Lukisan dari Balik Tembok: Ketika Narapidana Bicara Lewat Warna

banner 468x60

PASURUAN, Radarjakarta.id  – Suasana Rutan Kelas IIB Bangil tampak berbeda. Di balik jeruji, bukan hanya kesunyian yang lahir, tetapi juga warna dan makna. Para Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) tampil percaya diri mempersembahkan karya seni terbaik mereka dalam ajang Indonesia Prison Products and Art Festival (IPPAFEST) 2025, yang berlangsung pada 8–10 Agustus mendatang.

Tak sekadar ajang kompetisi, IPPAFEST menjadi panggung pengakuan bagi kreativitas dari tempat yang kerap dipandang sebelah mata. Di antara kanvas dan kuas, WBP Rutan Bangil memperlihatkan karya lukisan hasil pembinaan kesenian yang selama ini digembleng dalam keterbatasan ruang.

Lukisan-lukisan tersebut tak hanya dipamerkan dalam lomba, tapi juga dilelang kepada publik sebuah bentuk apresiasi sekaligus pengakuan terhadap daya cipta dari balik tembok pembatas. Kegiatan ini adalah bagian dari transformasi sistem pemasyarakatan, yang kini mengedepankan pembinaan berbasis kreativitas dan kemandirian.

Kreativitas Tak Terpenjara

Imron Rosyadi, Kepala Subseksi Pelayanan Tahanan Rutan Bangil, tak dapat menyembunyikan rasa bangganya. “Kami ingin publik melihat bahwa para WBP bukan sekadar narapidana, tapi individu yang tengah berproses menjadi lebih baik melalui karya nyata,” ujarnya, Kamis (31/7).

Menurut Imron, partisipasi aktif dalam IPPAFEST menjadi bentuk rehabilitasi psikososial yang sangat berdampak. “Karya seni menjadi media refleksi, sekaligus bekal untuk membangun kembali jati diri mereka.”

Dari Lomba Menuju Lelang, dari Rutan Menuju Harapan

Antusiasme publik terhadap hasil karya para WBP menjadi penanda bahwa seni bisa menembus batas stigma. Masyarakat yang hadir dalam gelaran IPPAFEST tak sekadar menyaksikan, namun turut memberi makna melalui lelang sebagai bentuk apresiasi.

IPPAFEST 2025 tidak hanya memamerkan hasil pembinaan, tapi juga membuka ruang dialog antara warga binaan dan masyarakat luas. Di sinilah nilai pemasyarakatan benar-benar diterjemahkan dalam tindakan: membangun jembatan reintegrasi sosial.

“Merdeka Kreativitas Walau di Tempat Terbatas”

Semangat ini menjadi napas dari seluruh proses pembinaan di Rutan Bangil. Dalam keterbatasan, lahir kekuatan. Dalam keheningan, tumbuh harapan.

Melalui karya seni, WBP belajar bahwa masa depan bukan ditentukan oleh masa lalu, melainkan oleh keberanian untuk terus berkarya bahkan dari tempat yang paling sunyi sekalipun.| Eva*

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari radarjakarta.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.