Nur Irawati: Lansia Sehat Dimulai dari Deteksi Dini, Bukan Menunggu Sakit

banner 468x60

JAKARTA, Radarjakarta.id — Bertambahnya usia bukan alasan untuk berhenti aktif. Justru, memasuki usia lanjut menjadi momentum penting untuk semakin peduli terhadap kesehatan melalui pola hidup sehat, aktivitas fisik, pembelajaran, serta pemeriksaan kesehatan secara berkala.

Pesan tersebut disampaikan Nur Irawati S.Si., M.Biomed., dalam kegiatan Sekolah Lansia Ratu Sinuhun yang digelar di Auditorium Prodia Tower, Kramat Raya, Jakarta, Rabu yang lalu (19/8/2026).

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Kegiatan tersebut sekaligus menjadi awal perjalanan peserta didik Sekolah Lansia Ratu Sinuhun angkatan II untuk program S1 dan angkatan I untuk program S2.

Dalam kesempatan itu, Nur Irawati mengapresiasi Ketua Umum Srikandi TP Sriwijaya Nyimas Aliah SE., S.Sos., M.Ikom., R.A. Aisyah SE., MM., Ketua Pembina Sekolah Lansia Ratu Sinuhun, para pengajar, serta seluruh peserta didik yang mengikuti kegiatan dengan antusias.

Menurut Nur Irawati, menjalani usia lanjut sebaiknya tidak sekadar mengejar umur panjang, tetapi juga mempertahankan kualitas hidup melalui konsep healthy aging.

Healthy aging menekankan kemampuan seseorang untuk tetap menjalankan aktivitas, mengambil keputusan, belajar, bersosialisasi, dan hidup mandiri.

“Usia panjang sebaiknya diikuti dengan kemampuan fungsional yang tetap terjaga. Artinya, seseorang masih mampu belajar, mengambil keputusan, beraktivitas, bersosialisasi, serta menjalani kehidupan secara mandiri,” ujar Nur Irawati.

Saat dikonfirmasi melalui selular, Senin (24/8/2026), dalam tulisannya Nur Irawati menjelaskan bahwa menjaga kesehatan lansia tidak cukup hanya dari sisi luar. Kondisi tubuh juga perlu dipantau dari dalam melalui pemeriksaan kesehatan dan deteksi dini.

Lanjutnya, Ia mengibaratkan tubuh manusia seperti perangkat teknologi. Tidak cukup hanya memperbaiki bagian luar, tetapi sistem di dalamnya juga harus diperbarui agar tetap bekerja optimal.

“Jangan hanya chasing-nya yang diganti, tetapi software-nya juga harus di-upgrade supaya memorinya bertambah,” jelasnya.

Menurut Nur Irawati, pemeriksaan kesehatan merupakan bagian dari konsep Next Level Prevention (NLP), yakni pendekatan untuk mengenali risiko penyakit sedini mungkin sebelum berkembang menjadi masalah kesehatan yang lebih serius.

“Siapa yang ingin pergi ke rumah sakit kemudian harus dioperasi? Tentunya tidak. Kita ingin tahu lebih dahulu sebelum merasakan sakit,” katanya.

Semangat tersebut juga terlihat dari aktivitas kakak kakak para peserta didik Sekolah Lansia Ratu Sinuhun. Mulai dari berjalan kaki, mengikuti perkumpulan, belajar, berdiskusi hingga memilih ketua kelas, semuanya menjadi bagian dari aktivitas yang dapat membantu mempertahankan kemampuan fungsional.

“Ketika kakak-kakak di sini memilih ketua kelas, itu artinya masih mampu membuat keputusan. Datang ke sini juga berarti bergerak, bukan hanya diam atau mager. Ini menunjukkan kemampuan fungsional masih berjalan dengan baik,” tutur Nur Irawati.

Nur Irawati mengingatkan bahwa proses penuaan merupakan bagian alami kehidupan yang tidak dapat dihentikan. Seiring bertambahnya usia, tubuh dapat mengalami berbagai perubahan, termasuk perubahan hormonal dan fungsi sistem kekebalan.

Pada perempuan, misalnya, penurunan hormon estrogen setelah menopause dapat berkaitan dengan sejumlah perubahan pada tubuh. Karena itu, pemeriksaan berkala diperlukan untuk mengetahui kondisi kesehatan sekaligus memetakan faktor risiko.

Beberapa kondisi yang perlu mendapat perhatian pada usia lanjut antara lain obesitas, gangguan mata, penyakit hati, penyakit jantung, diabetes, osteoartritis, hipertensi, osteoporosis, batu empedu, serta gangguan fungsi kognitif.

“Bagaimana caranya supaya teman-teman penyakit itu tidak ikut menjadi bagian dari kehidupan kita? Salah satunya dengan melakukan pemeriksaan dan mengetahui faktor risikonya,” ujarnya.

Pemeriksaan dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing individu, antara lain vitamin D, hormon, kolesterol, kesehatan kardiovaskular, kepadatan tulang, serta pemeriksaan lain sesuai kebutuhan dan rekomendasi tenaga kesehatan.

Salah satu perhatian dalam edukasi Nur Irawati S.Si., M.Biomed. adalah kesehatan otak.Ia mengingatkan masyarakat agar tidak langsung menyimpulkan bahwa mudah lupa atau pikun berarti demensia.

Pikun lebih berkaitan dengan keluhan penurunan daya ingat, sedangkan demensia merupakan kondisi penurunan fungsi kognitif yang dapat mengganggu kemampuan seseorang dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.

“Dengan screening, kita bisa mengetahui apakah seseorang berada pada level penurunan daya ingat atau sudah mengarah ke demensia. Setelah itu dapat dikonsultasikan kepada dokter,” jelasnya.

