Tantangan Baru bagi Purbaya di Era Prabowo
Dalam konteks nasional, Haidar Alwi menyoroti peran penting Purbaya Yudhi Sadewa dalam menjaga keseimbangan fiskal pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Haidar Alwi menyebut masa transisi global ini sebagai ujian terbesar bagi para penjaga ekonomi bangsa.
“Saya percaya Pak Purbaya memahami bahwa kekuatan ekonomi tidak hanya diukur dari angka, tapi dari arah. Di tangan beliau, keseimbangan antara keberanian politik dan disiplin fiskal akan diuji. Keberanian tanpa kebijakan berisiko menjadi gejolak, tapi kebijakan tanpa keberanian hanya melahirkan stagnasi,” ujar Haidar Alwi.
Menurutnya, kebijakan Presiden Prabowo memperkuat fondasi ekonomi nasional, mulai dari hilirisasi sumber daya, kemandirian pangan, hingga pertahanan, adalah langkah sejarah. Namun langkah besar itu harus dijaga dengan keseimbangan fiskal dan strategi yang jernih.
“Pak Prabowo membawa energi perubahan, dan Pak Purbaya membawa nalar keseimbangan. Jika keduanya bersatu dalam visi yang sama, maka Indonesia bukan hanya selamat dari badai global, tetapi justru memimpin arah ekonomi dunia baru,” ujar Haidar Alwi.
Dari Uang Kertas ke Nilai Nyata
Haidar Alwi menegaskan bahwa masa depan ekonomi dunia bukan lagi soal mencetak uang, tetapi tentang menciptakan nilai. Haidar Alwi mengingatkan bahwa bangsa yang menggantungkan kekayaannya pada angka akan kehilangan arah ketika sistem bergeser.
“Bangsa yang sibuk menghitung tidak akan sempat menanam. Tapi bangsa yang berani menanam nilai akan memanen masa depan,” tutur Haidar Alwi.
Haidar Alwi menekankan pentingnya membangun ekonomi berbasis produksi rakyat, menguatkan sektor pertanian, memperluas kepemilikan emas nasional, dan mengembangkan industri energi bersih. Bagi Haidar Alwi, inilah cara untuk mengubah kemandirian ekonomi dari slogan menjadi kenyataan.
“Bangsa ini telah diberi karunia yang tidak terhitung, tanah yang kaya, laut yang luas, dan manusia yang tangguh. Kini saatnya kekayaan itu tidak hanya ditambang, tapi dimaknai,” jelas Haidar Alwi.
Kesadaran Baru di Tengah Runtuhnya Sistem Lama
Haidar Alwi menutup pandangannya dengan pesan yang tenang namun menggugah kesadaran bangsa. Menurutnya, Petrodolar memang telah kehilangan kekuasaannya, tapi kesadaran bangsa jangan ikut padam. Dunia kehilangan sistem lamanya, namun Indonesia tidak boleh kehilangan jiwanya.
“Selama rakyat negeri ini masih memiliki tanah untuk ditanami, laut untuk dilayari, dan keyakinan untuk bekerja, maka tidak ada kekuatan ekonomi global yang mampu menjatuhkan rupiah. Karena nilai sejati ekonomi bukan pada uang, tapi pada kesadaran,” pungkas Haidar Alwi.|Bemby











