Dr. Ida A. Jaya Ihsan: Pemberdayaan Ekonomi Lansia adalah Pilar Ketahanan Sosial dan Keluarga

banner 468x60

RADAR JAKARTA | Jakarta – Di tengah dinamika pertumbuhan penduduk lanjut usia di Indonesia, Dr. Ida A. Jaya Ihsan, SE., MM., pakar ekonomi dan aktivis sosial, menegaskan bahwa pemberdayaan ekonomi lansia bukan hanya isu kesejahteraan, tetapi bagian dari strategi pembangunan berkelanjutan.

Menurutnya, lansia memiliki potensi yang belum sepenuhnya dimanfaatkan. “Banyak dari mereka masih sehat, aktif, dan memiliki keterampilan luar biasa. Namun, belum tersedia sistem yang secara serius mengakomodasi peran mereka dalam kegiatan ekonomi. Kita perlu ubah cara pandang,” ujar Dr. Ida dalam sebuah forum diskusi bertema Lansia Mandiri, Keluarga Sejahtera, yang digelar di Jakarta, Minggu yang lalu (1/6/2025).

Dr. Ida menekankan bahwa lansia seharusnya tidak dipandang sebagai beban negara atau keluarga. “Mereka adalah sumber daya insani yang penuh pengalaman dan kebijaksanaan. Bila kita membuka akses terhadap pelatihan, teknologi, serta modal usaha berskala kecil, maka kita akan melihat bagaimana mereka bisa kembali berkontribusi secara produktif bagi keluarga dan masyarakat,” ucapnya.

Ia mencontohkan sejumlah lansia yang sukses menjalankan usaha rumahan seperti menjahit, membuat kerajinan, atau mengelola warung kecil. Namun, tanpa dukungan kebijakan dan fasilitasi, kegiatan ini sulit berkembang.

Dr. Ida menyarankan strategi pemberdayaan ekonomi lansia yang fokus pada tiga hal:

1). Akses terhadap modal mikro dan platform pemasaran. Lansia perlu didukung untuk dapat menjual produk secara lokal maupun digital.

2). Pelatihan keterampilan yang sesuai usia. Pelatihan harus disesuaikan dengan kondisi fisik dan minat, tidak memberatkan, dan berorientasi pada kemandirian.

3). Kolaborasi lintas generasi.

Ia mendorong terbangunnya kolaborasi antara lansia dan generasi muda dalam usaha rintisan berbasis komunitas.

“Kolaborasi lintas usia akan menciptakan ruang belajar bersama. Anak muda bisa bantu soal teknologi, sementara lansia berbagi pengalaman dan ketelatenan,” ujarnya.

Dr. Ida juga mengajak para pemangku kebijakan untuk lebih serius menyusun regulasi yang berpihak pada lansia produktif, termasuk penyediaan ruang usaha di pasar rakyat, insentif pajak bagi koperasi lansia, dan dukungan pembinaan berkelanjutan.

“Kita tidak bisa lagi membiarkan lansia hanya sebagai penerima bantuan. Memberdayakan lansia adalah menjaga kehormatan mereka sebagai manusia yang bermartabat. Ini soal keadilan sosial,” tegasnya saat dikonfitmasi hari ini, Jumat (6/6/2025).

Di akhir pernyataannya, Dr. Ida menyampaikan bahwa menuju Indonesia Emas 2045, semua kelompok usia harus diberdayakan termasuk lansia.

“Jangan tunggu sampai mereka tak mampu lagi. Saatnya kita hadirkan kebijakan yang tidak hanya peduli, tapi juga memberdayakan,” pungkasnya. | Guffe*

 

 

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari radarjakarta.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.