Modus “Telepon Hening” Mengintai, Suara Korban Bisa Dicuri dan Dipakai AI untuk Penipuan

banner 468x60

Foto Ilustrasi.

JAKARTA, Radarjakarta.id – Masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap munculnya modus kejahatan digital baru bernama “telepon hening” yang kini mulai menjadi perhatian serius. Modus ini dinilai berbahaya karena memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) untuk mencuri sampel suara korban, lalu mengubahnya menjadi suara palsu yang sangat mirip asli.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik (Diskominfotik) mengingatkan masyarakat agar tidak lengah ketika menerima panggilan dari nomor tidak dikenal, terutama jika penelepon hanya diam tanpa suara.

Dalam modus tersebut, pelaku sengaja tidak berbicara saat korban mengangkat telepon. Tujuannya agar korban lebih dulu mengucapkan kata-kata seperti “halo”, “iya”, atau menyebut nama. Rekaman suara singkat itu kemudian diduga dapat diolah menggunakan teknologi voice cloning berbasis AI untuk meniru suara korban secara identik.

Teknologi itu berpotensi disalahgunakan untuk berbagai aksi kejahatan, mulai dari penipuan keluarga, meminta transfer uang, hingga pemerasan dengan mengatasnamakan korban.

“Keheningan saat menerima telepon dari nomor asing bisa jadi bukan gangguan biasa. Pelaku memanfaatkan momen itu untuk merekam suara korban sebagai bahan kloning AI,” demikian imbauan kewaspadaan yang disampaikan pihak Diskominfotik DKI Jakarta.

Fenomena ini dinilai semakin mengkhawatirkan karena teknologi AI kini mampu meniru intonasi, gaya bicara, hingga emosi suara seseorang hanya dari rekaman berdurasi singkat. Kondisi tersebut membuat keluarga atau kerabat korban sulit membedakan mana suara asli dan mana suara hasil manipulasi digital.

Para pelaku diduga kemudian menggunakan suara tiruan itu untuk menelepon orang-orang terdekat korban dengan berbagai alasan darurat, seperti kecelakaan, pinjaman uang, hingga ancaman tertentu agar korban panik dan segera mengirimkan uang.

Modus Baru yang Dinilai Sangat Berbahaya

Kejahatan berbasis voice cloning disebut menjadi ancaman baru di era digital karena tidak lagi hanya mengandalkan pesan palsu atau akun media sosial palsu. Kini, suara manusia sendiri dapat dipakai sebagai alat manipulasi.

Masyarakat diminta tidak mudah percaya jika menerima panggilan mencurigakan yang mengatasnamakan anggota keluarga, teman, atasan, atau kerabat dekat, apalagi jika disertai permintaan mendesak terkait uang maupun data pribadi.

Jika sudah terlanjur menerima telepon mencurigakan, langkah yang disarankan adalah segera memberi tahu keluarga dan kontak terdekat agar tidak mudah percaya terhadap panggilan yang memakai suara mirip korban.

Protokol “Silent First” untuk Cegah Penipuan AI

Sebagai langkah antisipasi, masyarakat diimbau menerapkan protokol keamanan “Silent First”, yakni:

1. Jangan langsung berbicara saat menerima telepon dari nomor tidak dikenal

2. Biarkan penelepon berbicara lebih dulu

3. Hindari mengucapkan kata “iya”, “halo”, atau identitas pribadi berulang kali

4. Terapkan aturan 3–5 detik; jika tidak ada respons, segera tutup telepon dan blokir nomor tersebut

5. Gunakan aplikasi pendeteksi spam atau identifikasi nomor

6. Buat kata sandi khusus keluarga untuk verifikasi kondisi darurat

Pakar keamanan digital menilai literasi masyarakat menjadi benteng utama menghadapi kejahatan berbasis AI yang berkembang sangat cepat. Warga juga diimbau tidak sembarangan membagikan rekaman suara di ruang digital karena dapat dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan siber.

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, masyarakat kini bukan hanya harus waspada terhadap pencurian data dan akun, tetapi juga terhadap pencurian identitas suara yang dapat berubah menjadi alat penipuan dan pemerasan berbahaya.***

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari radarjakarta.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.