Oleh: R. Haidar Alwi
Pendiri Haidar Alwi Institute (HAI) Sekaligus Wakil Ketua Dewan Pembina Ikatan Alumni ITB
Indeks Persepsi Korupsi Kepolisian yang dirilis IndexMundi dan digunakan oleh pihak pihak tertentu untuk melabeli Polri sebagai institusi kepolisian paling korup di Asia Tenggara atau peringkat 18 dunia, tidak layak disebut sebagai survei terbaru dan mengandung setidaknya 10 cacat metodologis.
Jejak publik yang tersedia menunjukkan indeks tersebut diumumkan pada 11 Oktober 2015.
Yang lebih serius, hasilnya tampak membeku bertahun-tahun. Pemberitaan media tahun 2022, 2023, 2024, 2025, dan bahkan 2026 masih menampilkan hasil yang identik, yaitu Indonesia di urutan ke-18, skor 7,56, jumlah responden 296, dan margin of error 5,70 persen.
Dalam pengujian pengisian formulir yang dilakukan pada Juli 2026, halaman survei masih mengundang publik untuk melakukan pengisian.
Namun setelah formulir diisi dan dikirim, jumlah responden Indonesia yang tampil tetap 296 dan skor tetap 7,56.
Hal itu memang belum membuktikan responden pasti ditolak atau tidak tersimpan, karena mungkin saja terdapat pembaruan tertunda, moderasi manual, cache, atau penyaringan tertentu.
Akan tetapi, IndexMundi tidak menyediakan penjelasan terbuka mengenai kapan data diperbarui, apakah responden baru masih diterima, kapan responden masuk dihitung, serta bagaimana responden baru dapat mengubah tabel dan ranking.
Fakta itu memunculkan kesimpulan yang tidak dapat dihindari bahwa selama 2022, 2023, 2024, 2025, hingga 2026 artikel-artikel pemberitaan media hanya mengulang angka lama.
Tidak ada bukti publik bahwa angka 7,56 merupakan hasil pengukuran baru, pengambilan sampel baru, atau pembaruan data yang berlangsung secara transparan.
Kebekuan angka tersebut berdiri di atas sedikitnya sepuluh cacat metodologis yang membuat IndexMundi tidak layak dijadikan rujukan untuk menilai tingkat korupsi Polri maupun opini seluruh masyarakat Indonesia.
Pertama, IndexMundi bukan survei nasional Indonesia. IndexMundi sendiri menyatakan bahwa survei dimulai dengan menanyai pengunjung situsnya. Artinya, sumber responden berasal dari orang yang datang ke situs dan bersedia mengisi formulir, bukan dari sampel warga Indonesia yang dipilih melalui metode acak, panel nasional, wawancara tatap muka, telepon, atau desain survei yang dapat diuji publik.
Model seperti itu rentan terhadap bias seleksi diri. Orang yang datang ke situs dan memilih menjawab dapat memiliki karakter yang berbeda dari populasi Indonesia secara umum: lebih aktif di internet, lebih memahami bahasa Inggris, lebih terdorong oleh pengalaman buruk, lebih terpapar pemberitaan tertentu, atau berasal dari kelompok sosial yang tidak mencerminkan komposisi penduduk nasional.











