JAKARTA, Radarjakarta.id — Rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia diwarnai sejumlah momen menarik yang melibatkan Presiden Prabowo Subianto, Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi), Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, hingga Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Dari suasana akrab para tokoh bangsa hingga target pertumbuhan ekonomi, perhatian publik tertuju pada pesan politik dan ekonomi yang muncul dalam momentum kemerdekaan.
Salah satu momen yang mencuri perhatian terjadi ketika Presiden Prabowo menunjukkan apresiasinya kepada Komandan Upacara, Kolonel Priyo. Prabowo disebut meminta sang komandan upacara menghadap setelah menjalankan tugasnya. Momen tersebut menjadi bentuk penghargaan atas pelaksanaan tugas yang dinilai berhasil dalam upacara kenegaraan.
Perhatian juga tertuju pada posisi duduk Prabowo yang berdampingan dengan Jokowi dan Gibran. Momen tersebut memperlihatkan suasana yang cair dan akrab di antara para pemimpin. Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi sebelumnya juga beberapa kali menegaskan suasana kekeluargaan dalam pertemuan para tokoh nasional. Hubungan Prabowo dan Jokowi sendiri telah lama menjadi perhatian publik karena keduanya kini berada dalam satu kesinambungan pemerintahan.
Di sisi lain, isu ekonomi menjadi sorotan setelah target pertumbuhan ekonomi sekitar 6 persen kembali dibicarakan. Pemerintah memang tengah mendorong akselerasi pertumbuhan melalui investasi, produktivitas, industri, konsumsi domestik, serta penguatan sektor swasta. Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi 2027 berada pada kisaran 5,8–6,5 persen sebagai bagian dari perjalanan menuju target pertumbuhan 8 persen pada 2029.
Dalam konteks tersebut, pandangan SBY menjadi menarik karena pengalaman pemerintahannya kerap dijadikan pembanding. SBY pernah menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi pada eranya dapat terjaga sekitar 6 persen dan ditopang oleh sejumlah faktor, antara lain konsumsi rumah tangga, belanja pemerintah yang efektif, ekspor, investasi, serta penguatan industri dan hilirisasi. Ia juga pernah menyatakan keyakinannya bahwa pemerintahan Prabowo memiliki sumber daya politik dan ekonomi untuk menghadapi tantangan nasional.
Pesan penting dari sorotan SBY adalah bahwa target 6 persen tidak boleh berhenti sebagai angka. Pertumbuhan harus ditopang kebijakan yang mampu menjaga daya beli masyarakat, meningkatkan investasi, menciptakan lapangan kerja, memperkuat dunia usaha dan memastikan sektor riil benar-benar bergerak. Pemerintah sendiri telah menyiapkan berbagai stimulus serta program kredit untuk memperluas pembiayaan dan mendorong aktivitas ekonomi.
Dengan demikian, dua gambaran besar muncul dari momentum tersebut: di satu sisi, suasana kebersamaan para pemimpin nasional yang terlihat semakin cair; di sisi lain, tantangan besar pemerintah untuk membuktikan bahwa ambisi pertumbuhan ekonomi tinggi dapat diterjemahkan menjadi peningkatan kesejahteraan masyarakat. Momen Prabowo mengapresiasi komandan upacara hingga kebersamaannya dengan Jokowi dan Gibran menjadi simbol penghormatan serta kesinambungan, sementara sorotan SBY terhadap target ekonomi menjadi pengingat bahwa keberhasilan pembangunan pada akhirnya harus dirasakan langsung oleh rakyat.***