Menurutnya, faktor risiko seperti hipertensi, diabetes, gangguan kolesterol, serta gangguan tiroid juga perlu diperhatikan karena dapat berkaitan dengan kesehatan otak.

Pemeriksaan kesehatan otak pun dapat dilakukan secara bertahap, mulai dari pemeriksaan dasar seperti gula darah, fungsi hati, fungsi ginjal, hingga pemeriksaan nutrisi, vitamin, dan pemeriksaan lain sesuai indikasi medis.

Selain kesehatan otak, kesehatan tulang menjadi perhatian penting, khususnya bagi perempuan setelah menopause.

Nur Irawati menjelaskan, perubahan hormonal dapat berpengaruh terhadap kondisi tulang. Karena itu, pemeriksaan kepadatan tulang dan biomarker dapat membantu memberikan gambaran yang lebih lengkap.

Bone Mineral Density (BMD) dapat digunakan untuk memperkirakan kepadatan mineral tulang dan risiko fraktur. Sementara pemeriksaan biomarker tertentu dapat membantu melihat proses pembentukan dan pengeroposan tulang.

Di antaranya N-Mid Osteocalcin sebagai penanda pembentukan tulang dan C-Telopeptide sebagai penanda resorpsi tulang.

“Kenapa BMD dan biomarker? Karena keduanya saling melengkapi. Kita ingin mengetahui apakah kepadatan tulangnya bagus dan bagaimana proses pembentukan maupun pengeroposan tulangnya,” terang Nur Irawati.

Ia juga menyebut pemeriksaan panel osteoporosis pada usia lanjut yang meliputi PTH Intact, Calcium, Vitamin D 25-OH Total, C-Telopeptide, dan N-Mid Osteocalcin.

Dalam pemaparannya, Nur Irawati juga mengajak peserta meningkatkan kesadaran terhadap deteksi dini kanker.

Menurutnya, pemeriksaan kesehatan idealnya dilakukan bukan ketika seseorang sudah sakit, melainkan sebagai bagian dari upaya mengetahui risiko sejak awal.

Salah satu pendekatan yang diperkenalkan adalah pemeriksaan genomik untuk membantu menilai risiko kanker tertentu. Dalam materi yang disampaikan, CARisk disebut dapat menilai risiko 13 jenis kanker, antara lain kanker paru, nasofaring, kandung kemih, pankreas, kolorektal, tiroid, hati, lambung, prostat, serviks, payudara, ovarium, serta limfoma non-Hodgkin.

Sementara Prodia Hereditary Cancer Risk diperuntukkan bagi penilaian risiko kanker yang berkaitan dengan riwayat keluarga dan mencakup beberapa jenis kanker, seperti payudara, ovarium, endometrium, kolorektal, pankreas, lambung, prostat, dan melanoma.

Namun, Nur Irawati menegaskan bahwa pemeriksaan genetik tidak berarti seseorang pasti akan mengalami kanker. Hasil pemeriksaan perlu dipahami bersama tenaga kesehatan atau konselor genetik agar tidak menimbulkan kesimpulan yang keliru.

Bagi perempuan, pemeriksaan kanker serviks juga tetap penting. Metode skrining dapat mencakup Pap smear dan HPV DNA sesuai rekomendasi tenaga kesehatan.

Sementara pada laki-laki, pemeriksaan PSA dapat dipertimbangkan untuk mengevaluasi kondisi prostat berdasarkan usia, faktor risiko, serta anjuran dokter.

Dalam kesempatan tersebut, Nur Irawati memperkenalkan Prodia Senior Health Centre (PSHC) sebagai layanan pemeriksaan kesehatan yang ditujukan bagi kelompok senior.

Menurutnya, pemeriksaan kesehatan dapat membantu seseorang memperoleh gambaran mengenai kondisi tubuh sekaligus mengetahui faktor risiko yang perlu mendapatkan perhatian.

Pendekatan tersebut sejalan dengan konsep pencegahan berbasis risiko, sehingga seseorang tidak hanya berfokus pada pengobatan ketika penyakit sudah muncul.

Selain itu, ia juga memperkenalkan sejumlah pemeriksaan genomik dalam pendekatan Next Level Prevention, termasuk kategori Predictive & Preventive Genomics dan Lifestyle Genomics.

Pemeriksaan tersebut mencakup berbagai aspek kesehatan, mulai dari metabolik, pembuluh darah, hipertensi, sistem imun, kesehatan otak, tulang, mata, hingga faktor gaya hidup seperti nutrisi, olahraga, tidur dan stres.

Nur Irawati mengibaratkan risiko penyakit seperti lubang di jalan. Jika seseorang mengetahui adanya lubang sebelum sampai di lokasi tersebut, maka ia dapat memilih jalan lain agar tidak terperosok.

“Jangan menunggu merasakan sakit baru diobati. Kalau kita sudah tahu ada risiko, kita bisa mencari jalan lain supaya selamat dan dapat hidup panjang,” ujarnya.

Bagi peserta didik Sekolah Lansia Ratu Sinuhun, edukasi tersebut menjadi bekal untuk menjalani masa lanjut usia dengan lebih sadar terhadap kesehatan.

Pesan utama yang disampaikan Nur Irawati S.Si., M.Biomed. pun sederhana: menjadi lansia bukan berarti berhenti berkarya.

Dengan menjaga pola hidup sehat, tetap aktif bergerak, terus belajar, bersosialisasi dan melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala, usia lanjut dapat tetap dijalani secara aktif, mandiri, produktif dan bahagia.

Kesehatan adalah investasi. Semakin dini risiko diketahui, semakin besar peluang untuk melakukan pencegahan dan mempertahankan kualitas hidup di usia lanjut. | Guffe*

 

 

 

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari radarjakarta.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.