CARACAS, Radarjakarta.id – Dua gempa bumi dahsyat berkekuatan magnitudo 7,1 dan 7,5 mengguncang Venezuela pada Rabu (24/6/2026) sore waktu setempat, memicu kepanikan massal di ibu kota Caracas dan sejumlah wilayah pesisir Karibia. Guncangan kuat yang terjadi hanya dalam selang kurang dari satu menit itu membuat warga berhamburan keluar gedung, sementara sejumlah bangunan dilaporkan mengalami kerusakan.
Situasi darurat tersebut langsung mendapat perhatian internasional. Pemerintah Amerika Serikat mengumumkan pengerahan bantuan kemanusiaan dan membuka jalur komunikasi intensif dengan otoritas Venezuela. Wakil Menteri Luar Negeri AS Christopher Landau menyatakan Washington terus memantau perkembangan dan siap mendukung upaya penanganan dampak bencana.
Berdasarkan data Survei Geologi Amerika Serikat (USGS), gempa pertama berkekuatan magnitudo 7,2 terjadi di sekitar Montalban dengan kedalaman 13,5 kilometer. Hanya 39 detik kemudian, gempa kedua yang lebih kuat, magnitudo 7,5, mengguncang kawasan pesisir Moron pada kedalaman sekitar 10 kilometer. Guncangan dirasakan hingga Kolombia dan beberapa negara Karibia.
Kuatnya gempa sempat memicu peringatan tsunami dari Sistem Peringatan Tsunami Amerika Serikat (NOAA) untuk wilayah Venezuela, Aruba, Bonaire, Curaçao, Puerto Riko, hingga Kepulauan Virgin. Namun setelah pemantauan gelombang laut selama beberapa jam, otoritas resmi mencabut peringatan tersebut dan memastikan tidak ditemukan indikasi terbentuknya tsunami yang membahayakan.
Meski ancaman tsunami telah berakhir, pemerintah Venezuela masih melakukan pendataan dampak kerusakan dan korban. Tim penyelamat dikerahkan ke sejumlah wilayah terdampak untuk memeriksa kondisi infrastruktur, fasilitas publik, serta memastikan keselamatan warga yang sempat mengungsi akibat guncangan kuat.
Peristiwa ini menjadi salah satu gempa terbesar yang mengguncang kawasan Karibia dalam beberapa tahun terakhir. Sejumlah media internasional seperti Reuters, Associated Press (AP), CNN, BBC, Al Jazeera, dan The Guardian melaporkan bahwa fokus kini tertuju pada proses evakuasi, pendataan kerusakan, serta koordinasi bantuan internasional guna mempercepat pemulihan pascabencana.***











