Tokoh Buddha, Rafian Tama Ajak Umat Jaga Kerukunan dan Persatuan

banner 468x60

JAKARTA BARAT, Radarjakarta.id – Tokoh lintas agama di Jakarta Barat menggelar forum silaturahmi dan dialog kebangsaan di Gereja Bethel Indonesia (GBI) Citra 2, Jumat (15/5/2026), sebagai upaya memperkuat toleransi dan menjaga persatuan di tengah keberagaman masyarakat Indonesia.

Kegiatan bertema “Bersama Merawat Kerukunan, Menebar Damai, Berdampak Nyata” itu dihadiri perwakilan tokoh agama Islam, Kristen, Katolik, Buddha, dan Konghucu, serta sejumlah tokoh masyarakat dan organisasi kemasyarakatan. Forum tersebut menjadi ruang dialog untuk memperkuat kerja sama antarumat beragama sekaligus mencegah potensi konflik sosial di masyarakat.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Ketua Penguat Keragaman Masyarakat Nusantara, Pdt. Yohanes Rudy, mengatakan kegiatan tersebut menjadi momentum penting untuk memperkuat persaudaraan kebangsaan, terutama di tengah tantangan sosial dan derasnya penyebaran informasi yang berpotensi memecah belah masyarakat.

“Tokoh agama memiliki tanggung jawab menjaga suasana damai dan menjadi penengah ketika muncul ketegangan di tengah masyarakat,” ujarnya.

Tokoh agama Buddha, PMd. Rafian Tama Periadi, S.Ag., dalam forum tersebut menyoroti pentingnya penerapan konsep Jalan Tengah dalam kehidupan sosial dan beragama di Indonesia. Menurutnya, masyarakat perlu menghindari sikap ekstrem, baik dalam menyikapi perbedaan pandangan, keyakinan, maupun persoalan sosial di tengah kehidupan bermasyarakat yang majemuk.

Ia menjelaskan bahwa dalam ajaran Buddha, Jalan Tengah atau Middle Way merupakan prinsip hidup yang menekankan keseimbangan, kebijaksanaan, dan pengendalian diri agar manusia tidak mudah terpancing emosi, kebencian, maupun tindakan yang merugikan orang lain.

“Moderasi dan keseimbangan sangat penting dalam kehidupan sosial. Ketika seseorang bersikap ekstrem, maka potensi konflik dan perpecahan akan lebih mudah muncul,” ujarnya.

Rafian menilai nilai-nilai tersebut sangat relevan diterapkan di Indonesia yang memiliki keberagaman agama, budaya, dan suku. Ia mengajak masyarakat untuk mengedepankan dialog, saling menghormati, dan semangat persaudaraan dalam menghadapi perbedaan.

Selain itu, ia juga menekankan pentingnya cinta kasih universal atau metta sebagai dasar membangun hubungan harmonis antarmanusia tanpa membedakan latar belakang agama maupun kelompok tertentu.

“Kedamaian tidak lahir dari kebencian atau kekerasan, tetapi dari kesabaran, kebijaksanaan, dan rasa saling menghargai,” katanya.

Menurut Rafian, moderasi beragama menjadi salah satu kunci menjaga stabilitas sosial dan memperkuat persatuan bangsa di tengah tantangan era digital yang kerap diwarnai penyebaran hoaks, ujaran kebencian, serta polarisasi di masyarakat.

Sementara itu, KH. Agus Salim menyampaikan bahwa seluruh agama pada dasarnya mengajarkan nilai kebaikan, kedamaian, dan penghormatan terhadap sesama. Ia mengajak masyarakat untuk tidak mudah terprovokasi informasi yang dapat memicu perpecahan.

Perwakilan tokoh agama Katolik, Romo Reynold Agustinus Sombolayuk, juga menegaskan bahwa keberagaman merupakan kekuatan bangsa yang harus dijaga bersama. Menurutnya, dialog lintas agama menjadi sarana penting untuk membangun saling pengertian dan memperkuat persaudaraan antarumat beragama.

Acara ditutup dengan pembacaan Deklarasi Damai oleh seluruh tokoh lintas agama sebagai bentuk komitmen bersama menjaga kerukunan, menolak intoleransi, serta memperkuat persatuan bangsa di tengah keberagaman masyarakat Indonesia.***

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari radarjakarta.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.