Di Forum NU, Prabowo Ungkap Alasan Rupiah Lemah dan Kemiskinan Tak Kunjung Usai

banner 468x60

JAKARTA, RadarJakarta.id – Presiden RI Prabowo Subianto melontarkan pernyataan yang menyita perhatian publik saat menutup Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (NU) 2026 di Bangkalan, Jawa Timur, Selasa (23/6/2026). Di hadapan para ulama dan tokoh nasional, Prabowo mengaku heran melihat paradoks ekonomi Indonesia yang terus bertumbuh, namun masih diiringi persoalan kemiskinan dan melemahnya nilai tukar rupiah.

Menurut Prabowo, pertumbuhan ekonomi yang selama ini dibanggakan belum sepenuhnya dirasakan rakyat apabila kekayaan nasional terus mengalir ke luar negeri. Ia menilai fenomena tersebut menjadi salah satu penyebab mendasar mengapa rupiah masih rentan terhadap tekanan global.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

“Kalau sekarang ada yang mengatakan rupiah kita lemah, ya karena kekayaannya keluar. Kalau darah kita tiap hari keluar, ujungnya badan kita kolaps. Begitu juga negara,” ujar Prabowo dalam sambutannya.

Pernyataan itu langsung menjadi sorotan berbagai media nasional karena menyentuh isu yang selama ini menjadi perdebatan publik, yakni hubungan antara pertumbuhan ekonomi, kesejahteraan rakyat, dan pengelolaan sumber daya nasional.

Prabowo Soroti Kebocoran Kekayaan Nasional

Presiden menegaskan Indonesia merupakan negara yang sangat kaya akan sumber daya alam. Namun, selama puluhan tahun, sebagian besar nilai tambah dari kekayaan tersebut dinilai lebih banyak dinikmati pihak luar dibandingkan masyarakat Indonesia sendiri.

Prabowo mengibaratkan kondisi tersebut seperti tubuh manusia yang terus kehilangan darah. Meski masih mampu bertahan, pada akhirnya akan melemah apabila tidak segera dihentikan.

Karena itu, pemerintah saat ini terus mendorong kebijakan hilirisasi, industrialisasi, dan penguatan sektor strategis nasional agar kekayaan alam Indonesia dapat diolah di dalam negeri serta memberikan manfaat yang lebih besar bagi rakyat.

Ekonomi Tumbuh, Kemiskinan Jadi Pertanyaan

Dalam kesempatan yang sama, Prabowo juga menyinggung fenomena yang menurutnya perlu menjadi bahan evaluasi bersama. Ia mempertanyakan mengapa pertumbuhan ekonomi yang relatif positif belum sepenuhnya mampu menghapus kemiskinan dan kesenjangan sosial.

Pandangan tersebut sejalan dengan berbagai kajian ekonomi yang menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak selalu berbanding lurus dengan pemerataan kesejahteraan apabila distribusi hasil pembangunan belum merata.

Sejumlah ekonom menilai tantangan Indonesia saat ini bukan hanya mengejar angka pertumbuhan, melainkan memastikan manfaat pertumbuhan tersebut dapat dirasakan hingga lapisan masyarakat terbawah melalui penciptaan lapangan kerja, peningkatan daya beli, dan penguatan ekonomi daerah.

Rupiah Tertekan, Faktor Global dan Domestik

Meski menyoroti kebocoran kekayaan nasional sebagai salah satu penyebab pelemahan rupiah, para pengamat ekonomi mengingatkan bahwa pergerakan nilai tukar juga dipengaruhi banyak faktor lain.

Di antaranya kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Fed), arus modal global, harga komoditas dunia, neraca perdagangan, hingga kondisi geopolitik internasional.

Namun demikian, pernyataan Prabowo dinilai mencerminkan keinginan pemerintah untuk memperkuat fondasi ekonomi domestik agar Indonesia tidak terlalu bergantung pada faktor eksternal.

NU Diminta Ikut Kawal Kemandirian Bangsa

Dalam forum Munas dan Konbes NU tersebut, Prabowo juga mengajak seluruh elemen bangsa, termasuk Nahdlatul Ulama, untuk ikut mengawal agenda kemandirian ekonomi nasional.

Menurutnya, Indonesia memiliki modal besar untuk menjadi negara maju apabila mampu menjaga kekayaan alam, memperkuat industri nasional, dan memastikan hasil pembangunan dinikmati secara adil oleh seluruh rakyat.

Pernyataan Presiden itu pun memantik diskusi luas di ruang publik mengenai arah kebijakan ekonomi nasional, penguatan rupiah, serta upaya mengurangi kebocoran kekayaan negara yang selama ini menjadi perhatian berbagai kalangan.***

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari radarjakarta.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.