NGANJUK, Radarjakarta.id — Presiden Prabowo Subianto meresmikan Museum dan Rumah Singgah Marsinah di Desa Nglundo, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu (16/5/2026). Peresmian ini langsung menjadi sorotan nasional karena membawa kembali ingatan publik pada kisah tragis Marsinah, aktivis buruh perempuan yang tewas misterius usai memperjuangkan hak pekerja pada era Orde Baru.
Dengan mengenakan pakaian khas cokelat krem dan kacamata hitam, Prabowo tiba di lokasi menggunakan kendaraan kepresidenan Maung Garuda sekitar pukul 08.58 WIB. Kehadirannya disambut antusias warga serta jajaran pejabat negara dan pimpinan serikat pekerja nasional.
“Dengan mengucap Bismillahirrahmanirrahim, pada pagi hari ini saya Prabowo Subianto Presiden Republik Indonesia meresmikan Museum Ibu Marsinah dan Rumah Singgah di Kabupaten Nganjuk,” ujar Prabowo dalam sambutannya.
Presiden menyebut peresmian museum perjuangan buruh seperti ini sebagai peristiwa langka dalam sejarah Indonesia. Menurutnya, keberadaan Museum Marsinah bukan sekadar bangunan, melainkan simbol penghormatan negara terhadap perjuangan kaum pekerja.
Dari Buruh Pabrik Hingga Jadi Simbol Perlawanan
Nama Marsinah bukan sosok asing dalam sejarah pergerakan buruh Indonesia. Perempuan kelahiran Nglundo, Nganjuk, 10 April 1969 itu dikenal sebagai pekerja pabrik yang berani melawan ketidakadilan upah dan perlakuan terhadap buruh.
Lahir dari keluarga sederhana pasangan Astin dan Sumini, Marsinah sempat bermimpi melanjutkan kuliah. Namun keterbatasan ekonomi memaksanya merantau ke Surabaya pada 1989 untuk bekerja demi membantu keluarga.
Ia pernah bekerja di sejumlah perusahaan sebelum akhirnya bergabung dengan PT Catur Putra Surya (PT CPS) di Porong, Sidoarjo. Di tempat itulah keberaniannya mulai dikenal. Marsinah aktif memperjuangkan hak rekan-rekan buruh dan terlibat dalam organisasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI).
Ketika pemerintah Jawa Timur saat itu mengeluarkan imbauan kenaikan upah 20 persen pada 1993, perusahaan tempat Marsinah bekerja disebut tidak segera menjalankannya. Kondisi itu memicu gelombang aksi buruh yang menuntut kenaikan gaji dan perlindungan hak pekerja.
Marsinah menjadi salah satu tokoh paling vokal dalam aksi tersebut.
Hilang Misterius, Ditemukan Tewas Mengenaskan
Peristiwa yang membuat nama Marsinah dikenang sepanjang masa terjadi pada Mei 1993. Setelah terlibat dalam aksi mogok kerja dan negosiasi dengan perusahaan, sejumlah buruh disebut dibawa aparat untuk diperiksa.
Marsinah kemudian dikabarkan mendatangi kantor militer untuk mencari rekan-rekannya. Namun setelah itu ia menghilang.
Empat hari kemudian, jasad Marsinah ditemukan di wilayah Nganjuk dalam kondisi mengenaskan. Hasil autopsi menyebut adanya dugaan penganiayaan berat dan kekerasan seksual sebelum ia meninggal dunia.
Kasus tersebut mengguncang Indonesia dan memicu kemarahan publik. Hingga kini, kematian Marsinah masih menyisakan tanda tanya besar dan dianggap sebagai salah satu misteri pelanggaran HAM paling kelam dalam sejarah buruh Indonesia.
Prabowo: Marsinah Kini Jadi Simbol Sejarah Buruh
Presiden KSPSI Andi Gani Nena Wea menyebut kehadiran Presiden Prabowo menjadi bentuk penghormatan negara terhadap perjuangan kaum buruh.
“Marsinah adalah simbol sejarah perjuangan buruh Indonesia. Kini namanya diabadikan dalam museum yang diresmikan langsung oleh Presiden Republik Indonesia,” ujarnya.
Sebelumnya, Prabowo juga sempat menyinggung nama Marsinah dalam peringatan Hari Buruh Internasional di Monas pada 1 Mei 2026. Saat itu ia menegaskan bahwa negara tidak boleh melupakan sejarah perjuangan pekerja.
Museum Marsinah dibangun sebagai pusat edukasi sejarah sekaligus pengingat tentang keberanian memperjuangkan keadilan sosial dan kemanusiaan.
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menilai museum tersebut akan menjadi ruang pembelajaran penting bagi generasi muda.
“Yang dibangun bukan hanya gedung, tetapi ruang nilai tentang keberanian, kejujuran, dan keberpihakan pada keadilan,” kata Khofifah.
Kini, nama Marsinah kembali menggema. Dari seorang buruh pabrik sederhana, ia berubah menjadi simbol perlawanan yang kisahnya terus hidup lintas generasi.|Harno*











