BOGOR, Radarjakarta.id – Memasuki hari kedua pelaksanaan Retret Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), para peserta tampak penuh semangat mengawali rangkaian kegiatan dengan olahraga pagi bersama di Pusat Kompetensi Bela Negara, Desa Cibodas, Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Jumat (30/1/2026).
Suasana pagi yang sejuk menambah antusiasme peserta dalam mengikuti kegiatan yang dirancang untuk membangun kebugaran fisik sekaligus mempererat kebersamaan.
Kegiatan ini diikuti oleh 160 peserta yang merupakan perwakilan PWI Pusat dan PWI Daerah dari seluruh Indonesia.
Usai olahraga pagi, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan latihan Peraturan Baris Berbaris (PBB).
Dengan penuh antusias, para peserta mengikuti setiap aba-aba yang diberikan. Latihan ini tidak hanya melatih ketepatan dan tanggung jawab, tetapi juga menanamkan nilai disiplin, patriotisme, kerja sama, serta solidaritas antar sesama insan pers.
Kegiatan kemudian berlanjut dengan penerimaan materi Nilai Dasar Bela Negara yang disampaikan oleh Widyaiswara Puskom Bela Negara di Aula Bela Negara. Pembelajaran ini menjadi bekal penting agar para peserta mampu memahami dan menerapkan nilai-nilai kebangsaan dalam lingkungan kerja dan profesi masing-masing, khususnya dalam menjalankan tugas jurnalistik yang berorientasi pada kepentingan bangsa dan negara.
Melalui retret yang diselenggarakan oleh Kementerian Pertahanan ini, diharapkan peserta PWI tidak hanya memperoleh penguatan fisik dan mental, tetapi juga memiliki kesadaran kebangsaan yang semakin kokoh. Nilai disiplin, tanggung jawab, serta semangat kebersamaan yang ditanamkan selama kegiatan diharapkan menjadi fondasi dalam menjalankan peran strategis pers sebagai pilar demokrasi yang profesional dan berintegritas.
Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pemaparan dari Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamendigi) Indonesia, Nezar Patria, yang mengangkat tema “Transformasi Digital Nasional, Etika media dan Tantangan Disrupsi Informasi”.
Dalam paparannya, Nezar Patria menegaskan bahwa masa depan pers nasional sangat ditentukan oleh kemampuan membangun ekosistem jurnalistik yang sehat, adil, dan berkelanjutan di tengah transformasi digital nasional. Pemerintah, kata dia, terus berupaya menciptakan fair level playing field bagi media melalui penguatan kebijakan publisher rights, agar pers nasional tidak terpinggirkan oleh dominasi platform digital global.
“Dari sisi regulasi, Kementerian Komunikasi dan Digital berkomitmen menyusun kebijakan yang mengedepankan etika, akurasi, dan inklusivitas, sehingga pers tetap menjadi rujukan utama masyarakat dalam memperoleh informasi yang benar,” ujar Nezar.
Ia juga menyoroti pentingnya peningkatan kualitas sumber daya manusia jurnalistik, terutama dalam penguasaan teknologi digital.
Menurutnya, transformasi digital harus dibarengi dengan penguatan etika profesi agar kemajuan teknologi tidak justru melahirkan disinformasi.
Nezar menegaskan bahwa etika merupakan benteng utama jurnalistik di tengah maraknya fake news, misinformasi, serta tren “AI Slop” atau produksi konten berbasis kecerdasan buatan tanpa verifikasi.
Oleh karena itu, pemanfaatan AI dalam karya jurnalistik harus tetap berada di bawah kontrol manusia.
“AI adalah alat bantu, bukan pengganti jurnalis. Keputusan editorial harus tetap berada di tangan manusia yang bertanggung jawab,” tegasnya.
Ia memaparkan pedoman penggunaan kecerdasan buatan dalam karya jurnalistik, yang meliputi prinsip kontrol manusia, verifikasi dan akurasi, tanggung jawab, serta transparansi. Prinsip tersebut dinilai krusial agar teknologi dimanfaatkan secara bijak dan tidak menjadi sarana penyebaran disinformasi maupun konten sampah.
Lebih lanjut, Nezar Patria menegaskan bahwa pers memiliki peran strategis dalam menjaga ketahanan informasi, demokrasi, dan keamanan nasional. Di tengah derasnya arus informasi digital, pers dituntut tidak hanya cepat, tetapi juga akurat, berimbang, dan berintegritas.
“Pers yang profesional dan berwawasan kebangsaan adalah fondasi penting bagi demokrasi yang sehat dan ketahanan nasional yang kuat,” pungkasnya.***
Hari Kedua Retret PWI, Wamendigi: Pers Profesional Kunci Ketahanan Informasi Nasional










