Ajang Pencarian Bakat Dinilai Tak Adil, MADASNU MUDA Datangi KPI

MADASNU MUDA menyampaikan laporan dan keprihatinan atas mekanisme penilaian salah satu program pencarian bakat di televisi swasta nasional ke Komisi Penyiaran Indonesia (KPI).
banner 468x60

JAKARTA, Radarjakarta.id – Organisasi kepemudaan Madas Nusantara Muda (MADASNU MUDA) mendatangi kantor Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) di Jalan Ir. H. Juanda No. 36, Jakarta, guna menyampaikan laporan dan keprihatinan atas mekanisme penilaian salah satu program pencarian bakat di televisi swasta nasional.

Dalam kunjungan tersebut, MADASNU MUDA secara khusus menyoroti program D’Academy 7 (DA7) salah satu tv swasta, yang dinilai telah bergeser dari esensi ajang pencarian bakat. Penentuan peserta lolos hingga juara disebut terlalu didominasi oleh sistem virtual gift, bukan murni berdasarkan kualitas bakat.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Ketua Umum Madas Nusantara Muda, Abdul Kholiq mengatakan laporan tersebut telah diterima dengan baik oleh KPI dan akan dianalisis untuk ditindaklanjuti.

“Alhamdulillah, laporan kami diterima dengan baik dan akan dianalisis lebih lanjut oleh KPI,” ujar Abdul Kholiq kepada wartawan.

Ia menegaskan, laporan tersebut bukan ditujukan untuk membela atau menjatuhkan peserta tertentu, maupun terkait suku, darah, atau golongan apapun. MADASNU MUDA, kata dia, hadir sebagai representasi keresahan masyarakat umum.

“Kami melaporkan ini karena merasa ada ketidakadilan dalam ajang pencarian bakat. Bayangkan jika pemenang dinilai dari virtual gift, bukan dari bakat. Artinya yang punya modal dan uang lebih besar yang berpeluang menang. Ini jelas mencederai rasa keadilan dalam kompetisi,” tegasnya.

Menurut Abdul Kholiq, ajang pencarian bakat seharusnya mengedepankan penilaian profesional juri berdasarkan kemampuan peserta, bukan kekuatan finansial pendukung.

Dalam pernyataan sikapnya, MADASNU MUDA menyampaikan keprihatinan serius terhadap pola penilaian DA7 yang dinilai berpotensi menggeser orientasi publik, khususnya generasi muda, dari prestasi dan bakat menjadi dominasi modal.

“Kami tidak menolak inovasi digital, tetapi kami menolak ketidakadilan yang dibungkus inovasi. Penyiaran publik harus menjunjung tinggi integritas, transparansi, dan tanggung jawab sosial,” demikian pernyataan organisasi tersebut.

MADASNU MUDA mendesak untuk mengembalikan peran utama penilaian juri profesional, serta membuka secara transparan mekanisme penilaian kepada publik agar tidak menimbulkan persepsi bahwa ajang pencarian bakat telah berubah menjadi ajang adu modal.|Bemby

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari radarjakarta.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.