GAZA, Radarjakarta.id – Dunia kembali dikejutkan oleh kesaksian para dokter asing yang menjadi relawan di Gaza. Mereka mengungkapkan pola penembakan yang mengerikan terhadap anak-anak Palestina oleh sniper Israel. Dugaan ini mengindikasikan adanya penargetan sistematis dan terencana pada tubuh anak-anak, tergantung hari dalam sepekan.
Nick Maynard, dokter bedah gastrointestinal asal Inggris yang bekerja di Rumah Sakit Nasser, Khan Younis, menyebut korban-korban yang dirawatnya menunjukkan pola cedera yang berulang.
“Suatu hari, semua luka tembak berada di perut. Hari berikutnya, semuanya di kepala atau leher. Lain waktu lagi, semua tembakan mengenai lengan atau kaki,” ujar Maynard kepada program Today di BBC Radio 4, dikutip dari Arab News.
Menurutnya, pusat distribusi bantuan kemanusiaan yang dikelola Yayasan Gaza kini berubah menjadi “jebakan maut”. Sebagian besar korban adalah anak laki-laki yang kelaparan dan mencoba memperoleh makanan dari titik distribusi yang dijaga militer Israel dan kontraktor swasta.
“Saya pernah mengoperasi anak usia 12 tahun. Dia meninggal di meja operasi karena luka tembak di dada,” ucapnya lirih.
Maynard bahkan menggambarkan aksi penembakan ini seperti permainan mematikan.
“Mereka seperti menentukan target: hari ini kepala, besok leher, lusa testis,” katanya.
Dokter AS: Anak-Anak Ditembak Dua Kali, Ini Bukan Salah Sasaran
Kesaksian serupa datang dari Mark Perlmutter, ahli bedah ortopedi asal AS dan Wakil Presiden International College of Surgeons. Saat menjadi sukarelawan di Rumah Sakit Eropa Khan Younis, ia mengaku melihat langsung dua anak yang ditembak dua kali oleh sniper.
“Tak ada anak yang ditembak dua kali karena kesalahan,” tegasnya dalam wawancara dengan France 24. “Saya melihat luka tembak sempurna di dada dan kepala anak yang sama. Penembak itu sangat presisi.”
Perlmutter juga menegaskan bahwa selama berada di Gaza, ia tak melihat satu pun pejuang Palestina.
“Yang saya temui hanyalah anak-anak sipil yang menjadi korban. Metadata, CT Scan, dan dokumentasi mendukung semua itu,” ujarnya.
Dalam wawancara dengan CBS News, Perlmutter menuturkan betapa mengerikannya kondisi yang ia saksikan.
“Empat puluh misi kemanusiaan saya selama 30 tahun, termasuk Ground Zero dan bencana gempa bumi, tak sebanding dengan minggu pertama saya di Gaza,” katanya.
Ia menggambarkan anak-anak yang kehilangan anggota tubuh, terbakar, tertimpa reruntuhan bangunan, atau mengalami luka akibat ledakan bom. “Saya belum pernah melihat sebanyak ini,” ucapnya.
Genosida Diam-Diam? Dunia Barat Ikut Bertanggung Jawab
Tragedi kemanusiaan ini, menurut Perlmutter, bukan semata tanggung jawab Israel.
“Negara-negara Barat, termasuk AS, ikut membayar bom yang membakar anak-anak, dan peluru yang mencabik tubuh mereka,” kata Perlmutter dengan nada penuh luka. Ia menyebut tindakan ini sebagai genosida.
Meski AS berkali-kali menyerukan gencatan senjata, bantuan militer mereka terus mengalir ke Israel sejak perang Gaza dimulai pasca-serangan Hamas pada 7 Oktober 2023.
IDF Bantah, Tapi Fakta Medis Berbicara
Militer Israel (IDF) membantah tuduhan tersebut dan menegaskan bahwa mereka “tidak pernah dan tidak akan pernah sengaja menargetkan anak-anak.” Juru bicara IDF menambahkan bahwa wilayah konflik memang memiliki “risiko yang melekat”, dan evakuasi warga sipil telah diserukan sejak awal.
Namun, kenyataan di lapangan berkata lain. PBB melaporkan lebih dari 80 persen penduduk Gaza telah mengungsi, dan sebagian besar infrastruktur sipil telah hancur. Puluhan rumah sakit kewalahan menangani ribuan korban yang sebagian besar anak-anak.
Di tengah kehancuran fisik, luka emosional turut membekas.
“Bagaimana kau bisa mengukur trauma seorang anak yang melihat keluarganya hancur di depan matanya?” tanya Perlmutter.
Di rumah sakit, para dokter bahkan menciptakan istilah baru: WCNSF (Wounded Child, No Surviving Family) Anak Terluka Tanpa Keluarga yang Tersisa.***
Sniper Israel Main Game Sadis: Anak Gaza Jadi Target Bergilir










