Dari Moskow, Suara Indonesia Menggema: AI Bisa Membuat Konten, tetapi Manusia Membangun Kepercayaan

9262511 10.10.2026 The 2nd Global Digital Forum. Maksim Blinov / Sputnik
banner 468x60

MOSKOW, Radarjakarta.id – Kecerdasan artifisial (AI) kini mampu menghasilkan tulisan dalam hitungan detik, menciptakan gambar realistis, hingga menirukan suara manusia. Namun, di tengah pesatnya perkembangan teknologi tersebut, kepercayaan tetap menjadi hal mendasar yang tidak bisa dilepaskan dari peran manusia.

Persoalan itu menjadi salah satu sorotan dalam Global Digital Forum II (GDF II) 2026 yang berlangsung pada 8–10 Oktober di Moskow, Rusia. Forum internasional ini mempertemukan lebih dari 1.300 peserta, termasuk sekitar 730 pakar dari 111 negara, untuk membahas perkembangan AI, media, industri kreatif, transformasi digital, dan kerja sama internasional.

Delegasi Indonesia turut mengambil bagian dalam forum tersebut dengan membawa beragam perspektif, mulai dari jurnalisme, industri kreatif, akademisi, hingga kebijakan publik dan pembangunan berkelanjutan.

Kehadiran mereka tidak hanya menjadi kesempatan untuk mengikuti perkembangan teknologi global, tetapi juga membuka ruang pertukaran gagasan dan peluang kolaborasi yang dapat dikembangkan di Indonesia.

Salah satu pembicara asal Indonesia, Giri Maulana, yang memimpin Ionz Creative Digital, tampil dalam diskusi bertajuk “Humans Need Humans: Trust in Media in the Age of AI”. Diskusi ini membahas pentingnya menjaga kepercayaan publik ketika konten berbasis AI semakin mendominasi ruang digital.

Giri menyoroti kemampuan AI dalam menghasilkan cerita dan materi visual secara cepat. Namun, menurutnya, manusia tetap memegang peran penting dalam memahami konteks, mengambil keputusan editorial, menunjukkan empati, serta mempertanggungjawabkan informasi yang disampaikan kepada publik.

Di tengah persaingan kecepatan dan algoritma, nilai jurnalisme justru semakin ditentukan oleh kemampuan melakukan verifikasi, memberikan konteks, dan membangun kepercayaan masyarakat.

Transformasi Digital Harus Berpusat pada Manusia

Dari perspektif pembangunan dan tata kelola, peserta asal Indonesia Hino Samuel Jose turut memperkaya diskusi melalui latar belakangnya dalam hubungan internasional, pembangunan berkelanjutan, kebijakan, dan pembangunan sosial.

Pria yang akrab disapa Jose itu menilai transformasi digital tidak semata-mata berkaitan dengan penerapan teknologi, tetapi juga membutuhkan koordinasi berbagai pemangku kepentingan.

“Forum internasional seperti Global Digital Forum memperlihatkan bahwa transformasi digital semakin terkait dengan tata kelola, pembangunan manusia, dan kerja sama lintas negara. Tantangannya bukan hanya bagaimana negara mengadopsi teknologi baru, tetapi bagaimana inovasi tersebut dapat mendukung pelayanan publik, memperluas kesempatan, dan memberikan manfaat pembangunan yang berkelanjutan,” ujar Jose.

Sementara itu, Fauzan Al Rasyid dari INPC WYF menilai salah satu nilai penting Global Digital Forum terletak pada kesempatan membangun jejaring lintas profesi dan negara.

Pertemuan dengan pelaku industri, akademisi, dan pengambil kebijakan, menurutnya, membuka peluang untuk mempelajari berbagai model kolaborasi yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan Indonesia.

“Yang paling berharga dari forum internasional bukan semata banyaknya teknologi yang diperkenalkan, melainkan kesempatan bertemu orang-orang yang memiliki pengalaman dan pendekatan berbeda. Kita dapat belajar bagaimana negara lain mengembangkan ekosistem digital, sekaligus memperkenalkan kemampuan dan potensi Indonesia,” kata Fauzan.

Ia menambahkan, keberhasilan mengikuti forum internasional tidak berhenti pada berakhirnya kegiatan, tetapi juga ditentukan oleh kemampuan mengembangkan pertukaran gagasan menjadi kolaborasi nyata.

Teknologi Harus Membuka Kesempatan yang Inklusif

Peserta asal Indonesia lainnya, Meisya Marsella, menyoroti pentingnya memastikan perkembangan AI membuka kesempatan yang lebih luas bagi masyarakat untuk berpartisipasi dalam ekonomi digital.

Menurutnya, teknologi dapat menciptakan peluang baru di bidang kreativitas, pendidikan, dan kewirausahaan. Namun, manfaat tersebut harus didukung akses, keterampilan, dan kesempatan yang inklusif.

