ART Tewas di Benhil, Lompat dari Lantai 4 Tengah Malam

banner 468x60

Ilustrasi.

JAKARTA, Radarjakarta.id – Suasana tenang di kawasan Bendungan Hilir, Tanah Abang, Jakarta Pusat, mendadak berubah mencekam. Dua asisten rumah tangga (ART) nekat melompat dari lantai empat sebuah rumah yang juga difungsikan sebagai kos, Rabu (22/4/2026) sekitar pukul 23.00 WIB. Aksi ekstrem itu diduga sebagai upaya putus asa untuk melarikan diri dari tempat kerja.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Tragedi ini berakhir pilu. Seorang ART berinisial D (18) meninggal dunia di lokasi, sementara rekannya R (30) selamat namun mengalami patah tangan dan kini masih menjalani perawatan intensif di RS Mintohardjo. Kedua korban diketahui belum lama bekerja di rumah tersebut—bahkan salah satunya baru hitungan hari.

Penjaga kos, Edi, mengungkapkan bahwa dirinya tidak mengenal dekat para korban. Ia hanya sesekali berpapasan. “Yang satu baru beberapa bulan, yang satu lagi bahkan baru lima hari kerja,” ujarnya. Saat kejadian, Edi sedang tertidur dan terbangun setelah warga berteriak melaporkan dua perempuan terjatuh dari lantai atas.

Saat tiba di lokasi, pemandangan memilukan terlihat. “Satu sudah tidak bergerak, yang satu lagi merintih kesakitan,” kata Edi. Dalam kondisi terluka, korban sempat menyebut majikannya berada di lantai empat saat kejadian berlangsung.

Bangunan tersebut terdiri dari empat lantai—tiga lantai digunakan sebagai kos campuran dengan puluhan kamar, sementara lantai paling atas menjadi tempat tinggal pemilik. Namun, pemilik disebut tidak selalu berada di lokasi setiap hari.

Polisi menduga aksi nekat ini bukan tanpa alasan. Berdasarkan keterangan awal, kedua ART tersebut diduga berusaha kabur karena tidak betah bekerja. Dugaan mengarah pada tekanan psikologis akibat sikap majikan yang disebut “galak” oleh sejumlah saksi.

Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Pusat AKBP Roby Heri Saputra menegaskan pihaknya belum mengambil kesimpulan final. “Informasi awalnya mereka ingin kabur. Tapi ini masih kami dalami,” ujarnya. Polisi kini tengah mengusut kemungkinan adanya tekanan, baik verbal maupun tindakan, yang mendorong korban nekat mengambil risiko fatal.

Sejumlah saksi juga menguatkan dugaan tersebut. Meski tidak ada laporan penyiksaan fisik secara langsung, sikap keras majikan disebut menciptakan ketakutan dan ketidaknyamanan bagi para pekerja.

Hingga kini, penyelidikan masih berlangsung. Polisi telah memeriksa majikan, pemilik kos, serta sejumlah saksi lain. Bukti tambahan seperti rekaman CCTV juga tengah ditelusuri untuk mengungkap apa yang sebenarnya terjadi sebelum detik-detik tragis itu.

Kasus ini kembali membuka pertanyaan besar soal perlindungan pekerja rumah tangga di Indonesia apakah mereka benar-benar aman, atau justru terjebak dalam tekanan yang tak terlihat?

|Bemby*

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari radarjakarta.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.