NTT, Radarjakarta.id – Duka mendalam menyelimuti publik atas tragedi meninggalnya seorang siswa kelas IV SD berinisial YBS (10) di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT). Peristiwa memilukan yang terjadi pada Kamis (29/1/2026) itu diduga dipicu oleh tekanan batin korban setelah permintaannya untuk membeli buku dan pulpen tak dapat dipenuhi sang ibu karena keterbatasan ekonomi.
Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi Partai NasDem, Ratih Megasari Singkarru, menyampaikan rasa sedih dan keprihatinan mendalam atas tragedi tersebut. Ia menilai peristiwa ini sebagai luka sosial yang menyayat hati bangsa.
“Kami menyampaikan duka cita yang sedalam-dalamnya. Hati kami begitu berat dan pilu saat mendengar kabar ini. Semoga ibu dan seluruh keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan, kesabaran, dan ketabahan menghadapi masa yang sangat sulit,” ujar Ratih dalam keterangannya, Rabu (4/2/2026).
Tragedi ini juga mendapat perhatian serius dari Menteri Sosial Saifullah Yusuf. Mensos yang akrab disapa Gus Ipul menyatakan duka cita sekaligus menegaskan bahwa peristiwa tersebut harus menjadi atensi bersama, baik pemerintah pusat maupun daerah.
“Tentu kita prihatin dan turut berduka. Ini harus menjadi perhatian kita bersama, termasuk pemerintah daerah,” kata Gus Ipul di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (3/2/2026).
Menurut Gus Ipul, kasus ini menunjukkan pentingnya penguatan pendampingan sosial serta pembenahan basis data keluarga miskin agar negara dapat hadir lebih cepat dan tepat sasaran. Ia menekankan bahwa masih ada keluarga rentan yang luput dari jangkauan perlindungan sosial.
“Kita harus memperkuat pendampingan dan data. Jangan sampai ada keluarga miskin yang tidak terdata. Akurasi data menjadi kunci agar perlindungan, rehabilitasi, dan pemberdayaan bisa benar-benar dirasakan,” tegasnya.
Sementara itu, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti mengaku akan mendalami lebih lanjut peristiwa tersebut. Ia menyatakan pihaknya belum menerima laporan lengkap dan akan menelusuri penyebabnya secara menyeluruh.
Kasus ini semakin menggetarkan setelah polisi menemukan sepucuk surat tulisan tangan milik korban saat proses evakuasi di lokasi kejadian. Surat yang ditulis dalam bahasa daerah Bajawa itu ditujukan kepada sang ibu dan berisi ungkapan perpisahan yang menyentuh hati.
Diketahui, korban merupakan anak dari keluarga kurang mampu. Sang ibu adalah orang tua tunggal yang bekerja sebagai petani dan buruh serabutan, serta harus menghidupi lima orang anak. Korban sendiri tinggal bersama neneknya.
Hingga kini, aparat kepolisian masih menyelidiki latar belakang peristiwa tersebut secara menyeluruh, termasuk kondisi psikologis korban dan faktor sosial ekonomi keluarga.
Tragedi ini kembali membuka mata publik tentang kerasnya realitas kemiskinan yang dapat menghantam anak-anak, serta menjadi peringatan keras bahwa persoalan pendidikan, kesejahteraan, dan perlindungan sosial masih menjadi pekerjaan besar bangsa. |Anton Bribe*











