Oleh: R. Haidar Alwi
Pendiri Haidar Alwi Institute (HAI) sekaligus Wakil Ketua Dewan Pembina Ikatan Alumni ITB
Survei Nasional Tempo Data Science 2026 belum layak diperlakukan sebagai potret utuh pendapat rakyat Indonesia.
Laporan setebal 50 halaman itu berani menyimpulkan kepuasan terhadap pemerintahan Prabowo–Gibran tinggal 37 persen, elektabilitas Dedi Mulyadi mencapai 42 persen, serta dukungan terhadap Prabowo terus merosot.
Tempo Data Science menyebut survei melibatkan 1.260 responden di 38 provinsi melalui multistage random sampling dengan margin of error ±2,9 persen.
Tidak dijelaskan kerangka sampel, jumlah kabupaten, kecamatan, desa, blok sensus, jumlah klaster, cara memilih rumah tangga, cara menentukan responden dalam rumah tangga, jumlah penolakan, penggantian responden, response rate, pembobotan, design effect, maupun effective sample size.
Tanpa informasi tersebut, klaim bahwa setiap warga memiliki peluang yang sama untuk terpilih sebagai responden belum dapat dibuktikan. Istilah multistage random sampling akhirnya hanya menjadi label metodologis, bukan prosedur yang dapat diperiksa.
Margin of error ±2,9 persen juga berpotensi menyesatkan apabila diperlakukan sebagai jaminan ketepatan seluruh hasil. Angka itu mendekati perhitungan simple random sampling untuk 1.260 responden.
Padahal Tempo mengaku memakai sampling bertingkat dan berklaster. Desain seperti itu lazimnya meningkatkan ketidakpastian karena responden dalam satu wilayah cenderung memiliki karakteristik yang serupa.
Jika design effect survei mencapai 1,5, margin of error nasional dapat melebar menjadi sekitar ±3,4 poin. Jika design effect mencapai 2, ketidakpastiannya menjadi sekitar ±3,9 poin. Tempo Data Science tidak membuka design effect, sehingga angka ±2,9 persen tidak dapat diverifikasi.
Lebih fatal lagi, margin of error nasional itu tidak berlaku untuk analisis provinsi, kelompok usia, penerima program, pendukung tokoh, dan pemilih partai.
Banten hanya menyumbang sekitar 4,4 persen sampel atau kurang lebih 55 responden. Ketika laporan menyebut ketidakpuasan di Banten mencapai 76 persen, margin of error sederhananya sudah berada di kisaran ±11 poin. Angka tersebut dapat lebih lebar setelah memperhitungkan klaster dan pembobotan.
Hal yang sama terjadi ketika Tempo Data Science menyatakan ketidakpuasan penerima MBG tertinggi berada di Banten sebesar 65 persen. Jika proporsi penerima MBG di Banten mengikuti angka nasional, kesimpulan itu mungkin hanya bertumpu pada sekitar 30 responden. Ketidakpastiannya dapat melampaui ±16 poin.











