Transparansi Jadi Perhatian Peserta
Sejumlah pengurus NU daerah berharap pelaksanaan Muktamar ke-35 tetap menjunjung tinggi prinsip keterbukaan, demokrasi, dan musyawarah.
Mereka menilai transparansi tidak hanya berkaitan dengan apakah sebuah sidang disiarkan secara langsung, tetapi juga menyangkut akses peserta terhadap informasi dan kepastian bahwa seluruh mekanisme berjalan sesuai aturan organisasi.
Terlebih, Sidang Tata Tertib merupakan salah satu tahapan krusial yang akan menentukan bagaimana agenda-agenda berikutnya dijalankan.
Di tengah tingginya perhatian terhadap proses pemilihan Rais Aam dan Ketua Umum PBNU, setiap tahapan yang berkaitan dengan mekanisme Muktamar menjadi perhatian serius peserta dari berbagai wilayah.
Karena itu, sejumlah pengurus berharap tidak ada proses yang menimbulkan kesan tertutup atau memunculkan kecurigaan di kalangan warga Nahdliyin.
Menunggu Penjelasan Resmi
Hingga berita ini ditulis, belum ada penjelasan resmi dari panitia Muktamar maupun pimpinan Komisi Organisasi mengenai alasan Sidang Tata Tertib digelar tertutup tanpa fasilitas monitor streaming dan pengeras suara bagi peserta maupun warga NU yang berada di luar lokasi.
Begitu pula mengenai isu dugaan pengkondisian AHWA, belum terdapat keterangan resmi yang dapat memastikan kebenaran informasi yang berkembang di kalangan sejumlah pengurus NU daerah tersebut.
Situasi ini membuat sejumlah peserta berharap panitia segera memberikan penjelasan secara terbuka agar spekulasi tidak terus berkembang.
Kejelasan mengenai mekanisme Sidang Tatib dan proses penetapan AHWA dinilai penting untuk menjaga kepercayaan peserta terhadap seluruh rangkaian Muktamar ke-35 NU.
Pada akhirnya, sejumlah pengurus berharap forum tertinggi Nahdlatul Ulama tersebut tetap berjalan sesuai tradisi musyawarah, menjunjung demokrasi organisasi, serta menghasilkan keputusan yang dapat diterima dan dipercaya oleh seluruh warga Nahdliyin.











