JAKARTA, Radarjakarta.id – Anggota Komisi C DPRD DKI Jakarta, Josephine Simanjuntak, menyoroti capaian laba bersih PT Food Station Tjipinang Jaya (Perseroda) pada tahun anggaran 2026 yang dinilai masih jauh dari target. Ia meminta manajemen perusahaan daerah tersebut memperkuat inovasi bisnis dan melakukan diversifikasi produk agar tidak bergantung pada pendapatan dari program subsidi pangan.
Politikus Fraksi Partai Solidaritas Indonesia (PSI) itu mengungkapkan, target laba bersih Food Station tahun 2026 semula ditetapkan sebesar Rp30,150 miliar. Namun hingga pertengahan tahun, realisasinya baru mencapai Rp2,813 miliar.
“Target laba bersih tahun 2026 sebesar Rp30,150 miliar, namun hingga pertengahan tahun baru terealisasi Rp2,813 miliar. Capaian ini sangat jauh dari target. Sementara itu, rancangan target laba bersih tahun 2027 justru ditetapkan sebesar Rp8,159 miliar,” ujar Josephine dalam keterangannya, Kamis (6/8/2026).
Menurut Josephine, penyusunan target kinerja tersebut perlu didasarkan pada perhitungan yang realistis agar dapat dicapai. Persoalan ini sebelumnya juga disampaikannya dalam rapat kerja Komisi C DPRD DKI Jakarta yang membahas Kebijakan Umum Anggaran dan Prioritas Plafon Anggaran Sementara (KUA-PPAS) Tahun Anggaran 2027 di Gedung DPRD DKI Jakarta pada Kamis (30/7/2026).
“Apakah target ini telah disusun secara realistis? Bagaimana strategi Food Station untuk mencapai target tersebut, sementara target tahun 2026 saja masih sangat sulit direalisasikan?” katanya.
Selain menyoroti capaian laba, Josephine juga mengkritisi masih besarnya ketergantungan Food Station terhadap pendapatan dari skema Public Service Obligation (PSO) melalui program penyaluran pangan bersubsidi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Menurutnya, meski penyaluran subsidi merupakan bagian dari fungsi pelayanan publik BUMD, perusahaan tetap dituntut mampu mengembangkan bisnis komersial yang berkelanjutan.
“Subsidi pangan memang menjadi kewajiban BUMD dalam menjalankan pelayanan publik. Namun, Food Station juga harus mampu berinovasi agar dapat meningkatkan laba bersih dari kegiatan usaha komersial serta memberikan kontribusi dividen yang lebih besar bagi Pendapatan Asli Daerah (PAD),” ujarnya.
Sebagai solusi, Josephine mendorong Food Station memperluas diversifikasi produk sekaligus memperkuat strategi pemasaran langsung kepada konsumen. Salah satu peluang yang dinilai potensial adalah memperluas penetrasi pasar ke kawasan hunian milik BUMD maupun Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, termasuk rumah susun sederhana sewa (Rusunawa).
“Perlu dilakukan diversifikasi produk serta penempatan tenaga penjualan di kawasan hunian seperti rusun milik BUMD agar pasar semakin luas dan penjualan produk meningkat,” pungkasnya.***