“Perkembangan teknologi yang begitu cepat seharusnya membuat kita semakin memperhatikan manusianya. Tidak semua orang memiliki akses, pengalaman, atau kemampuan digital yang sama. Karena itu, inovasi perlu dibarengi upaya memperluas kesempatan agar semakin banyak kelompok masyarakat dapat ikut berkembang,” ujarnya.

Meisya juga menilai Indonesia memiliki kekayaan budaya, kreativitas, dan talenta yang dapat dikembangkan melalui teknologi tanpa kehilangan identitas dan nilai-nilai lokal.

Pandangan serupa disampaikan Indira Rizky Azzahra. Ia menilai forum tersebut memberikan kesempatan untuk mempelajari berbagai pendekatan pengembangan teknologi sekaligus memahami bagaimana pengetahuan global dapat diterapkan sesuai kebutuhan Indonesia.

“Kita memiliki keragaman bahasa, budaya, serta tantangan pembangunan yang berbeda-beda. Karena itu, inovasi yang baik bukan hanya yang paling canggih, tetapi yang paling relevan, mudah diakses, dan benar-benar membantu kehidupan masyarakat,” kata Indira.

AI Mengubah Media, Kepercayaan Tetap Menjadi Kunci

Dari sektor media, Randy Mulyanto dari RadVoice turut mengikuti diskusi mengenai kepercayaan publik terhadap media di era AI.

Ia menilai AI telah mengubah cara informasi diproduksi dan didistribusikan. Namun, semakin mudah konten dibuat, semakin penting bagi media untuk mempertahankan nilai tambah melalui verifikasi, pemberian konteks, dan akuntabilitas.

“Teknologi dapat membantu pekerjaan jurnalistik, tetapi tidak boleh menjadi alasan untuk meninggalkan prinsip dasarnya. Kecepatan tetap penting, namun kepercayaan publik dibangun melalui ketelitian dan konsistensi,” ujar Randy.

Menurutnya, tantangan tersebut relevan bagi industri media Indonesia yang terus beradaptasi dengan perubahan perilaku audiens, perkembangan platform digital, dan persaingan dalam merebut perhatian publik.

Akademisi dan Industri Kreatif Indonesia Turut Berkontribusi

Selain Giri Maulana, sejumlah profesional Indonesia juga hadir sebagai pembicara dalam rangkaian Global Digital Forum II 2026.

Salah satunya adalah Assoc. Prof. Dr. Devie Rahmawati, CICS, akademisi Program Vokasi Universitas Indonesia, yang menyampaikan perspektif mengenai bahasa, budaya, dan peran manusia dalam pengembangan AI.

Dalam presentasi bertajuk “Can AI Speak Our Language Without Understanding Our Humanity? From Language Availability to Language Agency”, Devie menekankan pentingnya memastikan teknologi AI tidak hanya tersedia dalam berbagai bahasa, tetapi juga mendukung kemandirian masyarakat dan menghormati konteks budaya.

Representasi Indonesia juga diperkuat oleh Restya Winda Astari, CEO Agate Academy, yang membawa perspektif industri kreatif dan teknologi, khususnya dalam pengembangan produk digital.

Keberagaman latar belakang para pembicara tersebut menunjukkan bahwa kontribusi Indonesia dalam ekonomi digital tidak terbatas pada satu sektor. Akademisi menghadirkan perspektif riset dan pengembangan manusia, profesional media membahas kepercayaan serta tanggung jawab informasi, sedangkan pelaku industri kreatif membawa pengalaman inovasi dan pengembangan produk digital.

Di sisi lain, peserta dari berbagai latar belakang turut memperluas pembahasan melalui perspektif kebijakan, jejaring internasional, kreativitas, dan kebutuhan masyarakat.

Membawa Pulang Gagasan untuk Indonesia

Partisipasi Indonesia dalam Global Digital Forum II 2026 memperlihatkan pentingnya pertukaran pengetahuan lintas negara di tengah perubahan teknologi yang berlangsung cepat.

Namun, manfaat sebuah forum internasional tidak cukup diukur dari jumlah peserta, pembicara, atau negara yang terlibat. Nilai yang lebih penting terletak pada kemampuan peserta menerapkan pengetahuan, memperluas jejaring profesional, dan mengembangkan gagasan menjadi langkah konkret bagi masyarakat maupun institusi masing-masing.

Di tengah kemampuan AI yang terus berkembang, masa depan digital tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi. Kemampuan manusia untuk berpikir kritis, menjaga integritas, membangun kepercayaan, dan bekerja sama tetap menjadi fondasi penting bagi ekosistem digital yang bertanggung jawab dan berpusat pada manusia.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari radarjakarta.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.