Banyuwangi,Radarjakarta.id— Desa Kradenan, Kecamatan Purwoharjo, Kabupaten Banyuwangi menggelar perayaan Hari Jadi Desa Kradenan yang ke-263. Acara puncaknya berlangsung pada Kamis, 10 September 2026, bertempat di Lapangan Desa Kradenan mulai pukul 19.00 WIB.
Peringatan yang mengusung tema “Bersatu Membangun Desa Menuju Kradenan Maju, Mandiri, dan Sejahtera” ini menjadi momentum penting bagi masyarakat setempat untuk mengenang sejarah berdirinya desa yang telah ada sejak 10 September 1763.
Lahirnya Nama Desa Kradenan dan Tradisi MAHARJAKRA
Raden Mas Purawijaya merupakan keturunan bangsawan terpandang—putra dari Bagus Dalem Prabayeksa (Ki Tulup Watangan), cucu Pangeran Arya Gajah Binarong, serta cicit dari Susuhunan Prabu Tawangalun II (1655–1691).
Pasca-gugurnya Sang Pahlawan, putranya yang bernama Raden Mas Jalasutra beserta keluarga menetap di lokasi pertempuran untuk menjaga Parahyangan/Priangan (makam/petilasan) sang ayah. Wilayah persemayaman tersebut kemudian berkembang menjadi pemukiman bernama Ka-Raden-an (Desa Kradenan).
Kini, setelah 263 tahun berlalu, masyarakat memperingati momentum bersejarah ini melalui MAHARJAKRA (Memperingati Hari Jadi Kradenan). MAHARJAKRA bermakna “Cakra yang Agung”, simbol senjata dewata yang memiliki kekuatan ilahiah untuk memelihara, menjaga, dan melindungi manusia beserta alam semesta, membawa kedamaian dan kesejahteraan bagi Desa Kradenan.
Dalam rangka memperingati Hari Jadi yang ke-263, Pemerintah Desa Kradenan, Kecamatan Purwoharjo, Kabupaten Banyuwangi menggelar serangkaian acara menarik selama beberapa hari. Acara ini merupakan perayaan hari lahir Desa Kradenan yang pertama kali dilaksanakan setelah sebelumnya dilakukan penggalian sejarah yang panjang.
Ketua Panitia Hari Jadi Desa Kradenan (Harkra), Hari Aryono, mengatakan perayaan ini bertujuan untuk mempererat tali silaturahmi antarwarga serta melestarikan budaya lokal. Menurut Hari, penentuan tanggal 10 September 1761 sebagai hari lahir Desa Kradenan telah melalui proses panjang dengan melibatkan tokoh masyarakat, pemuda, dan sejarawan berdasarkan historis yang ada.
“Perayaan ini merupakan yang pertama kali kami laksanakan karena kami baru saja mengadakan Musyawarah Desa (Musdes) untuk penggalian sejarah Desa Kradenan pada akhir tahun 2023 kemarin,” ujar Hari Aryono saat ditemui di sela-sela acara di Lapangan Desa Kradenan, Kamis (10/09/2026).
Hari menjelaskan bahwa serangkaian acara telah dilaksanakan sejak beberapa hari yang lalu, dimulai dengan Parade Budaya yang menampilkan berbagai kesenian tradisional dan pawai kostum unik dari masing-masing dusun di Desa Kradenan. Selain itu, ada juga Pawai Kesenian Pemuda dan Sound Horeg yang diikuti oleh perwakilan dari setiap rukun tetangga (RT).
“Puncak acara dilaksanakan hari ini dengan menggelar Festival UMKM yang melibatkan pelaku usaha lokal di Desa Kradenan. Selain itu, ada juga acara Memengan serta tadi pagi juga telah dilaksanakan Senam Sehat bersama dengan seluruh warga,” tambah Hari.
Kemeriahan perayaan Hari Jadi Desa Kradenan ke-263 ini akan ditutup dengan hiburan rakyat bagi seluruh warga, yaitu Pagelaran Janger Semalam Suntuk yang akan menampilkan beberapa grup Janger ternama di Banyuwangi.
Dengan adanya perayaan ini, Hari Aryono berharap agar ke depannya Desa Kradenan bisa menjadi desa yang lebih baik, lebih kondusif, dan maju dalam berbagai bidang.
“Kami berharap agar perayaan ini bisa menjadi agenda tahunan yang selalu dinanti oleh seluruh warga Desa Kradenan. Semoga ke depan desa kita menjadi desa yang lebih baik, lebih kondusif, dan tidak ada sesuatu hal yang tidak kita inginkan,” pungkas Hari Aryono.
Untuk memeriahkan suasana, pemerintah desa setempat menyajikan serangkaian hiburan dan kegiatan ekonomi warga. Pengunjung yang hadir dapat menikmati Festival UMKM yang menampilkan produk-produk unggulan lokal Desa Kradenan, serta sajian panggung hiburan rakyat berupa kesenian Janger “Kharisma Dewata”.
Acara ini bertempat di lapangan Purawijaya dusun Kopen dan terbuka untuk umum, diharapkan dapat menjadi wadah silaturahmi sekaligus pendorong roda perekonomian serta pelestarian budaya lokal masyarakat Banyuwangi.(her)











