JAKARTA, Radarjakarta.id – Koordinator Komisi Pemberantasan Korupsi Nahdlatul Ulama (KPK NU), Muhammad Sholihin, mengaku mendapat tekanan setelah memimpin aksi demonstrasi di depan Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) RI pada Jumat (25/9/2026).
Aksi tersebut digelar untuk mendesak KPK mengusut dugaan rasuah dalam Muktamar Nahdlatul Ulama (NU). Dalam aksi itu, KPK NU juga menyoroti dugaan adanya aliran uang yang disebut bersumber dari hasil korupsi di Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN).
Sholihin mengatakan, tekanan mulai diterimanya sehari setelah aksi tersebut. Ia mengaku mendapat telepon dari sejumlah pihak yang mempertanyakan gerakan KPK NU.
Menurut Sholihin, pihak-pihak tersebut menilai aksi yang dilakukannya tidak semestinya dilakukan karena Muktamar NU telah selesai. Ia juga mendapat pesan agar warga NU menerima hasil Muktamar dan tidak lagi mempersoalkannya.
“Saya telah mendapat tekanan mulai hari Sabtu, setelah aksi hari Jumat itu,” kata Sholihin dalam keterangan tertulis yang disampaikan kepada awak media.
Disebut sebagai Risiko Perjuangan
Sholihin menyebut tekanan tersebut sebagai konsekuensi dari perjuangan yang dilakukannya. Ia mengatakan, sebuah gerakan yang membawa isu besar hampir selalu menghadapi hambatan maupun tekanan.
Namun, ia mengaku ada bentuk tekanan yang menurutnya sudah masuk ke ranah di luar aksi yang dilakukan. Salah satunya menyangkut statusnya sebagai kader Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan pekerjaannya sebagai Tenaga Ahli anggota Fraksi PKB DPR RI.
“Tekanan yang saya alami saat ini ada yang out of the box. Status saya sebagai kader PKB dievaluasi dan dipertanyakan. Termasuk pekerjaan saya sebagai TA anggota FPKB DPR RI,” ujar Sholihin.
Ia menegaskan, aksi yang dilakukan bersama KPK NU tidak pernah membawa-bawa statusnya sebagai kader PKB. Menurut dia, seluruh aktivitas tersebut dilakukan dalam kapasitasnya sebagai kader NU.
Sholihin juga menyebut dirinya sebagai santri alumnus Pondok Pesantren Tambak Beras, Jombang. Latar belakang tersebut, kata dia, menjadi salah satu alasan dirinya merasa terpanggil untuk ikut mengawal persoalan yang terjadi di lingkungan NU.
“Saya sebagai kader NU merasa terpanggil untuk ikut mengawasi jalannya Muktamar. Apalagi saya adalah alumni Pondok Tambak Beras. Tentu saya sangat ingin menjaga kemuliaan NU dan pondok tinggalan Mbah Wahab Chasbullah,” katanya.











