Konflik Iran–AS Memanas, Ketegangan di Selat Hormuz Meningkat

banner 468x60

JAKARTA, Radarjakarta.id – Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali meningkat setelah insiden penembakan terhadap kapal niaga di Selat Hormuz, jalur strategis perdagangan energi dunia. Peristiwa yang terjadi pada Sabtu (18/4) tersebut memicu kekhawatiran baru terhadap stabilitas keamanan maritim dan pasokan minyak global.

Sejumlah kapal tanker dan kapal komersial dilaporkan mendapat peringatan melalui siaran radio dari Angkatan Laut Iran agar tidak melintasi selat. Dalam perkembangan selanjutnya, sedikitnya dua kapal disebut mengalami penembakan saat berada di perairan antara Pulau Qeshm dan Pulau Larak. Tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut, namun kapal-kapal terpaksa membatalkan pelayaran.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Laporan dari United Kingdom Maritime Trade Operations menyebutkan bahwa sebuah kapal tanker didekati kapal bersenjata yang diduga milik Garda Revolusi Iran sebelum terjadi penembakan. Otoritas maritim internasional mengingatkan peningkatan risiko keamanan di kawasan tersebut.

Iran sempat menyatakan penutupan penuh Selat Hormuz melalui siaran radio, namun kemudian menegaskan bahwa jalur tersebut berada di bawah pengawasan militer ketat. Pernyataan itu muncul di tengah kebuntuan negosiasi dengan Amerika Serikat terkait konflik yang masih berlangsung.

Di sisi lain, militer Amerika Serikat dilaporkan meningkatkan tekanan dengan mencegat sejumlah kapal tanker berbendera Iran di berbagai perairan Asia, termasuk di sekitar India, Malaysia, dan Sri Lanka. Langkah ini merupakan bagian dari kebijakan pembatasan terhadap aktivitas perdagangan Iran di laut.

Menurut Komando Pusat Amerika Serikat, sejak penerapan kebijakan tersebut, puluhan kapal telah diarahkan untuk berbalik atau kembali ke pelabuhan. Namun, pihak militer AS belum memberikan rincian lengkap terkait seluruh operasi yang dilakukan.

Situasi di Selat Hormuz yang selama ini dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia kini kembali menjadi sorotan. Gangguan terhadap jalur ini berpotensi memengaruhi distribusi energi global serta meningkatkan tekanan terhadap perekonomian internasional.

Pengamat menilai, eskalasi di kawasan tersebut menunjukkan meningkatnya ketegangan geopolitik yang belum menemukan titik penyelesaian. Selama belum ada kesepakatan baru antara pihak-pihak terkait, risiko terhadap stabilitas kawasan dan pasar energi dunia diperkirakan masih akan berlanjut.***

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari radarjakarta.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.