SAROLANGUN, Radarjakarta.id — Bentrokan antara warga Suku Anak Dalam (SAD) dan sejumlah personel TNI pecah di kawasan perkebunan kelapa sawit PT Sari Aditya Loka (SAL), Desa Bukit Suban, Kecamatan Air Hitam, Kabupaten Sarolangun, Jambi, Jumat (28/8/2026) sekitar pukul 11.30 WIB. Peristiwa tersebut kemudian menjadi perhatian publik setelah rekaman keributan beredar luas di media sosial.
Dalam video berdurasi lebih dari dua menit yang beredar, terlihat sejumlah warga yang diduga merupakan warga SAD terlibat keributan dengan beberapa pria berseragam loreng hijau yang diduga personel TNI. Sejumlah anggota TNI tampak berada di tengah kerumunan warga dalam situasi tegang. Rekaman tersebut juga memperlihatkan adanya aksi dorong dan dugaan pemukulan.
Sejumlah laporan menyebut terdapat lima personel TNI yang diduga menjadi sasaran pengeroyokan dalam insiden tersebut. Namun, jumlah korban, kondisi luka, serta identitas seluruh personel yang terlibat masih perlu dikonfirmasi melalui keterangan resmi aparat. Media yang melaporkan kejadian juga mengingatkan bahwa kronologi video yang beredar belum sepenuhnya terverifikasi.
Kericuhan diduga bermula ketika warga SAD berada di kawasan inti perkebunan PT SAL dan membawa tandan buah segar (TBS) yang disebut berasal dari area perkebunan. Personel Yonif 896/Serumpun Pseko yang berada di lokasi untuk pengamanan kemudian melakukan penghentian dan meminta warga meletakkan TBS tersebut. Situasi yang awalnya berupa teguran dan adu mulut kemudian berkembang menjadi keributan fisik.
Versi lain yang beredar menyebut adanya dugaan tindakan pemukulan terhadap warga SAD sebelum terjadi aksi pengeroyokan terhadap personel TNI. Informasi tersebut masih berupa dugaan dan belum dapat dijadikan kesimpulan mengenai pihak yang pertama kali melakukan kekerasan. Media yang melaporkan kejadian menekankan bahwa kronologi lengkap masih menunggu klarifikasi dari pihak TNI, perusahaan, masyarakat SAD, dan aparat penegak hukum.
Peristiwa ini kembali menyoroti persoalan panjang di kawasan perkebunan PT SAL. Konflik antara SAD dan pihak keamanan perusahaan sebelumnya juga pernah terjadi pada April 2026 dan menimbulkan korban luka. Saat itu, polisi menyebut kericuhan berkaitan dengan persoalan TBS serta gesekan antara masyarakat SAD dan pihak keamanan perusahaan.
Pemerintah daerah dan aparat keamanan kini diharapkan segera mengusut insiden tersebut secara objektif, termasuk memastikan kronologi, jumlah korban, serta pihak-pihak yang terlibat. Penanganan yang transparan dinilai penting agar video yang viral di media sosial tidak memicu provokasi maupun konflik lanjutan. Masyarakat juga diimbau tidak mengambil kesimpulan sepihak sebelum keterangan resmi disampaikan.|Kamek Chaniago*











