IYCF 2026 UI Wujudkan Aksi Nyata Peduli Lingkungan Melalui Environmental Waste Sweeping di Cidahu Sukabumi

banner 468x60

DEPOK, Radarjakarta.id– Peserta International Youth Climate Forum (IYCF) 2026 yang diselenggarakan Universitas Indonesia (UI), termasuk 25 mahasiswa internasional bersama mahasiswa dan dosen aktif UI, melakukan kegiatan Environmental Waste Sweeping di kawasan permukiman dan sumber air masyarakat di Cidahu, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

Dalam kegiatan penyisiran sampah tersebut, para peserta berhasil mengumpulkan total 26 kilogram sampah yang terdiri atas 15 kilogram material residu dengan potensi daur ulang rendah, 7 kilogram sampah campuran, 3 kilogram material yang memiliki nilai daur ulang tinggi, serta 1 kilogram sampah organik.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Ketua Program IYCF 2026, Assoc. Prof. Dr. Hendra Kaprisma, S.Hum, mengatakan temuan tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar sampah yang ditemukan masih didominasi material yang sulit didaur ulang.

“Temuan tersebut menjadi pengingat akan pentingnya pengurangan sampah sejak dari sumbernya melalui perubahan perilaku dan peningkatan kesadaran masyarakat. Hal ini sekaligus memberikan gambaran mengenai tantangan pengelolaan limbah di tingkat komunitas dan menjadi bahan pembelajaran bagi peserta dalam memahami pentingnya pengurangan sampah dari sumbernya,” ujar Hendra dalam keterangan resmi yang diterima Poskota, Sabtu (14/6/2026).

Menurutnya, kegiatan tersebut juga menjadi sarana edukasi mengenai prinsip ekonomi sirkular dan pentingnya pengelolaan sampah berkelanjutan sebagai bagian dari upaya mitigasi dampak lingkungan.

Program ini diselenggarakan oleh tim multidisiplin CARAKA Youth Initiatives Universitas Indonesia, dengan Hendra Kaprisma sebagai Ketua Program, apt. Tri Wahyuni, M.Biomed., Ph.D. sebagai Koordinator Rumpun Kesehatan, Ns. Indah Permata Sari, M.Kep., Sp.Kep.Kom. sebagai bendahara, serta Diah Kartini Lasman, M.Hum. sebagai Koordinator Rumpun Sosial Humaniora.

“Kolaborasi lintas disiplin menjadi bagian penting dalam membangun pendekatan keberlanjutan yang tidak hanya berfokus pada aspek lingkungan, tetapi juga mempertimbangkan dimensi kesehatan, sosial, dan budaya masyarakat,” katanya.

Hendra menilai salah satu tantangan terbesar dalam menghadapi perubahan iklim adalah menghubungkan pengetahuan yang diperoleh melalui pendidikan dengan tindakan nyata yang memberikan dampak langsung bagi masyarakat.

“Forum internasional memiliki peran penting dalam membangun pemahaman dan jejaring kolaborasi. Namun, tantangan lingkungan tidak akan terselesaikan tanpa aksi nyata. Karena itu, peserta IYCF tidak hanya berdiskusi mengenai perubahan iklim, tetapi juga terlibat langsung dalam kegiatan yang memungkinkan mereka memahami persoalan lingkungan dari perspektif masyarakat serta berkontribusi terhadap solusi yang dibutuhkan di tingkat lokal,” ujarnya.

Ia menambahkan, keterlibatan pemuda dari berbagai negara dalam kegiatan berbasis komunitas menjadi sarana pembelajaran yang memperkaya perspektif global mengenai keberlanjutan.

“Ketika peserta dari berbagai latar belakang budaya bekerja bersama di lapangan, mereka belajar bahwa isu lingkungan pada dasarnya merupakan tanggung jawab bersama. Pengalaman ini membangun empati, memperkuat kapasitas kepemimpinan, dan mendorong lahirnya kolaborasi yang dapat menghasilkan dampak jangka panjang bagi masyarakat maupun lingkungan,” tambahnya.

Lebih dari sekadar kegiatan bersih-bersih lingkungan, *Environmental Waste Sweeping* menjadi bagian dari upaya membangun generasi muda yang memiliki kesadaran ekologis, kemampuan kolaboratif, dan komitmen terhadap pembangunan berkelanjutan.

Menurut Hendra, kegiatan tersebut menunjukkan bagaimana pendidikan dapat menjadi instrumen untuk menghubungkan pengetahuan, kebijakan, dan aksi nyata dalam menjawab tantangan global yang semakin kompleks.

“Program ini juga sejalan dengan berbagai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (*Sustainable Development Goals/SDGs*), khususnya SDG 3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas, SDG 6 tentang Air Bersih dan Sanitasi Layak, SDG 11 tentang Kota dan Permukiman Berkelanjutan, SDG 13 tentang Penanganan Perubahan Iklim, serta SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan,” tuturnya.

Melalui kolaborasi antara institusi pendidikan, komunitas lokal, dan pemuda internasional, kegiatan ini memperlihatkan bagaimana solusi terhadap tantangan global dapat dimulai dari aksi sederhana yang dilakukan secara bersama-sama.

Pada akhirnya, lanjut Hendra, kegiatan *Environmental Waste Sweeping* di Cidahu menegaskan bahwa pendidikan iklim yang efektif tidak berhenti pada transfer pengetahuan, tetapi harus diwujudkan melalui pengalaman langsung yang mendorong perubahan perilaku dan kepedulian terhadap lingkungan.

“Melalui IYCF 2026, Universitas Indonesia menghadirkan ruang kolaborasi yang menghubungkan pemuda dunia dengan masyarakat lokal untuk bersama-sama membangun masa depan yang lebih sehat, inklusif, dan berkelanjutan,” pungkasnya.

 

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari radarjakarta.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.