Bondowoso, Radarjakarta.id – Desa tidak kekurangan potensi, tetapi sering kali belum memiliki sistem yang mampu menghubungkan kekuatan lingkungan, pangan, kesehatan, dan ekonomi menjadi satu gerakan pemberdayaan. Berangkat dari persoalan tersebut, Tim Pelaksana Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) Himpunan Mahasiswa Gizi (HIMAGIZI) Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Jember (UNEJ) meluncurkan SIPETRAN (Sistem Pemberdayaan Terpadu Desa Hutan Berkelanjutan) di Balai Desa Gunungsari, Kecamatan Maesan, Kabupaten Bondowoso, Rabu (19/8/2026).
Program ini menawarkan pendekatan berbeda: mengintegrasikan konservasi lingkungan, pengelolaan sampah, pangan bergizi, kesehatan masyarakat, dan penguatan ekonomi lokal dalam satu ekosistem pemberdayaan desa.
Desa Gunungsari merupakan salah satu Desa Binaan UNEJ yang berada di lereng Gunung Argopuro. Wilayah ini memiliki potensi hutan sekitar 57 hektare serta komoditas kopi robusta, jagung dan padi. Produksi kopi robusta tercatat sekitar 30 ton per tahun dan jagung sekitar 13 ton per tahun. Namun, sebagian hasil pertanian masih dijual dalam bentuk mentah sehingga nilai tambah ekonomi masyarakat belum optimal.
Di sisi lain, desa menghadapi persoalan lingkungan dan kesehatan. Tim PPK Ormawa menemukan sampah organik dan limbah peternakan yang belum dikelola optimal, keterbatasan daerah resapan air, serta risiko lingkungan di kawasan lereng. Pada aspek kesehatan masih ditemukan kasus anemia dan kekurangan energi kronis (KEK) pada ibu hamil, sementara kasus diare meningkat dari 41 kasus pada 2025 menjadi 48 kasus hingga Februari 2026.
Ketua Tim PPK Ormawa HIMAGIZI UNEJ, Oktavia Rahma Ramadhani, mengatakan SIPETRAN dirancang sebagai jawaban atas berbagai persoalan tersebut dengan menjadikan masyarakat sebagai aktor utama perubahan.
“SIPETRAN kami bangun dari potensi dan kebutuhan masyarakat Gunungsari. Kami tidak ingin program ini hanya menghasilkan kegiatan, tetapi membangun sistem yang dapat terus dijalankan masyarakat. Potensi kopi, jagung, lingkungan, dan sumber daya manusia kami satukan dengan edukasi gizi, pengelolaan lingkungan, teknologi, serta penguatan ekonomi agar masyarakat memiliki kemampuan untuk berkembang secara mandiri,” ujarnya.
Dalam rancangan program, SIPETRAN dikembangkan melalui konsep Desa Hutan Berkelanjutan 5.0 dengan dukungan Aplikasi SIPETRAN yang berfungsi sebagai media edukasi, dokumentasi, monitoring, sekaligus promosi produk lokal.
“Sejumlah inovasi akan menjadi bagian dari program, antara lain pengolahan jagung menjadi Nugget SIJAGO dan pengembangan Kopi SILOKA. Tim juga menyiapkan pengelolaan sampah dan limbah peternakan dengan teknologi tepat guna, reboisasi dan konservasi lahan, pengembangan daerah resapan air, Kebun Gizi, serta edukasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Nugget SIJAGO bahkan diarahkan sebagai pangan tambahan berbasis pangan local,”ulasnya.
Dengan demikian, Grand Launching SIPETRAN menjadi titik awal perubahan, potensi hutan dijaga, sampah dikelola, pangan lokal diolah, gizi diperkuat, dan ekonomi masyarakat ditumbuhkan dalam satu gerakan desa berkelanjutan.
Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni UNEJ, Dr. Fendi Setyawan, S.H., M.H., mengapresiasi pemilihan Gunungsari sebagai lokasi program. Menurutnya, karakter wilayah yang merupakan kawasan pertanian dan hutan sangat relevan dengan program pemberdayaan yang dirancang mahasiswa Gizi UNEJ.
“Gunungsari merupakan daerah pertanian dan kawasan hutan yang memiliki potensi. Karena itu, pemberdayaan komunitas perkebunan sangat penting. Apalagi program ini tidak hanya berbicara mengenai penghijauan, tetapi juga pemberdayaan masyarakat, UMKM dan ekonomi keluarga. Kalau semuanya berjalan sinergis, sumber daya lingkungan dapat terjaga dan ekonomi kerakyatan juga tumbuh,” jelasnya.
Ia menegaskan, tantangan terbesar setelah program diluncurkan adalah memastikan keberlanjutannya. UNEJ akan mendorong evaluasi dan pemantauan pascaprogram agar inovasi yang telah dibangun tidak berhenti setelah kegiatan mahasiswa selesai.
“Kalau program berakhir kemudian kegiatan juga berakhir, tentu tidak akan membawa dampak atau manfaat. Harapan kami program ini sustain. Tetapi kuncinya ada pada masyarakat, bagaimana masyarakat menerima inovasi itu, mengembangkannya, dan merasa bahwa program tersebut menjadi kebutuhan mereka sendiri,” tegasnya.
SIPETRAN ditargetkan menjadi lebih dari sekadar program mahasiswa. Melalui penguatan kelembagaan masyarakat, produk lokal, konservasi, kesehatan, pangan, dan teknologi, program ini diarahkan untuk mewujudkan Desa MANDHÂRI—Desa Gunungsari yang asri, lestari, dan mandiri.
Dukungan juga datang dari Pemerintah Kabupaten Bondowoso.Solihin, S.H., M.Si.Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat (Asisten I Sekretariat Daerah), yang hadir mewakili Pemerintah Kabupaten Bondowoso, menyampaikan apresiasi kepada UNEJ karena menghadirkan program yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat.
Menurutnya, SIPETRAN tidak hanya berkaitan dengan lingkungan, tetapi juga menyentuh pendidikan, ekonomi, kebudayaan, dan pemberdayaan masyarakat. Pemkab Bondowoso berharap model seperti ini dapat diperluas ke desa-desa lainnya.
“Program ini bukan sekadar program kampus, tetapi bagian dari ikhtiar bersama membangun Bondowoso yang lebih sejahtera. Kami berharap masyarakat Gunungsari benar-benar menindaklanjuti dan mengembangkan program ini. Pemerintah Kabupaten Bondowoso siap bersinergi agar program yang berdampak langsung kepada masyarakat ini dapat terus berkembang,” ujarnya.











