dunia tanpa harus bertumpu pada produksi. Negara-negara lain menimbun dolar untuk membeli energi, sementara Amerika mencetak uang dengan mudah tanpa kehilangan kepercayaan internasional.

Kini, keadaan berubah. Sejak 2023, Arab Saudi dan negara-negara BRICS memperluas penggunaan mata uang lokal dan mempercepat pembelian emas. Data IMF COFER mencatat, porsi dolar dalam cadangan devisa global turun dari 73 persen di awal 2000-an menjadi sekitar 57 persen pada pertengahan 2025.

Sementara World Gold Council melaporkan pembelian emas bank sentral dunia mencapai lebih dari 1.000 ton per tahun selama dua tahun terakhir, level tertinggi sejak 1967. Menurut Haidar Alwi, perubahan ini bukan sekadar angka ekonomi, melainkan tanda pergeseran kesadaran dunia.

“Ketika kepercayaan menjadi satu-satunya fondasi uang, maka saat kepercayaan itu retak, seluruh sistem akan mencari pijakan baru. Petrodolar tidak runtuh dalam satu malam, tapi kehilangan maknanya setiap kali sebuah transaksi energi tidak lagi memakai dolar,” jelas Haidar Alwi.

Indonesia di Persimpangan Global

Bagi Haidar Alwi, dunia memang berubah, tetapi bagi Indonesia perubahan ini justru membawa peluang besar. Haidar Alwi menilai Indonesia memiliki semua elemen yang dibutuhkan untuk memasuki era ekonomi baru: tanah subur, cadangan emas, dan posisi strategis di jalur perdagangan global.

“Ketika dunia beralih dari kertas ke nilai nyata, Indonesia seharusnya tampil sebagai poros baru ekonomi Asia Tenggara. Kita memiliki apa yang dunia cari: pangan, energi, dan kestabilan,” tegas Haidar Alwi.

Data Bank Indonesia menunjukkan cadangan devisa nasional pada Oktober 2025 mencapai sekitar 140 miliar dolar AS, cukup untuk menutup enam bulan impor dan pembayaran utang luar negeri. Inflasi terkendali di bawah 3,5 persen, dan nilai rupiah relatif stabil di tengah ketidakpastian global. Namun, Haidar Alwi mengingatkan bahwa angka makro tidak cukup tanpa arah moral ekonomi.

“Angka adalah hasil, bukan tujuan. Negara besar bukan yang stabil angkanya, tapi yang kuat nilainya. Kedaulatan ekonomi tidak lahir dari neraca, tapi dari kesadaran,” ungkap Haidar Alwi.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari radarjakarta.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.