Mengapresiasi arah pembangunan, memperkuat manfaatnya
Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto telah menempatkan hilirisasi sebagai salah satu arah penting pembangunan ekonomi nasional. Peresmian fasilitas pemurnian logam mulia di Gresik dan pembangunan ekosistem baterai kendaraan listrik merupakan contoh konkret upaya memperluas pengolahan sumber daya alam di dalam negeri.
Langkah-langkah tersebut patut diapresiasi sebagai bagian dari ikhtiar memperkuat kemandirian industri Indonesia. Tantangan selanjutnya adalah memastikan rencana investasi benar-benar terealisasi, kapasitas industri berkembang secara kompetitif, dan manfaatnya menjangkau masyarakat secara lebih luas.
Dunia usaha juga perlu mengambil bagian dalam agenda tersebut. Keberhasilan perusahaan tidak harus dipertentangkan dengan kesejahteraan rakyat. Perusahaan membutuhkan kepastian usaha, tenaga kerja yang terampil, infrastruktur yang memadai, serta lingkungan sosial yang kondusif. Masyarakat membutuhkan pekerjaan, kesempatan usaha, lingkungan yang terjaga, dan akses terhadap layanan dasar. Kebijakan yang baik dapat mempertemukan kepentingan-kepentingan itu secara adil.
Pertambangan emas, pengolahan mineral, dan pengembangan industri baterai menunjukkan bahwa sumber daya alam dapat menjadi fondasi pembangunan yang lebih besar. Namun, kekayaan alam baru benar-benar menjadi kekuatan bangsa ketika manfaatnya tidak terkonsentrasi pada satu kelompok, melainkan ikut mendorong kemajuan daerah dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Indonesia tidak cukup hanya menjadi negara yang kaya mineral. Indonesia harus mampu menjadi negara yang mengolah kekayaan itu dengan pengetahuan, teknologi, tata kelola yang baik, dan tanggung jawab sosial.
Dengan arah kebijakan yang konsisten serta kemitraan yang sehat antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat, pertambangan dapat menjadi salah satu jalan untuk membangun ekonomi nasional yang lebih mandiri sekaligus lebih menyejahterakan rakyat.











