JAKARTA, Radarjakarta.id – Aparat Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) dinilai berhasil menjaga situasi kondusif dalam peringatan Hari Buruh Internasional (May Day) 2026 di Jakarta.
Melalui operasi preventif berbasis intelijen, polisi mengamankan 101 orang yang diduga hendak memicu kerusuhan di tengah aksi buruh yang berlangsung damai.
Pendiri Haidar Alwi Institute, R. Haidar Alwi, mengapresiasi langkah tersebut sebagai bentuk profesionalisme aparat dalam menjaga stabilitas tanpa mengganggu kebebasan berekspresi.
“Langkah ini bukan sekadar penegakan hukum, melainkan bentuk nyata kehadiran negara dalam melindungi ruang demokrasi agar tidak dibajak oleh kepentingan destruktif,” ujar Haidar Alwi dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (2/5/2026).
Dari hasil pengamanan, aparat menemukan sejumlah barang berbahaya, seperti bom molotov, bahan bakar, ketapel, hingga paku beton. Temuan ini mengindikasikan adanya dugaan rencana terorganisir untuk menciptakan kekacauan dalam momentum aksi buruh.
Menurut Haidar, pendekatan Polri yang membedakan antara peserta aksi damai dan kelompok berpotensi anarkis menjadi faktor penting dalam keberhasilan pengamanan.
“Pendekatan ini menjaga hak konstitusional buruh untuk menyampaikan aspirasi, sekaligus mencegah eskalasi konflik yang merugikan masyarakat luas,” katanya.
Ia juga menyoroti langkah Polri yang tidak langsung menahan seluruh pihak yang diamankan. Para terduga pelaku, lanjutnya, tetap menjalani pemeriksaan sesuai prosedur hukum dengan menjunjung tinggi prinsip hak asasi manusia dan asas praduga tak bersalah.
“Ini mencerminkan keseimbangan antara ketegasan dan humanisme dalam praktik penegakan hukum,” tambahnya.
Lebih lanjut, Haidar menyebut bahwa Polri tidak hanya fokus pada penanganan di lapangan, tetapi juga melakukan pendalaman terkait dugaan aliran dana yang menggerakkan kelompok tersebut. Upaya ini dinilai sebagai bentuk komitmen untuk mengungkap kemungkinan adanya aktor intelektual di balik rencana kerusuhan.
“Pendekatan ini menunjukkan pergeseran dari respons insidental menuju strategi penegakan hukum yang lebih sistemik,” ujarnya.
Keberhasilan pengamanan May Day 2026, kata Haidar, menjadi bukti bahwa stabilitas dan kebebasan dapat berjalan beriringan ketika negara hadir secara tepat.
“Tanpa intervensi preventif tersebut, potensi kerusuhan tidak hanya mengancam keselamatan publik, tetapi juga berisiko merusak legitimasi gerakan buruh itu sendiri,” pungkasnya.
Polri pun kembali menegaskan komitmennya untuk menjaga keamanan tanpa mengorbankan kebebasan, serta menindak tegas setiap upaya yang mengancam ketertiban umum.











