JAKARTA, Radarjakarta.id – Pendidikan masa depan tidak cukup hanya mengejar kecerdasan akademik. Pembentukan karakter, akhlak, spiritualitas, kemandirian, dan kepedulian sosial dinilai menjadi bagian penting dalam mencetak generasi yang mampu menghadapi perubahan zaman. Gagasan tersebut menjadi salah satu sorotan utama dalam Global Islamic Holistic Education Summit (GIHES) 2026.
GIHES 2026 mendapat dukungan dari Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid dan tokoh kebangsaan Din Syamsuddin. Forum internasional tersebut dijadwalkan berlangsung pada 5–6 September 2026 di Hotel Borobudur, Jakarta, dengan mempertemukan berbagai pemangku kepentingan pendidikan Islam dari Indonesia maupun mancanegara.
Hidayat Nur Wahid menilai GIHES memiliki urgensi strategis dalam mendorong lahirnya sistem pendidikan yang mampu membangun manusia secara utuh. Menurutnya, pendidikan harus mencerdaskan sekaligus membentuk karakter dan akhlak peserta didik. Ia juga menilai pengalaman panjang pesantren di Indonesia layak menjadi sumber inspirasi dalam membangun pendidikan holistik. “Kita perlu memastikan bahwa agenda GIHES ini benar-benar menjadi fondasi yang kokoh dalam membangun dunia pendidikan holistik di Indonesia, sebuah sistem yang tidak hanya mencerdaskan otak, tapi juga membentuk karakter dan akhlak,” ujarnya.
Menurut Hidayat, pesantren telah menjadi pusat pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan jauh sebelum Indonesia merdeka. Tradisi pesantren yang mengintegrasikan ilmu, agama, kedisiplinan, kemandirian, serta kehidupan sosial dinilai relevan untuk dikembangkan sesuai tuntutan era teknologi dan perubahan masyarakat. Karena itu, ia berharap GIHES tidak berhenti sebagai forum internasional, tetapi mampu menghasilkan gagasan yang memberikan kontribusi nyata bagi pendidikan nasional.
Pandangan senada disampaikan Din Syamsuddin. Ia menilai pendidikan holistik merupakan kebutuhan mendesak di tengah tantangan kehidupan modern. Pendidikan, kata Din, tidak semestinya hanya dipahami sebagai proses transfer pengetahuan, tetapi juga harus membentuk spiritualitas, moral, kemanusiaan, dan kepribadian. Ia menegaskan, Indonesia memiliki kekayaan model pendidikan sendiri melalui pesantren yang telah teruji lintas zaman.
Sementara itu, Ketua Panitia GIHES KH. Anang Rikza Mashadi mengajak para pemangku kepentingan pendidikan Islam, mulai dari akademisi, rektor, dekan, lembaga pendidikan hingga organisasi Islam, untuk berpartisipasi dalam forum tersebut. GIHES 2026 juga menjadi bagian dari rangkaian peringatan satu abad Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG).
Dengan dukungan tokoh nasional dan keterlibatan akademisi serta praktisi pendidikan, GIHES 2026 diharapkan menjadi momentum merumuskan arah pendidikan Islam yang lebih menyeluruh. Integrasi kecerdasan intelektual, karakter, akhlak, spiritualitas, dan kepedulian sosial melalui model pesantren yang adaptif diharapkan mampu menjadi salah satu rujukan dalam menghadapi tantangan pendidikan Indonesia dan dunia Islam di masa depan.|Guffe*











