Film Komedi Indonesia Cari Arah Baru, dari Warkop hingga Agak Laen

banner 468x60

JAKARTA, Radarjakarta.id — Masa depan film komedi Indonesia menjadi sorotan dalam Diskusi Film Komedi bertajuk “Komedi dari Warkop sampai Agak Laen”, bagian dari rangkaian Kreatif Merdeka Carnival 2026 yang digelar Pusat Produksi Film Negara (PFN) di PFN Heritage, Jakarta, Rabu (26/8/2026).

Diskusi menghadirkan kritikus, sutradara sekaligus akademisi film Joko Nugroho, sutradara dan aktor Harry De Fretes, serta komedian senior Didin Bonito dari grup Bagito. Diskusi dipandu Alyne Maarif dan diikuti ratusan pelajar serta guru dari sekolah perfilman dan pendidikan menengah se-Jabodetabek.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Tak hanya mengulas perjalanan komedi di layar lebar, forum ini membahas regenerasi pelaku industri, perubahan selera penonton, kebebasan kreatif, hingga tantangan sineas muda dalam memproduksi dan mendistribusikan karya.

Didin Bonito: Komedi Bukan Sekadar Membuat Tertawa

Didin Bonito menilai regenerasi menjadi kunci keberlangsungan genre komedi Indonesia. Ia mendorong generasi muda untuk tidak menunggu kesempatan, melainkan mulai berkarya sejak sekarang.

“Kalau tidak mulai kapan lagi? Coba dari sekarang. Mumpung masih muda,” kata Didin.

Menurutnya, film komedi idealnya tidak berhenti pada fungsi hiburan, tetapi juga membawa pesan yang mampu memberikan semangat kepada penonton.

Didin melihat lanskap komedi Indonesia terus berubah. Jika pada masa lalu pelawak menjadi wajah utama genre komedi, kini aktor juga semakin banyak mengambil peran dalam film-film komedi.

“Setiap zaman ada bintangnya,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa perkembangan platform digital seperti YouTube dan TikTok telah membuka ruang ekspresi yang lebih luas bagi generasi muda. Berbagai persoalan sosial dan kehidupan masyarakat Indonesia, menurutnya, masih dapat dikembangkan menjadi materi cerita komedi.

Harry De Fretes: Film Komedi Harus Berani Bercerita tentang Indonesia

Harry De Fretes mengajak peserta melihat kembali makna “merdeka” dalam konteks kreativitas film komedi.

Menurutnya, sebuah karya belum sepenuhnya merdeka apabila cerita yang diangkat tidak berangkat dari realitas dan karakter masyarakat Indonesia.

“Jangan-jangan film komedi kita ceritanya bukan tentang masyarakat kita. Berarti belum merdeka dong, masih numpang,” ujar Harry.

Harry menilai komedi memiliki fungsi penting di tengah tekanan sosial yang dihadapi masyarakat. Film komedi dapat menjadi ruang hiburan sekaligus membantu penonton melihat berbagai persoalan kehidupan dari perspektif yang lebih ringan.

“Tertawa itu the best obat. Pas rakyat tegang, kita butuh film komedi dan film komedi akan ada terus di hati masyarakat dan penikmat film komedi,” paparnya.

Menurut Harry, dominasi film horor dalam beberapa tahun terakhir mulai memperlihatkan tanda-tanda pergeseran. Kesuksesan Agak Laen menjadi salah satu indikator bahwa komedi masih memiliki daya tarik kuat di pasar film nasional.

Meski demikian, ia mengingatkan pelaku industri agar tidak sekadar mengejar tren. Kekuatan cerita dan keberanian berinovasi tetap diperlukan untuk menjaga masa depan film komedi.

Harry juga berharap PFN dapat mengambil peran lebih besar dalam ekosistem produksi film nasional.

“PFN jangan cuma jadi gedung. Ayo produksi film komedi yang berkualitas dan diterima masyarakat,” tegasnya.

Joko Nugroho: Selera Humor Antargenerasi Terus Berubah

Sementara itu, Joko Nugroho menyoroti tantangan lain, yakni perbedaan selera humor antara generasi lama dan generasi baru.

Menurutnya, humor yang populer pada era Warkop belum tentu mendapatkan respons yang sama dari penonton masa kini.

«“Kekuatan Warkop dan Agak Laen itu sama. Hanya eranya yang berbeda,” jelas Joko.»

Ia menilai perlu ada ruang dialog yang mempertemukan pelaku industri dari berbagai generasi. Pengalaman komedian senior dapat bertemu dengan perspektif kreator muda sehingga menghasilkan bentuk komedi yang lebih relevan.

Joko menyebut dua pendekatan yang dapat dikembangkan industri. Film komedi dapat dibuat secara spesifik untuk segmen usia tertentu atau dikembangkan menjadi family comedy maupun action comedy yang mampu menjangkau penonton lintas generasi.

Ia juga memprediksi film komedi Indonesia ke depan akan semakin mengandalkan kekuatan visual dan unsur aksi, seiring berkembangnya karakter penonton dari generasi Alpha.

Di sisi lain, Joko meminta produser tetap memberikan kesempatan kepada komedian senior untuk beradaptasi dengan perkembangan zaman.

“Yang tua belum tentu nggak bisa adaptasi. Kasih kesempatan,” ujarnya.

Sineas Muda Dorong Dukungan Produksi dan Distribusi

Diskusi kemudian berkembang pada persoalan yang dihadapi pelajar dan calon sineas. Peserta mempertanyakan bagaimana gagasan serta karya mereka dapat memperoleh kesempatan masuk ke industri film secara profesional.

Sejumlah peserta menyoroti panjangnya jarak antara era Warkop dan kemunculan film komedi populer generasi baru. Penolakan naskah, keterbatasan biaya produksi dan fasilitas, hingga akses distribusi serta layar bioskop disebut sebagai tantangan yang masih dihadapi kreator muda.

Mereka berharap Kreatif Merdeka Carnival tidak berhenti sebagai forum diskusi, tetapi dilanjutkan dengan program yang lebih konkret, seperti dukungan pendanaan produksi, akses fasilitas PFN, pendampingan bagi sineas pemula, serta peluang distribusi dan pemutaran film di bioskop.

Diskusi tersebut menegaskan bahwa komedi masih memiliki ruang besar dalam industri film Indonesia. Tantangannya bukan sekadar membuat penonton tertawa, tetapi menghadirkan cerita yang relevan dengan kehidupan masyarakat, mampu menjangkau berbagai generasi, sekaligus membuka ruang bagi talenta baru dan komedian senior untuk terus berkarya.

Dengan dukungan lembaga perfilman dan ekosistem industri yang semakin kuat, kebangkitan film komedi diharapkan tidak berhenti sebagai tren sesaat, melainkan berkembang menjadi salah satu kekuatan penting dalam perfilman nasional.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari radarjakarta.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.