PSI dan PPP Berebut Jokowi, Pengamat: Bukan Levelnya!

banner 468x60

RADAR JAKARTA|Jakarta — Ke mana arah langkah politik Joko Widodo setelah lengser dari kursi RI-1? Pertanyaan ini terus menggelinding, memicu spekulasi liar di jagat politik nasional. Dua partai, PSI dan PPP, secara terbuka menggoda mantan presiden dua periode itu untuk menjadi ketua umum mereka. Tapi pengamat politik justru menilai: “Jokowi terlalu besar untuk keduanya!”

Berebut Jokowi: PSI dan PPP Pasang Badan

Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) sama-sama menunjukkan sinyal terang-terangan ingin “meminang” Jokowi. PSI bahkan menyebut nama Jokowi sebagai calon kuat pengganti Kaesang Pangarep.

“Kita doakan agar Pak Jokowi bersedia maju sebagai Ketua Umum PSI,” ujar Wakil Ketua Umum PSI, Andy Budiman, Rabu (13/5/2025).

Dari sisi lain, Ketua Mahkamah Partai PPP, Ade Irfan Pulungan, mengklaim Jokowi sangat layak menakhodai PPP menuju kebangkitan di Pemilu 2029.

“Kalau PPP dipimpin Pak Jokowi, insya Allah kami kembali ke Senayan, bahkan masuk lima besar!” tegas Irfan.

PSI: Partai ‘Mazhab Jokowi’ yang Siap Menyambut

Pengamat politik Agung Baskoro menilai, secara ideologis dan emosional, PSI jauh lebih “natural” untuk Jokowi ketimbang PPP. PSI dikenal dengan jargon “Jokowi is Me” dan disebut sebagai partai yang mewarisi gaya kepemimpinan Jokowi.

“Menjadi Ketum PSI lebih ringan, ideologinya juga selaras. Sementara PPP punya karakter Islam politik yang tak sejalan dengan Jokowi,” kata Agung, Jumat (30/5/2025).

Tapi… Jokowi Dinilai Terlalu Besar untuk Keduanya

Namun, pendapat tajam datang dari pengamat politik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Adi Prayitno. Ia menilai, baik PSI maupun PPP tidak cocok menjadi rumah politik Jokowi.

“Jokowi itu levelnya partai besar, tiga besar nasional. PSI dan PPP sama-sama tidak lolos ke parlemen, bukan tempat yang pantas untuk tokoh sekelas Jokowi,” tegas Adi.

Dengan rekam jejak sebagai mantan Wali Kota Solo, Gubernur DKI Jakarta, hingga Presiden dua periode, Adi menilai Jokowi akan lebih pas memimpin partai besar yang sudah mengakar kuat di parlemen.

Meski begitu, Adi tak menampik bahwa antara PSI dan PPP, Jokowi jauh lebih cocok ke PSI, terutama karena adanya hubungan ideologis dan kedekatan personal, termasuk dengan Kaesang Pangarep, anaknya sendiri yang kini masih menjabat sebagai Ketua Umum PSI.

“PPP tidak cocok. Banyak elit dan basis PPP yang justru selama ini kritis bahkan menolak Jokowi,” lanjut Adi.

Peta Politik Baru? Jokowi Masih Bungkam

Hingga saat ini, Jokowi belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait rencananya ke depan. Namun, fakta bahwa ia bukan lagi kader partai politik setelah diberhentikan oleh PDIP, membuat manuver politiknya dinanti-nanti publik.

Dengan aura kepemimpinan yang masih kuat dan elektabilitas yang tinggi, kemunculan Jokowi di pucuk pimpinan partai bisa mengubah peta politik nasional secara drastis.

Publik Bertanya:

Akankah Jokowi “turun kasta” memimpin partai kecil?

Ataukah ia sedang menyiapkan langkah besar: membentuk partai baru atau merebut pucuk partai besar?

Satu hal yang pasti: langkah politik Jokowi belum selesai dan Indonesia masih menantikan gebrakan selanjutnya. (*)

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari radarjakarta.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.