Tangerang, Radarjakarta.id – Prestasi gemilang kembali ditorehkan oleh kalangan santri Indonesia di kancah olahraga internasional. Muhammad Salim, santri binaan ulama kharismatik Habib Luthfi bin Yahya, sukses mengharumkan nama bangsa melalui cabang olahraga Kurash dengan capaian membanggakan. Jum’at (17/4/2026).
Pada tahun 2024, Muhammad Salim bersama pelatihnya, Subhan Prasandra, berhasil meraih medali perak dalam ajang Kejuaraan Dunia Veteran Kurash yang berlangsung di Ulaanbaatar, Mongolia. Pencapaian ini menjadi bukti nyata bahwa santri Indonesia tidak hanya unggul dalam bidang keagamaan, tetapi juga mampu bersaing secara kompetitif di level global.
Atlet asal Tangerang, Banten tersebut menjalani pembinaan intensif di Perkumpulan Sandro Adityajaya—sebuah pusat pengembangan Kurash yang konsisten melahirkan atlet berprestasi. Di tengah kesibukannya sebagai staf di Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan Republik Indonesia, Salim tetap menunjukkan dedikasi tinggi dalam menjalani latihan dan menjaga performa.
Memasuki tahun 2026, langkah besar kembali terbuka. Muhammad Salim bersama Subhan Prasandra resmi terpilih mewakili Indonesia dalam ajang Asian Games 2026 yang akan digelar di Nagoya, Aichi, Jepang pada September mendatang. Penunjukan ini tertuang dalam Surat Keputusan Ketua Umum Pengurus Besar Federasi Kurash Indonesia (PB Ferkushi), sebagai bentuk apresiasi atas prestasi dan konsistensi mereka.
Sebagai bagian dari persiapan menuju ajang multi-event terbesar di Asia tersebut, Salim tengah menjalani program latihan intensif sekaligus membuka peluang kerja sama sponsorship. Salah satu agenda strategis yang akan diikuti adalah Bangladesh International Open Kurash Championship pada Mei 2026, yang dirancang sebagai ajang uji coba internasional guna mengasah kemampuan tanding.
Pelatih sekaligus Ketua Federasi Kurash Kota Tangerang, Subhan Prasandra, mengakui bahwa perjalanan menuju panggung internasional tidak lepas dari berbagai tantangan, terutama dalam hal pendanaan.
“Persiapan masih kami lakukan secara mandiri. Dukungan dari berbagai pihak sangat kami harapkan agar atlet bisa tampil maksimal membawa nama Indonesia,” ungkapnya.
Usai kejuaraan di Bangladesh, Muhammad Salim dijadwalkan mengikuti pemusatan latihan (training camp) di Tashkent, Uzbekistan selama kurang lebih satu bulan. Program ini difokuskan pada peningkatan teknik, kekuatan fisik, serta ketahanan mental menghadapi kompetisi tingkat Asia.
Dikenal sebagai pribadi disiplin dan pekerja keras, Muhammad Salim berhasil menyeimbangkan perannya sebagai santri, aparatur negara, sekaligus atlet berprestasi. Ia menegaskan bahwa santri memiliki potensi besar untuk berkontribusi di berbagai bidang, termasuk olahraga.
Keberhasilan ini diharapkan menjadi inspirasi bagi generasi muda Indonesia, khususnya kalangan santri, untuk terus mengembangkan potensi diri, berani bersaing, dan mengharumkan nama bangsa di panggung dunia.










