Isu Ijazah Jokowi Diungkit Lagi, Ancaman Demokrasi?

banner 468x60

RADAR JAKARTA|Jakarta – Isu dugaan ijazah palsu Presiden ke-7 RI, Joko Widodo, kembali mencuat di tengah memanasnya suhu politik nasional. Meski telah dibantah berkali-kali, termasuk oleh Universitas Gadjah Mada (UGM), narasi ini terus dihidupkan, terutama menjelang transisi pemerintahan ke Presiden terpilih Prabowo Subianto.

Pengamat hukum dan politik, Pieter C. Zulkifli, menyebut isu ini sebagai “komoditas politik musiman” yang sengaja dikapitalisasi. “Isu ini tidak berdiri sendiri. Ia menyasar Jokowi, tapi efeknya bisa menggoyang legitimasi pemerintahan baru,” tegas Pieter dalam keterangannya, Rabu (23/4/2025).

Menurut Pieter, tuduhan tersebut telah berkali-kali dibantah secara terbuka. UGM bahkan secara detail membeberkan data akademik Jokowi. Namun, sebagian pihak masih menggulirkan isu ini dengan narasi insinuatif dan tendensius.

“Ini bukan soal ijazah, tapi kegagalan sebagian elite dalam memahami cara beroposisi yang sehat. Kita sedang menghadapi erosi etika dan akal sehat dalam ruang demokrasi terbuka,” ujar Pieter.

Ia menekankan pentingnya publik memahami siapa yang diuntungkan dari kegaduhan ini. Menurutnya, narasi seperti ini justru berbahaya karena bisa menurunkan kepercayaan publik pada institusi pendidikan dan menciptakan instabilitas politik yang berdampak pada ekonomi.

“Investor memerlukan kepastian hukum dan stabilitas. Jika isu-isu ini terus dikapitalisasi, bukan hanya politik dalam negeri yang terguncang, tapi juga reputasi Indonesia di mata dunia,” katanya.

Pieter juga mengkritisi aksi-aksi publik yang menurutnya lebih bernada agitasi daripada mengedepankan data. Ia meminta aparat penegak hukum untuk bersikap tegas terhadap penyebar fitnah dengan dalih kebebasan berpendapat.

“Kebebasan tidak boleh jadi tameng untuk merusak. Ketegasan adalah benteng terakhir bagi akal sehat demokrasi,” tegasnya.

Ia pun mengajak para elite politik untuk melakukan introspeksi dan menghentikan narasi-narasi destruktif. “Arahkan energi politik kita pada isu nyata rakyat, bukan pada kampanye busuk yang hanya menguntungkan segelintir orang,” pungkas Pieter.***

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari radarjakarta.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.