Jepang Terancam Gempa Dahsyat, Korban Jiwa Diperkirakan Mencapai 300.000 Orang

banner 468x60

RADAR JAKARTA|Jakarta – Jepang kembali dihadapkan pada ancaman gempa bumi dahsyat yang diprediksi bisa mengguncang negara tersebut dalam waktu dekat. Jika skenario terburuk terjadi, bukan hanya infrastruktur yang hancur, tetapi juga perekonomian yang dapat merosot drastis hingga USD 1,81 triliun atau sekitar Rp 30 kuadriliun.

Menurut laporan terbaru yang dirilis pemerintah Jepang pada Senin (31/3/2025), gempa berkekuatan besar yang diperkirakan mengguncang wilayah pesisir Pasifik dapat menyebabkan kerusakan luar biasa. Lebih dari 300.000 jiwa diperkirakan tewas akibat guncangan serta tsunami yang menyertainya. Laporan ini menjadi pembaruan pertama dalam satu dekade mengenai ancaman gempa di zona seismik aktif tersebut.

Ancaman di Palung Nankai

Gempa bumi dengan kekuatan 8 hingga 9 skala Richter berpotensi terjadi di Palung Nankai, zona dasar laut yang membentang sejauh 900 km di lepas pantai barat daya Jepang. Palung ini merupakan titik pertemuan antara Lempeng Laut Filipina dan Lempeng Eurasia, yang mengalami tekanan tektonik besar dan diperkirakan memicu gempa besar setiap 100 hingga 150 tahun sekali.

Pemerintah Jepang memperkirakan ada sekitar 80% kemungkinan terjadinya gempa bumi berkekuatan besar di wilayah ini dalam 30 tahun ke depan. Jika terjadi di malam musim dingin, bencana ini bisa menewaskan hingga 298.000 orang akibat tsunami, bangunan runtuh, dan kebakaran.

Dampak Ekonomi dan Sosial

Bencana ini tidak hanya berpotensi menghancurkan wilayah pesisir Jepang tetapi juga menimbulkan dampak ekonomi yang luar biasa. Kerugian akibat kerusakan infrastruktur dan gangguan sosial diperkirakan mencapai 270,3 triliun yen atau hampir separuh dari total Produk Domestik Bruto (PDB) Jepang. Angka ini naik 26% dari perkiraan sebelumnya sebesar 214,2 triliun yen, seiring dengan inflasi dan perkembangan teknologi pemetaan risiko bencana yang lebih canggih.

Selain korban jiwa yang tinggi, gempa ini diperkirakan akan menyebabkan 12,3 juta orang mengungsi dan melukai sekitar 950.000 orang. Tak kurang dari 2,35 juta rumah akan hancur akibat gempa dan tsunami yang terjadi.

Persiapan dan Langkah Pencegahan

Pemerintah Jepang telah meningkatkan kesiapan menghadapi gempa besar dengan memperkuat bangunan, mengembangkan sistem peringatan berbasis telepon seluler, serta membangun sistem mitigasi bencana yang lebih tangguh. Namun, ketakutan publik tetap tinggi, terutama setelah peringatan pertama dari sistem deteksi dini dikeluarkan tahun lalu akibat gempa berkekuatan 7,1 skala Richter yang mengguncang wilayah dekat Palung Nankai.

Lebih dari 20 dari 47 prefektur di Jepang, termasuk kota-kota besar seperti Tokyo dan Osaka, diperkirakan akan merasakan dampak langsung dari gempa ini. Prefektur Shizuoka disebut-sebut akan menjadi salah satu daerah yang paling terdampak, dengan kemungkinan korban tewas melebihi 100.000 orang.

Gempa dahsyat di Jepang bukanlah hal baru. Pada 2011, gempa berkekuatan 9 skala Richter yang disusul tsunami menewaskan lebih dari 15.000 orang dan menyebabkan kehancuran reaktor nuklir di Fukushima. Sejarah ini menjadi pengingat bahwa kesiapsiagaan dan mitigasi menjadi kunci utama dalam menghadapi potensi bencana serupa di masa depan.***

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60