China Kepung Taiwan: Strategi Blokade atau Ancaman Perang?

banner 468x60

RADAR JAKARTA|Beijing – Militer China kembali menggelar latihan militer besar-besaran di sekitar Taiwan, mengerahkan pasukan darat, laut, udara, serta roket untuk mengepung pulau yang memiliki pemerintahan sendiri tersebut. Beijing menyebut latihan ini sebagai peringatan keras terhadap Taiwan, yang diklaim sebagai bagian dari wilayahnya.

Dalam pernyataan resminya, Komando Teater Timur Tentara Pembebasan Rakyat China (PLA) menegaskan bahwa latihan ini bertujuan untuk menunjukkan kesiapan tempur serta sebagai langkah pencegahan terhadap upaya separatisme Taiwan. Juru bicara PLA, Kolonel Senior Shi Yi, menyatakan bahwa latihan tersebut mencakup patroli kesiapan tempur laut dan udara, perebutan keunggulan strategis, serangan terhadap target maritim dan darat, serta blokade jalur utama perairan.

Latihan Eskalatif dan Pengerahan Kapal Induk

Kementerian Pertahanan Taiwan mengonfirmasi bahwa China telah mengerahkan kapal induk Shandong beserta 19 kapal perang lainnya di sekitar wilayahnya. Rekaman yang dirilis pada 31 Maret menunjukkan kapal-kapal militer China berlayar di dekat perairan Taiwan, mempertegas ancaman yang semakin meningkat.

Sebagai respons, Taiwan mengaktifkan sistem pertahanan udara, mengerahkan pesawat tempur serta kapal perangnya sendiri untuk mengamati dan menghalau setiap pergerakan militer China. Menteri Pertahanan Taiwan, Wellington Koo, mengecam latihan ini sebagai ancaman terhadap stabilitas regional.

“Saya ingin menegaskan bahwa tindakan ini dengan jelas mencerminkan penghancuran (China) terhadap perdamaian dan stabilitas regional,” ujar Koo dalam konferensi pers.

Ketegangan yang Meningkat dan Keterlibatan AS

Taiwan, yang didukung oleh Amerika Serikat, semakin menjadi titik panas dalam dinamika geopolitik kawasan. Washington, sebagai pemasok utama persenjataan Taiwan, baru-baru ini menggelar upacara perkenalan jet tempur F-16V pertama yang akan memperkuat pertahanan udara Taiwan. Seluruh produksi pesawat ini dijadwalkan rampung pada 2026.

Beijing dengan tegas menentang hubungan militer Taiwan-AS dan memperingatkan bahwa upaya menuju kemerdekaan Taiwan berarti ‘perang’. Kantor Urusan Taiwan di China menyebut latihan ini sebagai respons langsung terhadap Presiden Taiwan Lai Ching-te, yang dikenal memiliki sikap pro-kemerdekaan.

“Lai Ching-te dengan keras kepala bersikeras pada sikap ‘kemerdekaan Taiwan’, bahkan melabeli daratan sebagai ‘kekuatan asing yang bermusuhan’. Ini adalah langkah yang tidak akan ditoleransi, dan kami akan menindak serta menghukumnya dengan tegas,” bunyi pernyataan resmi Kantor Urusan Taiwan China.

Sejarah Ketegangan dan Ancaman Blokade

China secara konsisten meningkatkan tekanan militer terhadap Taiwan dalam beberapa tahun terakhir. Pada April 2023, Beijing juga menggelar latihan serupa setelah mantan Presiden Taiwan Tsai Ing-wen bertemu dengan Ketua DPR AS Kevin McCarthy. Februari lalu, Taiwan melaporkan bahwa China menggelar latihan tempur dengan pesawat dan kapal perang sekitar 74 kilometer di lepas pantai selatan Taiwan.

Juru bicara Kantor Urusan Taiwan China, Zhu Fenglian, kembali memperingatkan bahwa kemerdekaan Taiwan hanya akan membawa konflik.

“‘Kemerdekaan Taiwan’ berarti perang, dan mengejar kemerdekaan hanya akan mendorong rakyat Taiwan ke dalam situasi berbahaya,” tegas Zhu.

Sementara itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, memperingatkan bahwa upaya separatis Taiwan tidak akan berhasil.

“Kegigihan penguasa Taiwan dalam mempertahankan sikap kemerdekaan mereka hanya akan berakhir sia-sia, seperti seekor belalang yang mencoba menghentikan kereta perang,” ujar Guo dalam pengarahan pers.

Dengan situasi yang terus memanas, dunia kini menanti bagaimana reaksi dari Taiwan dan sekutu-sekutunya, terutama Amerika Serikat, dalam menghadapi tekanan yang semakin meningkat dari Beijing.***

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60