TASIKMALAYA, Radarjakarta.id – Suasana kawasan Alun-Alun Olahraga Dadaha, Kota Tasikmalaya, mendadak berubah mencekam setelah ledakan keras terjadi di area pedagang kaki lima (PKL) pada Sabtu (11/7) malam. Insiden yang memicu kepanikan warga itu kini menjadi perhatian serius aparat kepolisian karena diduga melibatkan seorang mantan narapidana terorisme (eks napiter).
Berdasarkan hasil penyelidikan sementara, peristiwa bermula dari cekcok antarpedagang yang dipicu perselisihan antara sejumlah PKL. Situasi yang awalnya hanya berupa adu mulut kemudian memanas hingga terdengar dentuman keras dari lokasi. Polisi segera menutup area kejadian, memasang garis polisi, serta menerjunkan Tim Gegana Brimob Polda Jawa Barat dan Densus 88 Antiteror untuk melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan sterilisasi lokasi.
Kapolres Tasikmalaya Kota AKBP Andi Purwanto menyatakan tiga orang telah diamankan untuk dimintai keterangan terkait rangkaian peristiwa tersebut. Salah satu yang diperiksa diketahui merupakan eks napiter berinisial AAS, yang diduga berada di lokasi ketika keributan terjadi. Aparat masih mendalami keterkaitan yang bersangkutan dengan sumber ledakan maupun motif di balik insiden tersebut. Hingga kini, polisi belum menetapkan kesimpulan akhir mengenai penyebab ledakan.
Dalam pengembangan penyelidikan, Densus 88 bersama tim gabungan juga menggeledah sebuah rumah kontrakan yang diduga berkaitan dengan terduga pelaku. Dari lokasi penggeledahan, petugas mengamankan sejumlah barang yang akan diperiksa lebih lanjut di laboratorium forensik. Aparat menegaskan seluruh barang bukti masih dianalisis sehingga belum dapat disimpulkan memiliki kaitan langsung dengan dugaan tindak pidana terorisme.
Meski sempat menimbulkan kepanikan di kawasan yang ramai dikunjungi masyarakat, polisi memastikan tidak ada korban jiwa maupun korban luka akibat ledakan tersebut. Aktivitas masyarakat di sekitar Dadaha kini telah kembali kondusif dengan pengamanan yang diperketat sembari menunggu hasil penyelidikan lebih lanjut.
Sejumlah media nasional, lokal, dan internasional menyoroti perkembangan kasus ini, di antaranya Detik, Radar Tasikmalaya, Fokus Jabar, Kompas, Antara, Tempo, Reuters, dan Associated Press. Namun hingga saat ini, belum ada pernyataan resmi dari kepolisian yang menyebut insiden tersebut sebagai aksi teror. Penyidik menegaskan seluruh kemungkinan masih didalami berdasarkan alat bukti, hasil laboratorium forensik, dan pemeriksaan para saksi.***











